Setelah keanggunan Upacara Waisak di Candi Borobudur sempat ternodai dengan turis dan para fotografer kacangan yang kedatangan mereka di acara keagamaan tersebut sangat mengganggu jalannya ibadah ummat Buddha, Jogja kembali berkabung.

Bobby Yoga, 36 tahun. Punggawa dari Event Organizer Effort Creative dari kota Jogjakarta nekat bunuh diri akibat gencarnya cecaran dan makian yang diterimanya di media sosial gara gara pelaksanaan pagelaran grup Indie Lockstock 2 sedikit terganggu pelaksanaannya.

Sebelumnya sempat dikabarkan bahwa pelaksanaaan pagelaran musik indie ini memang kacau. Banyak nama nama besar seperti Koil, Shaggydog dan beberapa lainnya dikabarkan batal manggung karena konon pihak penyelenggara tak juga kunjung melunasi pembayaran untuk aksi panggung mereka.

Susah, apabila sudah bicara tentang idealisme musik yang bercampur dengan materi. Dengan modal nekat, almarhum Bobby Yoga berusaha mewujudkan sebuah event musik yang sejatinya mempunyai efek cadas. Dia adalah seorang pemimpi. Berusaha mengangkat band band indie lokal Jogja dan menyajikan kepada para penggemar. Sayang beribu sayang. Tekanan yang timbul dari berbagai pihak yang hanya sekedar asal bunyi pun pada akhirnya menyurutkan niatnya.

Bobby Yoga didalam kekalutannya pun pada akhirnya memutuskan untuk menghabisi nyawanya sendiri dengan tragis. Dan Lockstock 2, dunia musik di Indonesia pun berduka.

Salut dan respek dengan keinginannya. Tidak bisa setuju dengan akhirnya. Dan jelas, respek terhadap para band Indie yang terus siap tampil pada dua hari pagelaran tersebut , terlepas dari apapun yang terjadi di balik panggung. Karena ini adalah Indie. Idealisme musik. Tentang bermain musik, kawan dan penggemar.

Bukan semata mata materi. Dan kejadian ini seperti kembali membuka mata. Ada hikmah kepada para musisi dan juga para promotor musik. Seperti kata kata terakhir almarhum Bobby Yoga di media sosial :

” Ini adalah gerakan. Gerakan menuju Tuhan “