Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dewan Pers Bidang Penegakan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) Wina Armada Sukardi Kode Etik Jurnalistik merupakan mahkota yang harus dijunjung tinggi oleh wartawan Indonesia.
“Kalau bukan wartawan yang menjunjung tinggi, siapa lagi? Kalau tidak dihargai namanya ‘kebangetan’,” kata Anggota Dewan Pers Bidang Penegakan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) Wina Armada Sukardi pada seminar yang bertajuk “Kode Etik Jurnalistik dan Penggunaan Bahasa Dalam Pemberitaan Media”, Kamis (14/3).
Wina menegaskan wartawan yang tidak menjunjung tinggi KEJ sama dengan menginjak-injak Undang-Undang Nomor No 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
“Apalagi sampai melanggar etika, dia tidak pantas menyandang profesi kewartawanan,” katanya. Berdasarkan penelitian yang Wina lakukan sebelum 1997, wartawan di daerah Jakarta yang taat pada KEJ hanya 17-20 persen.
Tetapi, persentase tersebut meningkat setelah dilakukan penelitian kembali oleh Dewan Pers pada 2007 yakni 19 persen dan 49 persen pada 2010.
Namun, dia mengatakan sampai saat ini banyak yang belum paham dengan kode etik jurnalistik. “Banyak wartawan yang mempertanyakan keberadaan kode etik jurnalistik,” katanya.
Wina menjelaskan prinsip kode etik berbeda dengan hukum karena tidak ada sanksi hukum, tetapi sanksi moral.
“KEJ ini dibuat dari dan untuk para wartawan. Kalau hukum berlaku bagi semua orang, sementara KEJ hanya untuk wartawan saja,” ujarnya.
Dia juga mengimbau insan media untuk memakai kata-kata yang tidak melanggar KEJ. “Jangan sampai wartawan ini menjadi teroris, artinya hanya menimbulkan kekacauan lewat pemberitaan,” ujar dia.
Selain itu, dia juga mengingatkan untuk tidak menyampaikan opini yang menghakimi dengan kata-kata yang kasar.

Menimbulkan Penafsiran Berbeda
Hal sama juga disampaikan Sekretaris Menteri Politik Hukum dan Keamanan Letjen TNI Langgeng Sulistyo yang mengimbau KEJ perlu diaktualisasikan. “Peraturan KEJ itu bukan mengikat tapi melindungi,” tegasnya.
Langgeng menjelaskan KEJ merupakan regulasi yang memberikan kesempatan yang baik bagi perkembangan kebebasan pers.
“Wartawan juga harus menulis berita yang berkualitas, kalau tidak beritanya akan ditinggalkan,” katanya.
Namun, dia mengatakan meski sudah menggunakan bahasa yang baik dan benar tetapi tetap masih menimbulkan penafsiran yang berbeda. “KEJ ini janji moral atau pakta integritas pers untuk meningkatkan martabat pers itu sendiri,” tegasnya.
Namun, dia mengatakan banyak faktor yang mendorong wartawan mengabaikan KEJ, salah satunya usia yang belum memahami apa arti KEJ tersebut.

Iklan