o. ©2012 Merdeka.com

 

 

Sabtu dua pekan lalu selepas azan isya. Marlan, 49 tahun, baru saja sampai di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jalan Lenteng Agung Raya Nomor 99, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Nahas. Saat terlelap di bangku pos Satuan Tugas PDI Perjuangan di samping kiri pintu masuk kantor, dua lelaki berbadan tegap memukul dahinya. Dalam kondisi setengah sadar, dia mencoba bangun. Namun sebuah tendangan langsung bersarang di ulu hatinya hingga dia jatuh. “Ada tiga orang keroyok saya, dua memukul, satu menendang,” kata Marlan kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.

Rekan Marlan, berlari ke dalam kantor DPP menghindari keroyokan. Dua pria mengejar Priyo, tapi berhasil dihadang oleh ajudan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri berpangkat Kapten.

Saat ditanya, kedua anggota TNI itu mengaku dari kesatuan Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia. Ketika dimintai kartu anggota, dua lelaki bernama Prajurit Kepala Juwadi dan Prajurit Dua Rahmat gelagapan. Rupanya mereka anggota Batalion Zeni Kontruksi 13, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Marlan baru mengetahui keduanya anggota TNI saat dipanggil masuk ke dalam kantor. Dalam kondisi melamun dan merasakan sakit di ulu hati, dia diminta bercerita. “Saya pulang dari Gunung Sahari anter dokumen, saya benar-benar nggak tahu apa yang terjadi,” ujarnya. Priyo juga babak belur.

Satu anggota satgas menolak ditulis identitasnya mengungkapkan peritiwa itu buntut dari senggolan sepeda motor di depan kantor partai berlambang Banteng ini antara seorang pemuda dan satu tentara asal Batalion Zeni Konstruksi. Dua pengendara itu terlibat baku hantam dan kemudian dilerai oleh seseorang dari dalam kantor DPP PDIP.

Saat dilerai, emosi anggota TNI itu tersulut. Terjadi adu mulut dengan orang yang berusaha memisahkan perkelahian. Dia lantas menghubungi kawan-kawannya lewat telepon seluler meminta mereka datang.

Sepeempat jam kemudian, sekitar sepuluh orang berbadan tegap berpakaian bebas mendatangi kantor DPP PDIP menggunakan mobil. Empat orang masuk ke dalam kantor menuju pos penjagaan dan menghakimi tiga orang di dalam. Anggota TNI berkilah tidak mengetahui kantor mereka masuki adalah markas partai.

Sekertaris Jenderal DPP PDIP Tjahjo Kumolo mengatakan pihaknya menyita satu sangkur. “Kasusnya diserahkan ke Denpom (Detasemen Polisi Militer),” katanya.

Polisi menjelaskan Supriatna harus menerima lima jahitan akibat dipukul sangkur. Sedangkan Priyadi alias Priyo dan Marlan luka memar di wajah dan perut.

Menurut pengamat militer Muhadjir Effendi, anggota TNI sudah salah kaprah mempraktekkan jiwa korsa. Ini akibat longgarnya hirarki komando sehingga anggota sudah berani bertindak meski tanpa perintah dan berkoordinasi dengan atasan.

“Mungkin latihannya harus dihidupkan kembali karena selama ini TNI tidak ada tantangan dari perang, TNI tidak ada musuh. Itu yang membuat tidak ada militansi, semangatnya beralih ke solidaritas dan kedekatan sesama tentara,” tuturnya.

Komandan Yonzikon 13 Letnan Kolonel Hari Darniko tidak bisa ditemui di kantornya. “Kami tidak bisa memberikan keterangan, mohon kerja samanya,” kata seorang anggota provost menyambut merdeka.com di pintu masuk markas.

Sabtu dua pekan lalu selepas azan isya. Marlan, 49 tahun, baru saja sampai di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jalan Lenteng Agung Raya Nomor 99, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Nahas. Saat terlelap di bangku pos Satuan Tugas PDI Perjuangan di samping kiri pintu masuk kantor, dua lelaki berbadan tegap memukul dahinya. Dalam kondisi setengah sadar, dia mencoba bangun. Namun sebuah tendangan langsung bersarang di ulu hatinya hingga dia jatuh. “Ada tiga orang keroyok saya, dua memukul, satu menendang,” kata Marlan kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu.

Rekan Marlan, berlari ke dalam kantor DPP menghindari keroyokan. Dua pria mengejar Priyo, tapi berhasil dihadang oleh ajudan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputeri berpangkat Kapten.

Saat ditanya, kedua anggota TNI itu mengaku dari kesatuan Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia. Ketika dimintai kartu anggota, dua lelaki bernama Prajurit Kepala Juwadi dan Prajurit Dua Rahmat gelagapan. Rupanya mereka anggota Batalion Zeni Kontruksi 13, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Marlan baru mengetahui keduanya anggota TNI saat dipanggil masuk ke dalam kantor. Dalam kondisi melamun dan merasakan sakit di ulu hati, dia diminta bercerita. “Saya pulang dari Gunung Sahari anter dokumen, saya benar-benar nggak tahu apa yang terjadi,” ujarnya. Priyo juga babak belur.

Satu anggota satgas menolak ditulis identitasnya mengungkapkan peritiwa itu buntut dari senggolan sepeda motor di depan kantor partai berlambang Banteng ini antara seorang pemuda dan satu tentara asal Batalion Zeni Konstruksi. Dua pengendara itu terlibat baku hantam dan kemudian dilerai oleh seseorang dari dalam kantor DPP PDIP.

Saat dilerai, emosi anggota TNI itu tersulut. Terjadi adu mulut dengan orang yang berusaha memisahkan perkelahian. Dia lantas menghubungi kawan-kawannya lewat telepon seluler meminta mereka datang.

Sepeempat jam kemudian, sekitar sepuluh orang berbadan tegap berpakaian bebas mendatangi kantor DPP PDIP menggunakan mobil. Empat orang masuk ke dalam kantor menuju pos penjagaan dan menghakimi tiga orang di dalam. Anggota TNI berkilah tidak mengetahui kantor mereka masuki adalah markas partai.

Sekertaris Jenderal DPP PDIP Tjahjo Kumolo mengatakan pihaknya menyita satu sangkur. “Kasusnya diserahkan ke Denpom (Detasemen Polisi Militer),” katanya.

Polisi menjelaskan Supriatna harus menerima lima jahitan akibat dipukul sangkur. Sedangkan Priyadi alias Priyo dan Marlan luka memar di wajah dan perut.

Menurut pengamat militer Muhadjir Effendi, anggota TNI sudah salah kaprah mempraktekkan jiwa korsa. Ini akibat longgarnya hirarki komando sehingga anggota sudah berani bertindak meski tanpa perintah dan berkoordinasi dengan atasan.

“Mungkin latihannya harus dihidupkan kembali karena selama ini TNI tidak ada tantangan dari perang, TNI tidak ada musuh. Itu yang membuat tidak ada militansi, semangatnya beralih ke solidaritas dan kedekatan sesama tentara,” tuturnya.

Komandan Yonzikon 13 Letnan Kolonel Hari Darniko tidak bisa ditemui di kantornya. “Kami tidak bisa memberikan keterangan, mohon kerja samanya,” kata seorang anggota provost menyambut merdeka.com di pintu masuk markas.