Empat belas tahun sudah kita tidak pernah bertemu. Semenjak perpisahan itu, hampir setahun lebih kita masih berkomunikasi lewat email dan Telepon. Terakhir kuhubungi nomer Hapemu yang kau kirim lewat emailmu namun sudah tidak aktif lagi. Emailku tidak pernah lagi kau belas. Lalu kucari namamu di Friendster, Facebook, Twitter namun tidak kutemukan. Engkau hilang sudah.

Kini aku berada di Kotamu, memenuhi undangan memberikan bimbingan untuk para guru di kotamu memanfaatkan Teknologi Informasi untuk membuat media pembelajaran yang menarik. Sepuluh hari aku dan kawan-kawan mengisi pelatihan itu. Empat belas tahun berlalu hampir tak pernah kuingat lagi dirimu, tapi entah kenapa ketika berada di kotamu tiba-tiba kuteringat padamu dan menaruh harap kita bisa bertemu.

Mengejutkan memang. Ketika aku melihatmu secara tak sengaja duduk paling pojok di barisan paling belakang saat pembukaan kegiatan. Dari depan, dari kursiku aku terus memperhatikanmu. Engkaupun sepertinya juga memperhatikanku dan tampak gelisah. Tak sabar aku ingin mendekat dan menjabat erat tanganmu serta menanyakan kabarmu. Dari jauh kulihat raut wajahmu masih seperti dulu manis, walau engkau sudah tidak muda lagi, umur kita hampir sama. Engkau 39 tahun, sedang aku 40 tahun. Meski begitu gurat-gurat kematangan usia diwajahmu tidak bisa membohongi penglihatanku.

Ketika memberi kata sambutan akupun tidak bisa konsentrasi, mataku selalu mengarah ke tempat kamu duduk. Sesekali engkau tersenyum dengan teman disampingmu mendengar guyonanku di podium. Setelah semua sesi acara, cepat aku menghampirimi ke belakang, engkaupun menunggu menunggu walau tampak malu-malu. Kita berjabat tangan erat. Lalu sepakat melanjutkan pembicaraan ditempat lain, karena tidak nyaman karena masih dikeramaian peserta dan panitia. Satu dua peserta menyalamiku dan mengangguk kepadamu.

Di sebuah cafe tidak jauh dari hotel tempat kegiatan kita diadakan bercerita panjang lebar. Engkau memiliki dua anak yang sudah besar satu SMA satu lagi SLTP. Sedang aku mempunyai tiga anak dua perempuan satu laki-laki namun masih kecil-kecil, dua di SD sedang satu lagi masih tiga tahun. Wajar saja karena kamu ternyata lebih cepat menikah dariku. Memang aku tidak ingin menyinggung lagi kisah asmara kita yang terputus begitu saja. Sepertinya kaupun begitu. Pertemuan pertama kita masih kaku dan sedikit formal.

Hanya saja yang aku tahu, rumahmu ternyata sangat jauh dari kota sehingga mengharuskanmu menginap di hotel seperti peserta lain selama sepuluh hari, entah kenapa aku seneng saja mengetahui itu, artinya waktu untuk kita bisa bertemu akan semakin banyak. Dan entah kebetulan atau tidak, ternyata engkau juga berada di kelas bimbinganku pula. Ah, semakin seringlah aku melihatmu. engkaupun sepertinya juga sangat senang mengetahui itu.

Acara pelatihan berlangsung seperti biasa. Engkau mengikuti dengan serius hanya saja aku terkesan memberi porsi perhatian lebih kepadamu. Tak bosan aku sering-sering mendekat ke tempat dudukmu dan mengajarimu. Sepertinya peserta lainpun menyadari dan ada yang mulai meledeki kita. Karena kepiwaianku membawa suasana semuanya menjadi happy saja. Bagaimanapun diantara peserta di kelas kita, kuakui engkau memang terlihat paling anggun dan manis. Malah yang muda darimupun kalah. Engkau sangat pandai merawat tubuhmu dan lebih modis.

Dua hari berselang kita makin akrab. Sehabis acara, kita diam-diam mencuri waktu berdua keluar menikmati suasana malam di kotamu. Memang ketua panitia kegiatan ini sudah menawarkan mobil atau motornya untuk aku pakai berjalan-jalan. Aku akhirnya memilih motor saja agar lebih leluasa dijalan tidak terjebak macet. Engkau tanpa diminta tak canggung memeluk pinggangku seperti dahulu. Ah, kita sepertinya kita kembali remaja.

Aku hanya bisa tersenyum sendiri bila mengenang masa lalu pacaran kita. Aku yakin engkaupun pasti mengenang hal yang sama. Pacaran Kita memang kelewat bebas waktu itu. Walau begitu aku memang tidak mengambil keperawananmu, walau kesempatan untuk itu selalu ada. Engkaupun pernah tidak menolak, disaat gairah kita begitu memuncak. Di kamar kos mu menjadi saksi dashyatnya cinta kita. Namun, untung saja aku dan kamu tidak lepas kendali. Kita masih bisa menguasai diri. Walau tubuhku dan tubuhmu sudah tidak ada apa-apa lagi.

Kini, kita sudah berumur. Tanggungjawab kita sangat besar, engkau harus menjaga dirimu untuk suamimu dan menghargai anak-anakmu. Akupun juga harus menjaga kepercayaan istri pun anak-anak yang kusayangi. Walau kita semakin hari semakin hangat dan mesra. Kita masih bisa membawa diri. Banyak godaan, engkau bisa saja menyelinap kekamarku karena aku memang sendiri. Sedang tentu aku tak bisa menyelinap ke kamarmu karena kamar peserta diisi dua orang. Atau kita bisa saja mencari hotel lain. Tapi kita selalu menjaga untuk tidak mengulangi masa kelam dulu.

Kegiatan pelatihan tingga sehari lagi. Esok sudah harus penutupan acara. Engkau memeluk erat tubuhku walau aku berkendara tidak dengan kecepatan tinggi. Aku tahu engkau tidak ingin berpisah, setelah kemesraan kita yang lebih seminggu bersama. Engkau curhat panjang lebar tentang rumahtanggamu. Engkaupun mengaku tidak mencintai suami yang dijodohkan denganmu, namun demi anak-anak engkau harus bertahan. Walau aku sedikit sangsi, tidak cinta kok bisa punya anak juga. Walau begitu aku hanya diam dan berupaya empati dengan keluh kesahmu. Sedang aku, berprinsip ini hanya intermezo saja, karena jelas aku sangat mencintai istri dan anak-anakku, wanita sholehah dan anak-anak yang baik dan cerdas yang selalu berdoa untukku dan menunggu kepulanganku.

Aku memang tidak sholeh. Buktinya aku masih hanyut oleh asmara kita. Seperti malam ini membiarkanku bergelayut manja dilenganku dan tanganku yang nakal meremas-remas jemarimu. Panjang lebar sudah kita bicara. Kita akhirnya sampai pada kesimpulan akan melupakan semua cerita ini dan berkomitmen tidak akan melanjutkan kisah ini. Kita berjanji tidak akan saling berhubungan lagi setelah ini. Engkaupun sadar bahwa rumahtangga dan anak-anak adalah nomor satu. Masing-masing kita sudah punya jalan sendiri.

Malam itu malam terakhir. Pintu kamar ku diketuk, ketika aku buka ada kamu didepan pintu. Jam menunjukkan jam sebelas malam. Aku mempersilahkan kamu masuk. Tumben kamu berani. kamu membawa sebuah hadiah untukku baju batik khas kotamu. Kamu duduk di ranjangku. Kamu menyuruhku memakai baju itu. Tanpa canggung aku buka kausku dan mencoba batik itu. Kamu mendekat dan memasangkan kancing-kancing baju itu untukku. Aku mencium keningmu. Kamu tersenyum. “nakal! “katamu.

Malam itu kita tidur bersama. Berpelukan. tidak lebih.

Dipesawat menuju kekotaku. Tak henti aku mengutuki kecerobohanku. Aku tak yakin janji ku tidak akan menghubungimu lagi bisa kupenuhi. Juga kamu, aku yakin engkaupun juga tidak akan bisa. Semua terbukti, setelah keluar dari pesawat, sedang istri dan anak-anakku yang sudah menunggu melambaikan tangan kepadaku. Masuk sms darimu. “Hati-hati ya, say. Miss u”. Cepat kuhapus sms itu dan kumatikan Hapeku. Aku menghela nafas, sangat takut. Istriku mencium tanganku, aku lalu menggendong si kecil yang kemudian memelukku erat, tapi pikiranku selalu ke hape yang kumatikan.

Benar kata pepatah, jangan bermain api

Iklan