Ada satu persamaan yang saya temui dalam diri teman-teman dan anggota keluarga saya yang berstatus janda cerai mati. Persamaan yang membuat saya kagum pada mereka, yaitu keputusan untuk tidak (segera ) menikah lagi, dengan berbagai alasan. Saya tidak bermaksud mengeneralisasikan, namun cukup mengherankan jika setiap janda cerai mati yang saya kenal, seluruhnya tetap mempertahankan status jandanya alias memutuskan tidak menikah lagi.
Memang tidak banyak janda cerai mati yang saya kenal. Tapi seumpamanya mereka adalah sample dari populasi janda cerai yang ada di satu kelurahan saja, itu sudah cukup menggambarkan, bahwa fenomena yang terjadi memang kurang lebih seperti itu, yakni enggan menikah lagi.

Alasannya bermacam-macam. Ada yang merasa sudah tua, sudah tak pantas menikah lagi, ada yang alasannya khawatir suami barunya tidak sebaik suami yang sudah meninggal, ada juga yang khawatir kalau-kalau suami barunya malah menggoda anak gadisnya. Jadi daripada menikah lagi tapi malah jadi stress, mereka lebih memilih melajang, karena lebih bebas, katanya.

Saya punya cerita nih, tentang Ibu saya. Ayah saya meninggal dunia saat ibu saya berumur 50 tahun. Untuk ukuran jaman sekarang, umur 50 tahun itu belum terlalu nenek-nenek lho. Apalagi ibu saya itu memang terlihat awet muda dan berwajah cantik (kalau nggak percaya, lihat saja anaknya, heee … 😀 ). Sekarang usia ibu sudah 76 tahun, dan tetap memilih sendiri. Dulu sewaktu baru 3 tahunan menjada, kami anak-anaknya suka menggoda-goda ibu untuk menikah lagi. Bahkan Kakak laki-laki saya yang tertua sudah secara khusus memberikan persetujuannya jika Ibu bermaksud menikah lagi. Waktu itu kami semua putra-putrinya sudah menikah, jadi maksudnya biar ibu tidak merasa kesepian, karena beliau tidak bersedia diajak tinggal di rumah salah seorang dari kami. Tapi ibu bergeming. Padahal saat itu yang naksir sama ibu saya lumayan banyak. Orang-orangnya keren-keren deh, terpandang, kaya- kaya, meski tua-tua. Tapi tetap saja ibu saya tidak mau. Alasan yang dikemukakan ibu saya cukup membuat saya meleleh. Begini katanya.

1. Kalau menikah lagi, nanti malah ingat terus sama Ayah, sedihnya malah nggak hilang-hilang. Ini alasan yang susah dicerna. Masalahnya, dulu, seingat saya, kalau pas saya ganti pacar, pacar yang sebelumnya langsung terlupakan. Lha ini kok malah tambah ingat ? Ini mungkin yang disebut dengan cinta tak terlupakan.

2. Kalau menikah lagi nanti segalanya dibandingkan dengan Ayah.
Dibandingkan baiknya, kebiasaan-kebiasaannya, dibandingkan cara berbicara dan cara berpikirnya, dibandingkan gesturnya, sayangnya, manjanya, cara tidurnya, cara makan-minumnya, pokoknya segalanya dibanding-bandingkan deh. Sebaliknya itu juga yang akan dirasakan Ibu. Beliau akan merasa suaminya yang baru bakal membanding-bandingkan ibu dengan istrinya yang terdahulu.. Apa enaknya saban hari dibanding-bandingkan dengan seseorang. Lebih baik tak usah menikah saja. Nah ini mungkin yang disebut cinta tak tergantikan.

3. Kalau menikah lagi, males ribet sama keluarga besar suami.
Ibu saya paling males kalau sudah berurusan dengan konflik keluarga. Ibu saya itu cinta damai. Beliau lebih sering memilih diam, menghindar, dan tidak mau ikut campur. Nah, menikah lagi kan artinya ibu harus memasuki keluarga baru dan lingkungan baru dengan kebiasaan-kebiasaan baru pula. Ibu saya tidak mau gambling memasuki keluarga baru yang belum dikenal, kemudian terlibat konflik dengan anak-anak tirinya, umpamanya. Wah mana mau ibu saya seperti itu. Jadi lebih baik tidak menikah saja. Alasan ini saya namakan cinta tak mau ambil resiko

4. Yang ini adalah alasan klasik : sudah merasa nyaman sendirian, tak mau lagi ribet mengurus suami.
Ibu saya, biar sepuh begitu tapi orangnya sangat aktif. Ikut pengajian dimana-mana, ikut organisasi, ikut tur, pokoknya selalu saja ada kesibukannya, disamping kesibukan rutin menginspeksi cucu dan buyutnya yang segambreng. Kata ibu, kalau menikah lagi, mana bisa bebas seperti ini. Kalau punya suami kan kemana-mana harus izin, belum tentu juga diizinkan. Mana di rumah harus melayani lagi dari awal, bikinin kopi, bikinin sarapan, masak, nyiapain baju, nemenin tidur, dll. ” Kalau ngurus Ayah sih mau, tapi kalau ngurus aki-aki yang lain, biar sudah jadi suami, males banget “, begitu kata ibu saya. Jadi sekali lagi, ibu saya memilih tidak menikah lagi, karena urusan teknis. Ini yang disebut cinta tapi males.

5. Itu tadi alasan yang dikemukakan ibu saya. Sementara alasan lainnya, yang saya dapatkan dari obrolan saya dengan ibu- ibu janda yang suaminya meninggal, masih banyak lagi. Contohnya, sulit untuk jatuh cinta lagi, tidak ada yang sayang melebihi kasih sayang mendiang suami, merasa sudah tidak muda dan tidak menarik lagi, dan sebagainya, yang kesemuanya bermuara pada perasaan tak tergantikannya posisi mendiang suami tercinta oleh siapapun juga. Kadang saya suka berpikir, kalau begitu alangkah lebih baiknya kalau saya mati lebih dahulu dari suami, agar saya tidak merasa sedih berkepanjangan. Lagi pula, suami saya kan lumayan keren, jadi kalaupun sudah jadi duda setengah tua, pasti masih banyak perempuan muda yang mau sama dia. Artinya dia nggak akan sedih-sedih amat kalau saya mati duluan.

Tapi kalau saya mendiskusikan masalah ini sama suami, suamiku suka marah, lho ! dan bilang, ” ibu ini sok tau banget. Soal umur mah terserah Allah saja. Lagian belum tentu juga kalau ibu jadi janda bakal sedih berlarut-larut. Palingan baru 3 bulan langsung married lagi …! ”

( hahh ?!! apa dikata ??!! gak mungkin banget lah yaw … )

Nah itulah alasan para ibu yang berstatus janda cerai mati. Memang tidak semuanya seperti itu tentu. Tapi apapun alasannya, mereka adalah perempuan yang kuat, tegar menjalani kehidupan tanpa didampingi suami. Membesarkan dan mendidik putra-putri dengan segala daya, hingga harus mengabaikan kepentingan pribadi. Mereka memang perempuan yang hebat !

Salam sayang,

Iklan