sochehsatriabangsa

Bejibun grup-grup diskusi kusambangi. Kurontokkan logika mereka satu-persatu. Tak ada yang mampu mematahkan argumentasiku. Salah dan benar ada di tanganku. Kau berani beradu dan bertaruh kebenaran denganku?

Bagiku mereka semua cuma pecundang. Bertahan dengan dalil-dalil lantas lantang berkumandang. Kemudian kunasehati mereka semua agar kembali ke jalan yang benar. Ke jalan kebaikan. Mereka bicara tentang halal dan haram. Kuledek mereka bahwa kata-kata mereka itu sendiri penuh dengan kalimat-kalimat haram.

Mereka bicara tentang kemusyrikan. Kukatakan pada mereka, keyakinan mereka atas pendapat sendiri itu sesungguhnya bagian dari kemusyrikan. Keyakinan itu hanya diperuntukkan untuk Tuhan bukan untuk yang lain.

Mereka berbusa-busa berteriak tentang pertikaian, konflik dan perselisihan. Kuhardik mereka agar diam. Bukankah kalimat-kalimat mereka sendiri sering memancing pertikaian, konflik dan perselisihan?

Mereka juga berteriak-teriak tentang ketidakadilan sekelompak manusia. Kutempeleng mereka dengan ucapan pedas, apakah engkau sendiri sudah berlaku adil pada sesama manusia yang berlainan denganmu?

Jagoan Kandang

Aku bangga. Dan aku merasa digdaya. Segala forum telah kulampai. Tetapi hatiku gelisah. Karena diriku selalu kalah bila berdebat dengan diri sendiri. Aku selalu gagal bila menasehati diriku sendiri.

Kuhardik diriku manakala mata tiba-tiba terpesona buah dada. Kukatakan padanya untuk menundukkan pandangan. Tetapi mata tetap diam-diam mengintip. Di dalam diriku berkilah, tak ada buah dada yang sesensual itu. Jadi sesekali menikmati, tidaklah apa-apa. Berkali-kali mata mencuri situasi. Dan aku tak berdaya mensiasati.

Aku pun merutuk manakala hatiku menyimpan iri hati dan dengki. Pada hamba-hamba Tuhan yang lain, disebabkan lebih banyak penggemar. Lebih banyak dikomen catatan-catatan tulisannya.

Kumarahi diriku yang pemarah. Suka mudah tersinggung. Tetapi hatiku malah membentak lebih galak. Tanpa amarah kau tak memiliki wibawa. Jadi jangan segan untuk marah-marah. Dan aku mengamini kebenaran kata-katanya. Ya, janganlah terlampau lembut agar kau tak jadi lelembut.