Apa yang terjadi saat ini? Maksud saya, apa yang Anda lakukan sebelum atau setelah membaca tulisan ini nanti?

Anda pasti menulis kan? Mengetik sesuatu. Membuat pesan singkat. Membalas kicauan teman. Merangkai sepenggal komentar. Atau sekedar menekan tombol ‘Suka atau ‘Bagikan’ sambil mengetik tujuh huruf ‘cekidot’. Dari satu aplikasi ke aplikasi berikutnya, yang Anda lakukan hanya menggerakkan jari untuk merangkai kata.

Itulah kita di era media sosial. Menulis bukan lagi jadi satu hal. Tidak masuk ke ranah hobi atau sebuah kegiatan yang lain dari biasa. Menulis adalah pekerjaan yang sangat biasa, lumrah, regular, sangat manusiawi. Sebiasa kita makan, minum, berjalan atau tidur. Bahkan empat aktifitas tadi sering diselingi (dan direcoki) dengan ulah sepasang jempol yang tidak pernah mau berhenti menarik.

Kerjaan: ngetiiiiiiikk mulu!!

Dengan adanya media sosial, interaksi sosial berpindah bentuk. Dari suara jadi teks berpendar. Dari mulut ke jari. Dari mimk dan ekspresi wajah ke emotikon dan stiker. Dari tatap muka ke tatap layar. Kalau biasanya kita harus mendatangi rekan sekantor di sudut meja sana untuk sekedar bertanya, “Udah selesai belum?”, sekarang cukup buka aplikasi Yahoo! Messenger lalu mengetikkan pertanyaan yang sama: “Kerjaannya dah selesai blm?”

Atau kalau mau iseng demi mengikuti gaya anak-anak sekolah, silakan ajukan pertanyaan tadi lewat Twitter, lantas mulailah bercakap-cakap dengan teman itu–yang dari tempat Anda duduk hanya terlihat rambut hitamnya saja. Setelah sekian kali sahut-sahutan, niscaya para pengikut yang mengenali Anda dan teman ngobrol Anda akan mangkel bin dongkol, lalu dengan ketus mengetikkan sebaris kalimat: “Nih orang ngotor-ngotorin te-el gw aje!”

Tapi itu sah-sah saja Anda lakoni. Sekarang Anda tidak perlu khawatir ketika suatu hari lupa gosok gigi. Toh mulut yang bau (wangi ataupun kurang sedap) itu sudah jarang digunakan buat ngomong. Kalau mau berbincang dengan teman, cukup bayangkan kalimat di kepala, lalu tuangkan dalam bentuk tulisan.

Obrolan lewat tulisan tidak hanya berlaku untuk dua atau tiga orang. Pemilik ponsel bahkan bisa berkumpul dengan teman-teman sekampungnya atau teman-teman almamaternya tanpa perlu repot-repot menggelar reuni. Terlalu banyak aplikasi yang menyediakan jasa group-chatting. BBM, Facebook, WhatsApp, Line, Wechat, dan banyak lagi pemain-pemain baru lainnya.

Jadi kalau saya tanya apakah Anda punya hobi menulis, Anda harus jawab dengan pasti: Ya, saya senang menulis.

Tapi jawaban Anda cukup sampai di situ. Kecuali Anda senang membuat karya tulis dalam bentuk artikel utuh atau cerpen atau puisi, Anda hanya sebatas bisa atau senang menulis, tapi bukan penulis. Karena kata-kata yang Anda tulis ditulis hanya untuk menggantikan gerakan lidah dalam menghasilkan kata-kata. Tulisan Anda bukan sebuah karya tulis, tapi tak lebih bentuk lain dari percakapan atau interaksi sosial yang biasa Anda lakukan dengan mulut dan ekspresi wajah.

Kalau pun kemudian Anda menemukan sebuah buku kumpulan kicauan di Twitter, yakinlah bahwa di balik proses penerbitan buku itu ada kerja kreatif yang dilakukan oleh penulis bersama editornya. Kicauan, status, komentar, tidak bisa begitu saja dijadikan karya tulis, karena semua itu ditulis dalam bentuk percakapan, bukan tulisan. Kalau mau menjadi penulis atau memiliki karya tulis, buatlah sebuah tulisan sekian paragraf yang diawali dengan sebaris judul. Lalu jadikan karya tulis tadi sebagai bahan obrolan dalam bentuk kicauan, status maupun komentar.

Saya tidak sedang memotivasi Anda untuk jadi penulis. Tapi kalau setiap detik Anda sudah terbiasa menulis, mengapa tidak mulai membuat sebuah karya tulis. Siapa tahu suatu hari nanti orang-orang di sekitar akan memanggil Anda dengan sebutan: Pulan si Penulis.