Pelacur atau PSK ‘Pekerja Seks Komersil’ terkadang keberadaanya dianggap sebelah mata. Mungkin bagi sebagian orang, profesi PSK adalah amat najis, hina dan kotor manakala ditilik melalui pendekatan agama. Kalau di tinjau dalam kacamata sosial, tentu saja orang yang berprofesi sebagai PSK, keberadaan mereka sama halnya seperti kita, mereka makan nasi, butuh uang, butuh dana pendidikan, butuh biaya beli susu anak, atau butuh uang untuk membiayai kehidupan orang tua di kampungnya.

Ngomong ngomong soal PSK, saya punya pengalaman menarik untuk disimak. Kejadian ini bermula saat saya masih bekerja di salasatu hotel bintang 5 dikota Bogor, sekitar tahun 1997an. Seperti kebiasaan pada umumnya, kegiatan hotel saat malam hari tidak seramai di waktu siang, baik dari jadwal cek in para tamu, agenda meeting, main main ke gerai butik, nyalon or spa, atau cuma sekedar bertamu ke temannya yang kebetulan menginap di hotel tersebut.

Pada Pukul 01.00 tengah malam, kala itu saya sedang duduk duduk di area lobby hotel. Terlihat wanita berpakaian seksi berjalan menuju pintu masuk dengan membawa tas jinjing di tangan. ‘Selamat malam Pak’ wanita itu menyapa saya, “Selamat malam.. Ada yang bisa saya bantu? Sambung saya sambil menghampiri beliau’ biasa lha, budaya greeting atau pelayanan seperti 3S ‘Senyum, Sapa dan Salam’ menjadi keharusan bagi setiap karyawan dalam memperlakukan para tamu yang masuk ke hotel sebagai bentuk pelayanan standar perusahaan.

Sejurus kemudian wanita itu mulai mengambil HP didalam tas untuk mengalihkan perhatian lalu berujar “Saya mau ke kamar Y bertemu dengan orang bernama X bisa? Selanjutnya saya arahkan beliau ke receptiont dan memintanya meninggalkan identitas diri kepada karyawan reception yang incharge dan yang bersangkutan pun berlalu menuju kamar yang dituju. 5 menit berlalu, kemudian terdengar bunyi ketukan slop sepatu menyentuh lantai dengan suara keras dan iramanya sangat cepat, suara itu semakin mendekat… Tiba tiba, Pak pak..!! Tolong saya..”, saya mau di bunuh sama penghuni di kamar X…”!!

Nah loh? Dalam hati saya bagaimana mungkin, seseorang yang menginap di kamar hotel berani membunuh wanita secantik beliau tanpa asal usul yang jelas. Saking penasarannya, kemudian saya membawanya ke tempat yang cukup aman dan jauh dari penglihatan pengunjung. Tidak berselang lama, sosok pria umur 50an dengan suara setengah gugup datang menghampiri saya. Ia bertanya ‘Pak, lihat wanita berpakaian X melintas kesini? Saya jelaskan bahwa selama saya berdiri di area lobby, tidak sempat melihat perempuan yang beliau tanyakan. Lalu saya desak sibapak yang intinya apakah ada masalah dengan wanita yang ia cari?. Sibapak mengeluhkan wanita yang datang ke kamar tempat dimana ia tidur, telah mengambil dompet miliknya. Kejadian ini terjadi saat beliau sedang ke toilet untuk buang air kecil.

Mau tau kelanjutan ceritanya? Selepas mendengar alur cerita versi beliau, segera saya kroscek ke pihak receptionist asal usul pria yang menginap di kamar tersebut. Terlihat dalam layar monitor ternyata si bapak mulai cek in sekitar pukul 22.00 atas nama tamu perorangan. Informasi tambahan menurut laporan security, pria tersebut masuk hotel tanpa menggunakan kendaraan pribadi alias menggunakan taxi.

Kelihatan ada sesuatu yang janggal. Kecurigaan mulai nampak, ketika bapak berperawakan tinggi besar itu berlalu menuju pintu keluar dan langsung menaiki taxi, sementara kunci kamar ia berikan kepada pihak receptionist dan berstatus cek out tidak akan balik lagi. Alih alih saat saya tanya mau kemana, ia mengaku mau mengejar si wanita tadi. Ini cerita nyata, kalaulah saya percaya ucapan sibapak misterius itu, tanpa aling aling mungkin saya langsung menyeret wanita yang dicarinya dan menyerahkan masalah ini kepada pihak berwajib. Tapi saya tidak setega itu.

Saat keadaan mulai terlihat aman, barulah saya confirmasi ulang apakah pengakuan sang tamu hotel tersebut benar adanya? Menurut si wanita, katanya sekitar 3 tahun lalu ia pernah ketemu dan di booking selama dua malam di sebuah hotel elit daerah bogor oleh si pria tadi. Dalam pengakuannya, saat berdua dikamar, sip ria tidak mau berhubungan intim, ia hanya meminta ditemenin ngobrol lalu disiang harinya minta ditemenin jalan jalan ke pusat perbelanjaan mewah dan di iming imingi akan dibelikan HP dan pakaian mahal sesuai maunya perempuan.

Ya, namanya juga PSK, mana mungkin menolak pemberian uang dengan jumlah banyak atau barang mewah sejenis HP, pakaian dan sejenisnya tanpa ia harus melakukan hubungan intim semalaman tho? Ternyata usut punya usut, setelah tiba di lokasi perbelanjaan, si lelaki itu betul betul mengajaknya ke sebuah conter HP. Disanalah niat jahat si pelaku dimulai. Mulanya ia tawari HP keluaran baru dengan harga termahal perlambang hadiah karena bersedia nemenin si pelaku jalan jalan. Kemudian pura pura layaknya seorang pembeli, dia jalankan transaksi tawar menawar dengan penjaga conter HP. Tidak berselang lama, si pria itu meminta penjaga conter memembungkus HP yang di pilih dan membawanya keluar toko dengan dalih akan mengambil uang ke ATM dan si perempuan tadi menjadi jaminannya.

Lima menit berlalu, si lelaki tidak memunculkan batang hidungnya. Hingga tigapuluh menit berselang, mulailah penjaga toko curiga dengan ulah lelaki tadi. Keadaanpun berubah menjadi tegang, si wanita di introgasi oleh pemilik toko dan diminta membayar HP yang dibawa oleh si pria karena sang pemilik toko mengira si wanita tadi adalah istrinya. Alhasil, wanita Pekerja Seks Komersil ini hampir menjadi korban amukan masa. Beruntung pihak kepolisian lebih dulu mengamankannya. Alhmadulilaah, setelah saya mendengar penjelasan, ternyata mata hati ini masih dalam keadaan jernih.

Intinya saya masih di kasih ridho untuk menyelamatkan hidup seorang PSK. Jika difikir ulang, kalau saja waktu itu saya serahkan kepada si lelaki tadi, bisa saja si pelaku dengan keji memperdayanya. Ah…. Sudahlah, hidup ini memang penuh warna, yang pasti saya yakin bahwa Tuhan itu maha penolong kepada setiap hambaNYA, sekalipun terhadap seorang PELACUR.

Akhir cerita, sebelum kami berpisah wanita itu kemudian menyampaikan ucapan terimakasih kepada saya. Ia pun menuturkan bahwa pengalaman yang paling mencekam menjalani karier sebagai PSK adalah saat saat dimana beliau dikerumuni warga dan memaksa dirinya masuk kamar prodeo karena di tipu sang klien. Waktu saya tanya ‘Saat mendekam di kantor polisi berapa lama, dan siapa yang membebaskan??” Sambil berlalu ia menjawab ‘Yang membaskan saya adalah seseorang yang beberapa kesempatan pernah membooking saya dan beliau profesinya sebagai pengacara’…