Mendung, dia memanglah gelap dan terkadang dia juga kelabu. Namun apakah dia kan terus bergelayut sepanjang waktu, sedangkan hujan dalam kandunganya teramat ingin membuncah membasahi pipi bumi. Belum lagi bayu yang terus menyapu di sekitarnya, lambat laut cerah itu akan tersibak memancar.

Aku tau detak nadiku tak selamanya berdenyut, dan akupun tau raut mukaku segera mengeriput. Tak selamanya aku menjadi ganteng, begitu juga dengan tunas-tunas yang tumbuh, tak semuanya mereka menjadi sebatang pohon yang rindang.

Begitulah semua itu terjadi, mereka yang telah pergi takan mungkin kembali. Menjadi bangkai dan mengurai dengan ribuan senyawa di dalam tanah.

Aku dan kamu memanglah berbeda, dan kita sebuah tanda petik yang terkadang menjadi tanya. Sebab perjalanan menuju titik amatlah berliku, melewati banyak spasi juga jeda bernama koma.

Diam tak berarti mati, lihat dan amatilah pepohonan yang tak melangkah sedikitpun. Namun perlahan dia menjadi rindang dan kemudian menjadi lapuk.

Apakah setiap kesedihan harus terus diratapi, sedangkan ceria senantiasa mendampingimu. Buanglah neraka itu jauh-jauh dibenakmu dan siapkan langkah menuju surga di otak kananmu.

Karena kita adalah orang-orang yang berfikir.