Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dalam catatan selama menjadi presiden, Kamis (14/2), kali pertama SBY menerima audiensi PB HMI. Selama ini PB HMI pimpinan Noer Fajriansyah dikenal sangat keras dan tegas mengkritik beberapa kebijakan SBY. Bahkan dalam satu waktu, Fajri yang merupakan simbol organisasi diinjak-injak saat demo di depan Istana Negara.

Sebelum datang ke Istana, Fajri pun menegaskan bahwa HMI tidak mau ikut campur dalam kisruh Demokrat, sebab gerakan HMI netral dan sebaran seniornya ada di semua partai politik.

Sebelum SBY menerima PB HMI Fajri, kediaman Anas di Jalan Teluk Semangka, Duren Sawit, Jakarta Timur, banyak disambangi kader HMI. Beberapa aktivis dan pentolan HMI datang mengunjungi Anas, yang dikatakan sedang sakit flu berat.

Bahkan, sebelumnya juga, HMI yang dipimpin Basri Dodo mendesak SBY agar memecat Jero Wacik. Jero yang merupakan Menteri ESDM, menteri bukan membuat program kesejahteraan bagi rakyat, melainkan justru bermain politik di rumah Demokrat. Keberpihakan HMI Basri pada Anas terlihat jelas dalam sikapnya.

Namun, apakah audiensi ke SBY merupakan bentuk tidak mendukung senior Anas?
HMI bantah audiensi terkait kisruh Demokrat

Pertemuan PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Presiden SBY di Istana Negara menimbulkan spekulasi beragam, terutama terkait dengan posisi Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum.

Secara moral, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) mendukung Anas Urbaningrum yang kini sedang dilanda kemelut Demokrat. Sebab Anas merupakan kader HMI, mantan Ketua Umum PB HMI, dan kini menjabat sebagai Presidium KAHMI.

“Kita mendukung Bang Anas secara moral, tentu selaku adiknya. Dan kita yakin Bang Anas bisa lewati semua dengan baik,” kata Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi PB HMI Ifda Hanum, Kamis, (14/2).

Namun demikian, Ifda memastikan bahwa HMI tidak mau ikut campur dalam hal politik. Sebab HMI harus tetap menjaga independensi, sebagai organisasi mahasiswa dan pengaderan.

Karena itu, Ifda membantah bila audiensi PB HMI pada Presiden SBY di Istana Negara siang ini terkait dengan kisruh Demokrat, apalagi sebagai bentuk sindiran HMI yang tidak lagi berpihak pada Anas. Audiensi HMI ke Istana terkait dengan Kongres HMI yang akan digelar pada 15-20 Maret mendatang.

“HMI organisasi independen. Kita hadir ke Istana untuk berkomunikasi dengan Presiden SBY selaku kepala negara dan kepala pemerintahan, dan kita meminta beliau (SBY) untuk hadir dalam Kongres PB HMI, serta memberi sambutan sebagai kepala negara,” tegas Ifda.

Komentar lain datang dari mantan aktivis HMI. Saat dimintai keterangan bahwa HMI tidak solid berada di belakang Anas sebagai senior HMI, Haris Pertama, mengatakan dirinya tidak percaya jika ada kader HMI yang tidak loyal kepada senior-seniornya.

“Jadi pertemuan PB HMI dan SBY, saya anggap hanya pertemuan silaturahmi biasa saja bukan pertemuan untuk menjatuhkan Anas Urbaningrum,” kata Haris kepada wartawan, Kamis (14/2).

Menurutnya, SBY akan melihat bagaimana kekuatan kader-kader HMI jika memang berani mengusik dan menzalimi para alumni HMI.

“Saya berharap agar semua kader-kader HMI tetap bisa solid dalam sebuah ikatan tali persaudaraan. Jika dengan cara-cara otoriter dan main kayu maka saya memperingatkan,” ungkap Haris yang juga Koordinator Kamerad.

Bahkan, kata Haris, SBY akan berpikir dua kali jika ingin melengserkan Anas Urbaningrum dari kursi Ketua Umum Partai Demokrat.

“Jangan sampai karena tindakan dan perilaku SBY yang kita tahu beliau berasal dari militer akan membuat kebencian masyarakat Indonesia kembali lagi. Cukup sudah di zaman Orde Baru kezaliman dengan cara-cara otoriter ditunjukkan oleh militer,” demikian Haris.
HMI Kalbar bantah siapkan dukungan

Beredar rumors dari sumber yang tak ingin disebut namanya, sejumlah anggota HMI Kalbar akan mendukung Anas. Dukungan tersebut diwujudkan dengan langsung terbang ke Jakarta.

Ketua Badko HMI Kalbar Wahyu Hidayat membantah adanya persiapan dukungan untuk Anas Urbaningrum yang akhir-akhir ini terus dipojokkan. “Tidak ada gerakan untuk mendukung Anas. Kalau memang ada yang mengatasnamakan HMI itu tidak tepat dan melanggar konstitusi yang ada di HMI,” kata Wahyu Hidayat melalui selular kepada Rakyat Kalbar, Kamis (14/2).

Ia menambahkan, jika memberikan dukungan secara moral atas nama pribadi tidak masalah. Tetapi jangan menggunakan HMI atau KAHMI dalam hal tersebut.

“Bagaimanapun kami selaku kader HMI berharap supaya Anas diberikan kekuatan dan bisa menyelesaikan masalahnya. Kami juga meminta jangan sampai masalahnya sengaja untuk dipolitisasi,”