Takmir Masjid Agung Demak menggelar haul agung Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al-Akbar Sayyidin Panotogomo Ke-510 pada malam hari ini 13 Jumadil Akhir 1434 (23/4). Sebagaimana pada haul yang lalu, tahun ini acara juga digelar di Masjid Agung Demak. Wakil Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA hadir menyampaikan mauidhoh hasanah.

Prosesi diawali dengan arak-arakan tokoh agama se-Jawa dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak menuju makam untuk melaksanakan tahlil. Selanjutnya, setalah tahlil dilaksanakan, rombongan bergerak menuju tempat acara.

Dalam acara itu disampaikan Manaqib Raden Patah. Disebutkan bahwa pada tahun 1479 ia meresmikan Masjid Agung Demak sebagai pusat pemerintahan. Kepada umat beragama lain, sikap Raden Patah sangat toleran. Kuil Sam Poo Kong di Semarang tidak dipaksa kembali menjadi masjid, sebagaimana dulu saat didirikan oleh Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam.
Raden Patah juga tidak mau memerangi umat Hindu dan Buddha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya. Meskipun naskah babad dan serat memberitakan ia menyerang Majapahit, hal itu dilatar-belakangi persaingan politik memperebutkan kekuasaan pulau Jawa, bukan karena sentimen agama. Lagi pula, naskah babad dan serat juga memberitakan kalau pihak Majapahit lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik.

Sultan Raden Abdul Fatah Al Akbar Sayyidin Panotogomo adalah Amirul Mukminin yang alim, adil serta bijaksana. Beliau memegang pemerintahan selama 40 tahun mulai 1478 sampai 1518 M