Dari Kami, yang Sering Kau Sebut ‘Si Miskin’

Salam sejahtera untuk kita semua, terutama untuk Bapak Presiden yang—dilihat dari kantung matanya—nampaknya sudah begitu berpikir dan bekerja keras agar rakyatnya sejahtera dan hidup serba layak. Tak perlu serba cukup, itu terlalu tinggi bagi orang-orang seperti kami—yang sering kau sebut Si Miskin ini.

Panggil kami Si Miskin. Jangan lagi tanyakan hal retoris pada kami semacam apakah kami suka dengan sebutan ini, bahkan bagi sebagian kami ini adalah gelar persembahan presiden yang sangat membanggakan. Setiap nama kami ini disebut, semacam ada gairah baru untuk bekerja lebih gigih dan keras. Kadang kami lupa waktu, lupa makan, lupa istirahat, tapi tenang saja, ada dua hal yang tak pernah kami lupa: yang pertama keluarga dan yang kedua presiden kami sudah barang tentu. Bagaimana dengan Tuhan? Ah, kadang kami ingat bila sedang luang. Gelar—Si Miskin—ini membuat kami begitu sibuk, sejujurnya.

Jika anda bertanya kenapa sedari tadi kami menggunakan kata ‘kami’, tentu karena kami tidak sendiri. Anggota kami kurang lebih ada 28,59juta (BPS 2013), bayangkan bila seluruh anggota kami dikumpulkan dalam satu tempat. Banyak, bukan? Hal lain yang membuat kami amat bangga selain jumlah kami yang banyak ini adalah sistem seleksi yang ketat. Untuk menjadi bagian dari Klub Si Miskin—gelar kehormatan dari presiden—ini maksimal pendapatan perbulan haruslah Rp259,520, lebih dari itu jangan harap anda mendapat gelar kehormatan ini. Lihatlah, betapa spesialnya kami!

Beberapa hari yang lalu, di layar televisi warna 14 inch kreditan di rumah kami, kami melihat sebuah iklan yang menyebut-nyebut nama kami. Siapa yang tidak senang bisa muncul di TV? Ah, kami makin mencintai Pak Presiden. Dalam tayangan yang kami lihat itu disebutkan bahwa APBN negeri yang kami cintai ini sedang deficit, untuk menyelamatkannya harga BBM harus dinaikkan. Sejujurnya kami tak begitu mengerti apa itu APBN, apa itu defisit, dan bagimana hitung-hitungannya bekerja. Yang pasti, kelak bila harga BBM naik, katanya Pak Presiden akan memberi kami uang dengan cuma-cuma. Wahai Pak Presiden, terimalah sembah sujud dari kami sebagai ungkapan terima kasih.

Kini kami sangat antusias menantikan penaikan itu. Sebab jelas penaikan harga BBM akan meningkatkan produktivitas kami, Pak Presiden yang kami hormati pasti senang. Ada beberapa hal yang membuat kami senang dan harus berterima kasih entah dengan cara apa bila Pak Presiden jadi menaikkan harga BBM.

Pertama, jelas harga-harga sembako akan naik—barangkali harga rokok kesukaan kami juga, entahlah, kami tak terlalu mengerti bagaimana caranya harga-harga itu selalu merangkak naik. Hal ini jelas akan membuat kami makin produktif, bekerja makin keras, makin sering lembur dan mengerjakan apa saja untuk membeli sembako-sembako itu. Ah, itu terdengar sangat mulia dan menyenangkan! Semacam jihad barangkali.

Kedua, dengan adanya uang cuma-cuma dari Pak Presiden yang disebut BLSM itu jelas kami akan mengantre panjang dari Sabang sampai Merauke. Ini pasti sangat menyenangkan karena dalam antrian itu kami akan bertemu orang-orang baru, bersentuhan, lalu sesekali saling menginjak. Kami benar-benar tak bisa membayangkannya. Apalagi nilai estetis dari antrian BLSM, pasti indah. Oh iya, sebagian kami sudah punya rencana sebenarnya untuk uang itu, antara lain untuk membeli Handphone model baru yang bisa kami pakai untuk Twitteran, kami berharap bisa menyapa Pak Presiden di sana, karena kami dengar Pak Presiden cukup aktif di Twitter. Sebagian kami lainnya berencana menggunakan uang ini untuk membeli baju lebaran, urusan sembako bisa kami urus belakangan.

Ketiga, dengan penaikan harga BBM ini, jelas akan memperpanjang barisan kami, yang biasa disebut Si Miskin ini. Ada 29,38juta orang anggota Si Hampir Miskin (BPS 2011) yang kelak akan menjadi bagian dari kami. Siapa yang tidak bahagia bisa mendapat jutaan keluarga baru? Ini semua tentu berkat upaya keras Pak Presiden.

Ah, Pak Presiden, setiap peluh dan kerja kerasmu ini, entah bagaimana kami bisa membalasnya.

Tapi ngomong-ngomong, kami juga sering mendengar kabar-kabar tidak sedap yang kami tak mengerti maksudnya, tapi pasti itu tidak benar kan, Pak Presiden? Misal suatu kali kami pernah dengar kabar bahwa Pak Presiden tidak serius dalam mengelola energi, termasuk menyiapkan konversi BBM ke Gas. Di waktu yang lain kami juga mendapat kabar bahwa APBN kita banyak yang tidak jelas kemana muaranya, ah, pasti mereka mengada-ngada. Ada juga kabar tentang penyelundupan BBM bersubsidi untuk industri-industri, bah, mereka pikir kami akan percaya?

Oh iya, beberapa waktu lalu salah satu anak kami yang masih SMP menanyakan hal yang lugu, semoga ini tidak lancang. Dia bertanya: “BBM bersubsidi itu sebenanrnya buat siapa sih? Kalau buat orang Miskin seperti kita kenapa banyak mobil-mobil mewah juga pakai? Lalu kenapa Pak Presiden membiarkan? Kenapa tak dibuat aturan, mereka yang menggunakan BBM bersubsidi hanya mereka yang miskin seperti kami? Tentu beban subsidi menjadi lebih ringan, kan?” Ya, dia bertanya seperti itu. Memang anak-anak selalu sok tahu, ya. Kami percaya Pak Presiden selalu melakukan yang terbaik, dan bekerja sangat keras untuk menjamin kelayakan hidup kami—apapun yang terjadi.

Ucapan terima kasih ini, tentu tak sebanding dengan jasa Pak Presiden dan jajarannya. Tapi tenang saja, Pak, di Pemilu 2014 nanti kami akan memilih Partai Pak Presiden atau siapapun yang Pak Presiden dukung. Kami takkan melupakan jasa Pak Presiden yang telah memberi kami gelar kehormatan Si Miskin ini, terutama tiga jasa besarnya tadi: Membuat kami makin produktif dengan menaikkan harga Sembako, Membuat kami mengantre panjang dari Sabang sampai Merauke untuk BLSM, dan Menambah jumlah anggota kami.

Sekali lagi terima kasih Pak Presiden, terima kasih juga wahai para tokoh Indonesia, juga tak lupa para mahasiswa yang telah mendukung kebijakan mulia penaikan harga BBM ini. Suatu saat izinkan kami membalas kebaikan kalian semua.