Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Presiden bem ” Desa Tlogoweru telah menangkarkan dan mengembangkan burung hantu di areal persawahan dan kandang penangkaran. Tujuannya adalah mengurangi kerusakan padi dan jagung dari serangan tikus.

Pemerintah Kabupaten Demak perlu mengembangkannya lebih lanjut, dan menjadikan desa itu sebagai kawasan desa wisata burung hantu. “Desa itu tidak hanya menjadi rujukan studi mengatasi serangan hama tikus, tetapi juga tempat rekreasi alternatif,” kata Bibit.

Secara terpisah, penggagas penangkaran dan pengembangbiakan burung hantu Tyto alba Desa Tlogoweru, Pujo Arto, menyambut baik rencana pencanangan Desa Tlogoweru sebagai desa wisata dan studi burung hantu.

Namun, pengembangan itu perlu diikuti dengan penambahan fasilitas, seperti balai pertemuan atau penyuluhan, rumah burung hantu permanen, dan fasilitas teknologi informasi.

“Selama ini fasilitas-fasilitas itu masih swadaya warga, dan bantuan pihak ketiga. Pemerintah belum pernah memberikan bantuan terhadap pengembangan burung hantu,” kata Pujo.

Tutor Tim Tyto alba Desa Tlogoweru, Sumanto, menambahkan, sejak pertengahan 2011, warga Tlogoweru telah melepas 400 burung hantu. Saat ini terdapat 150 ekor anak burung hantu tersebar di rumah-rumah burung hantu di areal persawahan.