1369728006665899637

ILUSTRASI (NN)

Saya paling ngeri jalan kaki atau berkendara dekat-dekat waktu magrib. Bukan apa-apa, sebab para pengendara banyak yang seperti kesetanan, saking ngebut dan buru-buru. Tak heran jika sering terjadi kecelakaan di waktu rawan tersebut.

Maklumlah, salah satu pemicunya, karena waktu magrib sangat mepet bagi orang yang mau melaksanakan ibadah. Makanya para pengendara suka ngebut sejadi-jadinya kalau sudah mendekati waktu magrib. Ada yang pulang dari kantor, ada yang pulang dari urusan, dan entah apa lagi.

Dulu saya juga begitu. Saat itu saya masih kecanduan agama. Kalau sudah dekat-dekat waktu ibadah, apalagi yang rentang waktunya tak panjang, saya akan buru-buru ngebut dengan kendaraan ke tempat ibadah terdekat atau rumah.

Tapi itu dulu. Sekarang, boro-boro. Mau telat ibadah, ya, telat aja. Yang utama di jalan adalah keselamatan. Yang lain nomor ke enam belas, istilah KH Zainuddin MZ (alm).

Saya malah heran dengan orang-orang yang seperti kesetanan tiap mendekati waktu ibadah. Terutama karena takut telat melaksanakan ibadah, sehingga terkesan lebih penting ibadah ketimbang nyawa.

Saya menilai, serba terburu atau grasa-grusu demi mengejar waktu ibadah, merupakan azab. Bukan rahmat. Sebaliknya, layak disebut rahmat bila ibadah dikerjakan dengan tenang, adem, tidak buru-buru, dan mengutamakan keselamatan .

Bekerja di proyek saja harus mengutamakan keselamatan. “Safety first”, kata tulisan peringatan di proyek-proyek. Lah, apalagi ibadah. Adalah azab jika demi ibadah rela mengorbankan nyawa sendiri atau orang lain di jalanan, baik karena ditabrak maupun menabrak.

Penalarannya sangat sederhana. Kode moral utama di jalan raya sudah jelas: Utamakan Keselamatan (Safety First). Bukan yang lain. Mau ibadah boleh-boleh saja, tapi tidak boleh mengorbankan kode moral utama tadi saat di jalan.

Giliran sudah ibadah, nah, baru Tuhan Yang Utama. Yang lain nomor ke enam belas, masih kata KH Zainuddin MZ (alm). Ini konsep ideal. Kenyataannya, hal lain lagi.

Semoga saya terhindar dari azab serba terburu-buru menjelang waktu magrib kelak, bila masih bersua. Pun, keesokan harinya, saat bangun pagi dan memulai aktifitas di awal hari.