Sejarah panjang nan pelik jika kita coba mengulas rasionalisme. Apalagi diberikan embel-embel atau judul-judulan ‘potret utuh rasionalime’. Maraknya pandangan kaum intelektual mempersepsi rasionalisme, membuktikan paradigma ini masih seksi untuk didiskusikan atau dibedah menjadi beberapa tulisan kecil. Ada yang pro membela mati-matian paham ini, ada pula yang kontra mencaci rasionalisme. Dalam bebeberapa literatur ilmiah, rasionalisme sering dipandang sebagai simbol modernitas. Lahirnya paradigma ini menjadi anti-tesa dari bentuk dogamtis pengetahuan gereja di Eropa abad petengahan, namun belakangan penyebutan eropa ‘abad pertengahan’ diganti oleh orang-orang modern sebagai zaman ‘abad kegelapan’ (dark age). Dikatakan sebagai masa kegelapan karena pengetahuan akal dikunci oleh hegemoni dan dominasi yang ditampilkan oleh gereja di masa itu. Paradigma inipun muncul sebagai kemenangan rasio atas gereja. Maka muncullah istilah aufklarung (pencerahan) dan reinasaince (kelahiran kembali) sebagai simbol bangkitnya manusia sebagai individu (rasional) yang bebas berpengatahuan. Di sisi lain paradigma Rasionalisme dipandang sebagai sebuah gagasan yang meragukan kebenaran-kebenaran ajaran (teks) agama. Tokoh-tokoh rasionalisme, dalam beberapa dalil pengetahuannya mencoba menyangsikan teks suci agama sebagai sebuah representasi atas refleksi terhadap dimensi metafisika. Alhasil rasionalisme dikategorikan sebagai cara pandang sesat dalam proses berpengetahuan. Tidak jarang seorang itelektual yang memakai paradigma rasionalisme diklaim sebagai intelektual kafir, Bid’ah. Dari deskripsi tersebut diatas, penulis mencoba melakukan pelacakan akar pengetahuan Rasionalisme dengan melakukan pembedahan inti gagasan setiap tokoh yang menjadi representasi Paradigma Rasionalisme. Tentu saja penulis berangkat dari sebuah asumsi bahwa kesadaran yang hadir
menjelma menjadi pengetahuan tentunya tidak hadir dari ruang kosong, atau tiba-tiba ada begitu saja. Tentunya pengetahuan itu merupakan refleksi dari kondisi dan konteks dari si pemikir. Dalam posisi inilah menjadi penting untuk mendudukan setiap jejaring pengetahuan dengan ragam kenyataan sosial yang silang sengkarut menjamin keberlansungan perkembangan setiap peradaban. Untuk itu mari kita beri sedikit ruang kepada tokoh-tokoh Rasionalisme untuk meparkan gagasannya. Berawal dari.
1. Rene Des Cartes
Masa sebelum Rene Des Cartes (Judulnya Tidak Menarik,….. Gantiki)
Sebelum memaparkan lebih dalam pemikiran Rene Des Cartes, penting untuk menghadirkan gambaran kondisi kehidupan sebelum dan saat Rene Des Cartes hidup. Di abad pertengahan, gereja menampilkan wajah yang mengatur (hampir) segala-galanya, termasuk dalam hal berpengetahuan. ketika orang mencoba menafsirkan realitas, tentunya tidak boleh jauh, apalagi bertentangan dengan tatanan pengetahuan yang dibangun oleh gereja. Artinya rasio dibatasi oleh sejumlah aturan-aturan atau fatwa-fatwa agama, yang melanggarpun tak main-main sanksinya, ada yang dibakar, digantung, atau dibuang keluar dari kota. Satu contoh yang di ambil, saat itu gereja memproduksi pengetahuan bahwa bumi itu dikelilingi oleh matahari, artinya bumi itu diam, dan mataharilah bergerak berputar mengelilingi bumi, klaim ini sifatnya apriori, tak ada bantahan. Tapi ada saintis yang punya pandangan berbeda. Copernicus setelah melakukan penelitian sains, ia menemukan fakta yang ternyata sangat bertolak belakang dengan pandangan gereja. Ia menemukan bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi, tapi bumi yang berputar sesuai porosnya mengelilingi matahari, Teori Helio Centris ini dituangkan di bukunya berjudul “De Revolutionibus“. Temuannya ini tentunya membuat para kaum agamawan resah dan terhina. karena dianggap melawan gereja, ia diseret ke pengadilan. Akhirnya ia pun dijatukan sanksi berat, dibakar di depan umum karena tetap mempertahankan teorinya. Dari satu contoh diatas, dapat memberikan gambaran bahwa pengetahuan yang coba dibangun oleh gereja, bentuknya adalah dogmatis. Segala sesuatu yang ditelurkan oleh gereja adalah mutlak dan apriori, tidak bisa dibantah lagi dengan penjelasan apapun. Artinya rasio berada pada posisi yang ditekan oleh dogmatisme agama. Jadi jangan heran, selama abad pertengahan hampir tidak menemukan tokoh-tokoh saintis yang berpegaruh, karena memang pada dasarnya tertekan oleh keabsolutan agama. Kebebasan berpengeahuan saat itu harus dikubur sedalam-dalamnya. Sama halnya dalam beragama, gereja membuat katagorisasi-katagorisasi dalam hal mencapai ‘Tuhan’, dimana formulasi beragama harus sesuai dengan rancangan lembaga/institusi agama. Keluar dari ‘kategorinya’ digolongkan sebagai orang sesat atau kafir, sedangkan yang menjalankan secara lurus dianggap orang beriman dan bertakwa. Dengan begitu, pengetahuan yang ditampilkan lembaga/institusi agama bentuknya hitam-putih (benar-salah). Acuan alat pembedah antara ‘yang beriman’ dan ‘yang sesat’ adalah kategorisasi-kategorisasi yang dibentuk sesuai dengan tafsiran para pemuka agama, yang sifatnya mutlak tanpa bantahan. Di masanya, penggunaan rasio bepengetahuan dianggap kafir dan menyesatkan. Nah, lewat kategorisasi ini pengetahuan diciptakan dalam bentuk apriori dan dogmatis. Melihat keadaan yang seperti itu, artinya orang eropa dipaksa untuk meyakini seyakin-yakinnya tafsiran gereja. Sesama agama Kristenpun terjadi patologi keagamaan bagi yang ’berkristen’ berbeda dengan fatwa gereja, ia juga digolongkan sesat atau kafir.
Struktur Pengetahuan Gereja Abad Pertengahan :
Point penjelasan
1. Manusia pada posisi ini dianggap seperti domba-domba yang dikawal menuju keselamatan. Di sini, manusia dipandang sebagai kawanan atau kelompok, dan tentunya hanya sebagai objek yang tidak bisa leluasa berpikir. Kalaupun mengharuskan berpikir, harus berpegang pada fatwa gereja atau nasibnya sama seperti si Copernicus.
2. Semua rancangan pengetahuan, di produksi oleh pendeta yang mempunyai otoritas penafsiran, entah melalui penelitian atau tiba-tiba teori lahir dari intuisi para penafsir. Ada beberapa pengetahuan yang sangat bertentangan dengan sains. Misal fatwa gereja bahwa “bumi itu datar”, tidak ada yang bisa menggugat teori ini. Galileo Galilei (1564-1642) pernah menggugat teori ini, ia mencoba mengangkat kembali Faham Helio Centris, Dari sini kemudian, ia beramsusmsi bahwa bumi itu bulat. Teorinyapun dianggap melawan gereja, akhirnya nasibnya sama dengan pendahulunya Copernicus, mati dengan cara yang sama, dibakar!
3. Garis panah panjang berwarna merah menunjukkan batas ruang dunia. Yang berada diwilayah metafisika (non-materil)(Tuhan, malaikat, wahyu) tidak bisa dijangkau oleh indra. Sedangkan yang berada di wilayah fisika adalah dunia materil yang bisa dijangkau oleh indra.
4. Melihat skema di atas, narasi metafisika dibicarakan dengan acuan lembaga agama. Subtansi dijelaskan tidak dengan menggunakan rasio, tapi sudah di rancang oleh sekelompok pemuka agama yang memperoleh legitimasi lembaga agama (gereja). Berarti, gereja menggunaka prinsip kausalitas (sebab-akibat), sebab di ruang metafisika, sedangkan fisika di posisikan sebagai akibat. Hal ini biasa disebut dengan metafisika teologi. Di atas, sedikit gambaran zaman yang sebelum rasionalisme ada. Mari kita persilahkan Rene Des Cartes hadir.
Masa kecil calon ‘bapak modernisme’(kasi judul seksi)
Filsuf ini lahir di La Haye 31 Maret 1596 , salah satu daerah di Perancis. Ibunya Jeanne Brichard, meninggal beberapa hari setelah melahirkan dan bayinya pun dalam kondisi lemah. Sedari kecil wajahnya terlihat pucat dan mengidap penyakit turunan berupa batuk kering, di indikasikan ia mengidap TBC. Si bungsu ini memiliki 2 kakak, 1 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan. Sejak kecil, Rene Des Cartes kecil punya kebiasaan berdiam diri, temannya pun sangat sedikit. Karena kebiasaan ini, ayahnya menjulukinya ‘filsuf’. Pada umur 10 tahun, ia dikirim ke sekolah Jesuit di La Fleche yang merupakan sekolah yang cukuk ternama di eropa. Descartes senang menyepi, tidak mau diganggu dan mengarang tentang topik-topik kesenangannya. Di sekolah ini Descartes belajar logika, etika, metafisik, sejarah dan ilmu pengetahuan sebelum belajar aljabar dan geometri tanpa guru. Sebagai siswa di sekolah La Fleche, rektor sekolah itu, Pastor Charlet, memperhatikan kondisi anak ini yang memilki wajah pucat. pastor ini meyakini ada hubungan antara tubuh dengan pikiran dalam proses pertumbuhan manusia. Untuk itu pastor ini memberikan jatah istimewa kepada si Descartes kecil, yaitu bisa tidur kapanpun dia mau tanpa terpatok jadwal belajar sekolah. Dari sini kemudian terjalin hubungan antara Descartes dan Pastor Charlet, persahabatan antar dua manusia beda generasi. Berawal dari kebijaksanaan rektor sekolahnya, ia pun memiliki kebiasaan tidur melebihi manusia normal, malahan dia punya kebiasaan bangun kesiangan. Dari kebiasaan tidurnya ini ia merefleksi zamannya melalui mimpi, karena tempat tidurlah waktunya dihabiskan saat dia berpikir. Dari sini pula nantinya ia memperoleh metode kesangsian. Jadi, sejarah hidup Rene Descartes adalah sejarah ‘tidur’.
Metode Kesangsian (kasi judul seksi)
Seiring tumbuh dewasanya Descartes, ia kemudian mencoba melakukan kritikan terhadap dogmatisme yang dibangun oleh gereja. Struktur pengetahuan gereja yang mengharuskan melewati alur bentukan gereja, sama sekali menindih rasio dalam ‘mendefenisikan’ metafisika. Descartes mencoba keluar dari alur itu (perhatikan struktur pengetahuan gereja di atas), dalam alur itu, orang merefleksi metafisika yang bentuknya adalah ‘diyakini’ saja. Aturan refleksinya jelas, harus melewati lembaga agama. Berangkat dari ini, Descartes berani menggunakan rasionya untuk meragukan (menyangsikan) dalil kitab suci dan ruang fisika sekaligus. Asumsi dasarnya, ia membuang segala keyakinanya dan meragukan segalanya. Metode ini biasa juga disebut skeptisme, meragukan segala sesuatu untuk menemukan pengetahuan sejati.
1. Metafisika (subtansi) dalam kitab suci
Sudah diterangkan sebagian di atas, bagaimana cara kerja dalil kitab suci yang merefleksi metafisika secara dogmatis. Kaum agamawan mencoba mengajarkan pengetahuan tentang ruang metafisika (missal; surga, neraka, tuhan, dll) yang sumbernya telah diatur oleh pemuka agama. Descartes menganggap hal ini bertentangan dengan rasio manusia, karena pendekatan yang dipakai adalah lewat teks. Nah, Descartes melihat hal ini perlu disangsikan karena secara rasional sangat bertentangan. Pengetahuan yang keluar di kehidupan masyarakat eropa, bersumber dari tafsiran pendeta. Penafsir ini memperoleh pengetahuan dari teks yang didalamnya membahas hal-hal yang baunya bersifat metafisika. Orang disuguhkan dengan penjelasan tentang Tuhan, surga, malaikat, neraka, dan lainnya yang diakses tanpa rasio. “Jika beriman akan masuk surga, jika tidak patuh agama akan masuk neraka”, pendapat ini yang di lemparkan ke masyarakat. Mereka (di)harus(kan) meyakini pendapat ini. Hal-hal tersebut tentunya metafisistik, ketika surga coba diuji sebagai bahan diskusi, mereka dilarang mempertanyakan lebih lanjut, karena sudah tertuang dalam kitab suci. Berangkat dari pola pengetahuan inilah, Descartes menggugat. Misalnya, bahasan tentang surga, mereka dilarang mempertanyakan tentang keberadaannya, karena berada pada wilayah metafisika, tapi ketika para pendeta sendiri mencoba menjelaskan surga, akan terdengar tentang adanya sungai, perempuan cantik, madu, rumah mewah di dalam surga. Nah, yang dipertanyakan Descartes kemudian, “sungai, perempuan cantik, madu, rumah mewah” adalah wilayah metafisika atau justru fisika? Benda-benda inikan dapat ditemukan di kehidupan sehari-hari, berarti benda fisika. Kesimpilannya menjadi sangat ambigu. Mereka dilarang mempertanyakan surga karena di wilayah metafisika, tapi pendeta sendiri dalam menjelaskan surga justru megahadirkan bunyi-bunyian benda-benda fisika. Di sini letak ambiguitas dogmatisme pengatahuan geraja.
2. Panca Indra Sebagai Alat Pengakses Ruang Fisika (Fenomena)
Cara mengakses ruang fisika, tentunya harus lewat indra. Descartes juga menyangsikan posisi indra sebagai alat akses pengetahuan. Menurutnya, kepastian pengetahuan tak akan bisa ditemukan lewat panca indra. Indra diangap terbatas, karena kadang antar indra saling menegasikan. Pensil yang dicelupkan dalam air, lewat mata kita akan berpendapat bahwa pensil itu bentuknya bengkok, tapi setelah diraba ternyata bentuknya sama dengan pensil normal. Artinya pendapat antara mata dan kulit (peraba) memberikan pengetahuan yang berbeda. Contoh lainya lagi, mata melihat aspal dari kejauhan di terik matahari siang hari. Pasti akan terliaht seperti genangan air di atas aspal, ketika di dekati, air itu seperti tiba-tiba hilang. Lagi-lagi mata menipu dalam memberikan kesimpulan pengetahuan. Mari kita coba urai pendapat rene Descartes tentang kesangsian……
“Cogito ergo sum = aku berpikir, maka aku ada.”
Sekarang, kita urai kata-pekata. ‘Aku’ pada posisi ini merupakan subjek sadar. Ia diposisikan sebagai kesadaran Descartes yang berpikir/beragu. ‘Aku’ dilihat sebagai subjek yang sedang memilah-milah segala sesuatu di luar dirinya. Di sini akan kelihatan semangat Descartes yang mencoba keluar dari pengidentifikasian gereja, sebelumnya pendeta yang memandang manusia sebagai gerombolan, pengandaian kitab biasa menggunakan istilah ‘domba-domba yang diselamatkan’. Metode kesangsian Descartes difungsikan sebagai momentum memandang manusia sebagai subjek individu. Dari nalar inilah semangat individualisme mengembang di era modernisasi. Dari kesangsian, menemukan subjek sentral. ‘Berpikir’ maksudnya proses menyangsi atau meragu. Sangsi bagi Descartes, merupakan syarat mutlak mencapai subtansi. Sudah dijelaskan secara detail sebelumnya, bagaimana proses ini menyangsikan semua di luar diri Descartes. Setelah melakukan kesangsian terhadap segala sesuatu maka semuanya menjadi tak ada bagi Descartes, tak ada dalam artian telah diragukan keberadaanya. Hanya satu yang tertinggal dan tak bisa diragukan lagi, siapa lagi kalau bukan ‘aku yang sedang berfikir/menyangsi’ Ada’ menunjukkan bahwa ‘aku’ diposisi eksis, keberadaannya tak dapat disangsikan lagi. ‘Ada’ didapatkan sebagai konsekuensi dari proses sebelumnya (berpikir). Pada posisi ini manusia bisa dikatakan sebagai manusia sempurna, Karena telah berhasil menyangsikan segalanya. Hanya ‘aku’ yang tersisa (menjadi ‘ada’)dari segala kesangsian. Kesadaran rasio adalah elemen terakhir yang tak bisa diragukan lagi kalau ia sedang meragu/menyangsi.
Menjelaskan Rasio Murni Lewat Matematika
Dalam membaca perjalanan filsafat Descartes, jangan pernah coba dipisahkan dengan teorinya di ilmu matematika, ia sendiri mengaku satu-satunya pengetahuan yang pasti dan rasional adalah matematika. Rene Descartes menggunakan matematika menjelaskan cara kerja rasio murni menemukan ‘aku’. Persilahkan untuk memaparkan. Sekarang kita coba gunakan teori aljabar yang sering digunakan Descartes mencari titik kordinat.
Contoh : 2x + 3 = 10 Saya yakin pembaca pasti sudah mengerti dan bisa dengan cepat menyelesaikan soal di atas, yang ingin dicari adalah nilai ‘x’. Tapi tujuan saya mengangkat soal aljabar di atas adalah untuk memahami cara kerja rasio murni Descartes, menarik keluar prinsip-prinsip kerja penyelesaiannya. Terakhir kita coba hubungkan dengan metode kesangsian descartes.
Penyelesaian :
2,3,10 Entitas terketahuai
0 Non entitas
x Entitas belum terketahui
prinsip dasar penyelesaian :
1. Nilai x dicari karena belum terketahui nilainya
2. Proses penyelesaiannya harus dalam bentuk equasi (terdiri dari 2 ruas)
3. Nilai x tidak bisa ditemukan jika bercampur dengan entitas terketahui
4. x harus steril dengan entitas terketahui agar dapat diketahui nilainya
5. cara mensterilkan x, dengan memindahkan entitas terketahui (2,3) di ruas 1 ke ruas 2,
6. setelah x benar-benar steril, pencarian nilai x dapat terketahui.
Sekarang, coba kita hubungkan prinsip ‘mencari nilai x’ dengan rasio murni ‘menemukan aku’…….