Seorang mahasiswa baru mendapatkan tugas dari dosen nya untuk melakukan penelitian lapangan di sebuah desa. Tugas dikumpulkan 2 minggu yang akan datang. Mahasiswa tersebut akhirnya merencanakan melakukan penelitian di sebuah desa di pelosok Yogyakarta. Katakanlah nama desa itu desa sembungan.

Setelah membuat surat pengantar penelitian dari fakultas dan jurusan, sang mahasiswa dengan mantap menuju desa sembungan berbekal buku, pulpen, dan handphone untuk merekam wawancara. Hampir 2 jam perjalanan ia tempuh melalui sepeda motor. Dan ia tak menyangka, ternyata desa yang ia teliti merupakan desa yang terpencil . nuansa hutan sangat kental disana, anjing-anjing berkeliaran laksana tak bertuan. Ia menjadi cemas ketakutan.

Sang mahasiswa mencari seseorang untuk di tanyai letak rumah kepala desa. Lama dia Berkeliling-keliling desa akhirnya ketemu lah rumah kepala desa tersebut. Di ketuklah pintu rumah kepala desa. Berkali-kali. tak ada jawaban. Sampai ketukan kelima , barulah pintu tersebut bergerak. Dan bukan kepala desa yang keluar. Tapi puluhan anjing langsung menyergapnya dengan gonggongan. Sang mahasiswa ketakutan. Ia lari tunggang langgang seperti bertemu hantu yang ingin memakannya. Ternyata di belakang anjing-anjing tersebut nampaklah seorang kepala desa. Kepala desa yang masih di kelilingi anjing-anjingnya heran melihat seorang yang mengetuk pintu itu lari.

Kepala desa(KD) : HAI NAK, KENAPA KAU LARI? ADA APA MENGETUK PINTU KU?

Mahasiswa (M) : maaf pak, saya seorang mahasiswa yang ingin mewawancarai kepala desa. Apakah benar bapak kepala desa? Bisa kah bapak menyingkirkan anjing-anjing itu?

KD: iya saya kepala desa sembungan? Ada apa dengan anjing-anjing ini? Kenapa kau takut? Jika kamu mahasiswa , bukankah anjing itu sama seperti dirimu?

M: hah? Maksud bapak apa menyamakan mahasiswa dengan seekor anjing?

KD: hahahaha (tertawa terbahak-bahak) cobalah kamu mendekat kesini. Hiraukan gonggongan anjing-anjing ini, nanti kamu juga akan tau jawabannya.

Sang mahasiswa mendengarkan perintah bapak kepala desa. Ia mendekat dengan penuh ketakutan dan kehati-hatian. Gonggongan anjing masih terus menyalak, membuat nyali menjadi ciut. Namun begitu sang mahasiswa terus berjalan mendekat perlahan. Ia penasaran dengan pernyataan kepala desa tadi.

M: fyuh, mengerikan sekali anjing- anjing bapak. Untung saya tidak di gigit. Bisa jauhkan anjing-anjing itu dari sini pak?

KD: anjing- anjing itu tidak mengerikan apa yang ada di bayangan kamu. Nih lihat!

Sang kepala desa melemparkan tulang belulang menjauh dari tempatnya berada.puluhan Anjing yang dari tadi mengonggong berhenti meyalak dan mengejar tulang belulang itu. Sang kepala desa terus melemparkan tulang belulang yang banyak untuk di makan sang anjing. Anjing-anjing itu pun sibuk makan dan tidak mengongong lagi.

M : maksudnya apa pak? Terus kenapa anjing-anjing itu disamakan dengan para mahasiswa?

KD : begini nak, gonggongan-gonggongan anjing-anjing itu sama saja dengan teriakan-teriakan mahasiswa di jalanan sana. Mereka berteriak, membuat bising. Mungkin orang yang baru pertama kali melihat aksi itu menjadi takut. Sama halnya dengan kamu takut dengan anjing-anjing ini bukan?

Tapi yakinlah, gonggongan anjing-anjing ini tidak akan memberikan efek apa-apa kepada mu, hanya memberikan takut pada kamu yang pertama melihatnya. Jika kamu terbiasa, gonggongan anjing bisa memberikan manfaat atau membuat mu jengkel. Seperti mahasiswa yang saya bilang tadi. Awal berdemo mungkin pemerintah akan takut. Tapi tetap saja tidak signifikan memberikan efek perubahan. Nah sekarang demo sudah semakin sering, menganggu, banyak yang tidak suka. Maka ia memberikan manfaat dan kejelekan.

M: apa itu pa manfaat dan kejelekannya.?

KD: hmm.. anjing ini kadang mengganggu saya saat ingin istirahat, ia selalu menggongong tak jelas. Entah lapar, entah ada sesuatu. Saya sangat sebel sama dia. Tapi kadang ia membantu dan bermanfaat bagi saya. Lihatlah ketika kamu datang tadi. Ketika ada orang asing, si anjing memberikan informasi melalui gonggongannya. Maka saya tahu ada seseorang disana. Tapi mereka lebih sering mengonggong tidak jelas. Sama dengan mahasiswa yang lebih banyak demonstrasi tidak jelas, tidak memberikan efek apa-apa terhadap kebijakan, jika demonstrasi tidak terencana, strategi yang bagus dan hanya ceremony semata. Karena para penguasa sana terlalu bosan dan jenuh melihat aksi mahasiswa yang bagai gonggongan anjing. Awal menakutkan, namun jika sudah biasa, anggaplah bisingan semata. Tapi terkadang demonstrasi mahasiswa memberikan suatu informasi kepada kita. Membantu kita menolak lupa dosa para pemimpin Negara ini.

M: bener juga sih pak. Nah, terus tadi maksud bapak menyuruh saya melihat anjing-anjing bapak yang di beri makan?

KD: hahaha. Saya mengasumsikan anjing-anjing itu terus mengonggong karena lapar. Ketika saya melemparkan tulang belulang. Diamlah dia. Jika itu di lakukan rutin, maka anjing anjing itu akan jinak , nurut sama kita. Sama dengan mahasiswa, jika ideologisasi kampus berhasil, maka mahasiswa merupakan sebuah makhluk yang sangat mengerikan. Kekritisannya membuat penguasa gemetar, teriakan revolusi nya membuat masyarakat seperti punya pelindung. Tapi sayangnya, penguasa tidak bodoh, mereka tahu, mahasiswa itu lapar, di kasih lah makanan berupa uang. Pengusaha-pengusaha juga sama. Uang itu banyak rupanya, di berikan melalui beasiswa maupun uang letih. Lihatlah mereka yang menerimanya tidak ada yang bersuara. Mereka diam, bahkan membela si pemberi uang. Dan sayangnya ideologisasi kampus tidak ada. Sehingga mahasiswa sedang asik dengan makanannya, seperti anjing disana.

Kamu mahasiswa semester berapa?

M: saya mahasiswa baru pak

KD: kamu masih baru, semoga analogi yang saya berikan bisa kamu jadikan sebuah pelajaran. Jadikan kampus sebagai pembentukan ideology kamu. Sehingga kamu bukan lah seeokor anjing yang bertuan. Jika kamu ingin membela kami (masyarakat) , gunakan lah akal cerdas dan kekritisan mu itu, karena itulah yang membedakanmu dengan anjing-anjing ini. Yakinlah penguasa itu cerdik, maka bergeraklah dengan jauh lebih cerdik.

Iklan