3103umspengusaha hancurkan hutan…
pengusaha menjual tanah,pulau…
pengusaha monopoli menjual SDA indonesia
penggusaha menjual TKI keluar negeri..
penggusaha memberikan pelajaran kolusi para birokrat pemerintah,tokoh2 adat,masyarakat dan ulama setempat.
pengusaha bukan orang asli indonesia,melainkan orang asing yang tak mempunyai rasa nasionalisme dan mementingkan anak cucu kita besok….
penggusaha bisa membeli indonesia,, dan kenapa bangsa lain merendahkan indonesia, karena disini semuanya bisa di beli termasuk pasal dan aturan..

iga tahun lalu, saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Menulis Cerpen Berdasarkan Referensi Tertentu”. Ini sebenarnya artikel bertema kepenulisan. Tapi hari ini, saya ingin membahasnya lagi dari sudut pandang yang berbeda: Dunia Entrepreneur
Untuk jelasnya, coba Anda simak kutipan tulisan tersebut di bawah ini:
Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Kisahnya diawali dengan keputusan si pemuda untuk keluar dari perusahaannya dan berwiraswasta dengan berjualan tikar tradisional. Tikar tersebut ia buat sendiri, lalu dijual di perbatasan.
Tragisnya, produknya ini tidak laku, hanya gara-gara ia berkata jujur, “Tikar ini buatan saya sendiri”. Ternyata, para pembeli beranggapan bahwa tikar tersebut haruslah buatan daerah tertentu di Malaysia. Jika dibuat oleh orang Indonesia, maka dianggap tidak asli.
Si pemuda pun mencoba menjual produknya ini di Indonesia, tapi ternyata prospeknya tidak begitu cerah. ia pun kecewa dan prihatin. Ia telah bertekad untuk lebih mencintai negerinya. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa hal-hal yang berbau Malaysia lebih disukai oleh masyarakat Indonesia di perbatasan tersebut. Terlebih, mata uang ringgit lebih disukai daripada rupiah. Hal-hal yang berbau Indonesia hanya mereka “nikmati” saat upacara bendera di sekolah.
Walau ini adalah cerpen yang notabene hanya kisah fiktif, tapi ide ceritanya berasal dari kisah nyata. Herti, si penulis cerpen tersebut, pernah bercerita pada saya bahwa cerpen ini ditulis setelah dia membaca artikel di sebuah majalah tentang fenomena kehidupan masyarakat di perbatasan Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia.
Karena sudah ditulis sejak tiga tahun lalu, sebenarnya saya tak begitu perhatian lagi terhadap cerpen tersebut. Tapi hari ini, tiba-tiba saya tergerak untuk membahasnya lagi.
Gara-garanya, beberapa hari lalu saya bertemu dengan seorang perempuan yang masih muda, dia pengusaha kue kering yang sudah sukses dari Bandung. Kami sebenarnya berbincang soal rencana dia untuk menerbitkan buku. Tapi di sela-sela pembicaraan, si teman ini bercerita tentang salah satu pengalaman dia ketika berkunjung ke Jepang.
“Masa orang Jepang itu bilang, your cake is too fancy for Indonesia. Kalau ini buatan Malaysia atau Singapore, saya mau beli. Tapi karena buatan Indonesia, maaf saya tak mau beli. Saya sarankan pada Anda, ubah saja label ‘made in Indonesia’ di produk Anda ini menjadi “made in Malaysia’ atau ‘made in Singapore’. Dijamin lebih laris. Anda akan mendapat profit yang jauh lebih besar.”
Si teman ini terlihat emosi ketika menceritakan pengalaman di atas. “Kalau saya hanya memikirkan uang sih, saran dia itu akan segera saya ikuti. Tapi saya masih punya jiwa nasionalisme. Hati saya terasa sangat sakit ketika dia mengucapkan kalimat itu. Sedemikian rendahkah citra Indonesia di mata dunia luar?”
* * *
Dua kisah di atas membuat saya mikir-mikir. Saat ini, sebagai sebagai entrepreneur, hal-hal seperti di atas belum pernah saya alami. Saya juga punya banyak teman pengusaha di Komunitas Tangan Di Atas. Banyak di antara mereka yang sudah sukses ‘melebarkan sayap’ sampai ke luar negeri.
Pak A.R. Hantiar misalnya, pernah menceritakan salah satu pengalaman menariknya ketika ia berkunjung ke sebuah negara Eropa. Ternyata, masyarakat di sana menganggap bahwa penduduk Indonesia adalah orang-orang yang sangat religius. Intinya, citra Indonesia di mata mereka sangat positif.
Jadi, mungkin tidak semua orang luar negeri memandang Indonesia secara under estimate. Mungkin banyak juga produk kita yang tetap laku di luar negeri, walau diberi label ‘made in Indonesia’.
Tapi terlepas dari apapun, saya berpendapat bahwa kedua kisah di atas merupakan salah satu fakta yang perlu kita cermati dengan serius.
Pertanyaannya adalah:
Mengapa banyak orang luar yang memandang Indonesia dengan rendah seperti itu?
Menurut saya:
1. Karena kita adalah bangsa yang tidak percaya diri. Kita lebih senang menggunakan produk-produk luar daripada produk kita sendiri.
Ketika Malaysia mengklaim Tari Pendet sebagai budaya mereka, barulah kita kebakaran jenggot. Tapi sebelumnya, apakah kita sudah serius dalam memelihara dan mengembangkan tarian dari Bali ini agar ia tetap lestari dan dicintai oleh generasi muda kita?
Maaf, saya tak terlalu yakin
Terlepas siapapun Megawati Soekarno Putri, terlepas dari fakta bahwa saya BUKAN salah seorang pengagum dia, terus terus terang saya sangat setuju pada ucapannya dalam acara Capres Bicara di Trans TV beberapa bulan lalu. Saat itu, Megawati menyatakan prihatin terhadap remaja Indonesia yang lebih menyukai lagu dan tari-tarian dari Barat ketimbang lagu dan tari-tarian asli Indonesia.
2. Karena mental bangsa kita sudah bobrok. Ingatlah kasus KPK, Cicak vs Buaya. Saya tak perlu bercerita panjang lebar. Anda pasti lebih tahu
3. Karena sumber alam kita yang seharusnya dikelola oleh negara (bahkan sudah diatur secara sangat jelas dalam UUD 45), eh.. malah diserahkan kepada pihak asing. Coba hitung, sudah berapa banyak BUMN kita yang dijual ke luar negeri. Sudah berapa banyak sumber alam kita yang menjadi milik asing?
KETIGA POIN di atas – menurut saya – merupakan faktor utama yang menyebabkan banyak orang luar negeri yang memandang rendah terhadap negeri kita.
* * *
Saya jadi ingat cerita tentang Republik Rakyat China (RRC). Dulu, mereka adalah negeri yang biasa-biasa saja. Ketika bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa internasional nomor satu di dunia, mereka justru tidak mau mengakuinya. Mereka PERCAYA DIRI dengan bahasa mereka sendiri.
Lantas, singkat cerita, banyak warga China yang akhirnya sukses di mana-mana. Mereka punya perusahaan-perusahaan besar, mereka menguasai banyak sektor perekonomian.
Kondisi ini menyebabkan posisi China di peta perekonomian dunia sangat besar. Mereka punya “kekuatan luar biasa” yang tak terbayangkan sebelumnya.
Kekuatan ini menyebabkan banyak perusahaan milik orang China yang dengan penuh percaya diri mencantumkan salah satu persyaratan berikut dalam penerimaan karyawan baru:
“Menguasai bahasa Mandarin baik secara aktif maupun pasif”
Artinya, secara perlahan dan alamiah namun pasti, bahasa Mandarin kini menjadi salah satu bahasa paling berpengaruh di dunia. Dan akhirnya, bahasa ini pun ditetapkan sebagai salah satu bahasa internasional!
Kita mungkin tercengang. Tapi menurut saya: Inilah BUAH MANIS dari sebuah sikap percaya diri. Inilah BUAH MANIS dari sebuah sikap nasionalisme.
Siapa yang teguh dalam memegang prinsip hidupnya, dan percaya diri dengan keunikan dirinya, maka Insya Allah dia akan menjadi orang yang sangat sukses di masa depan!
* * *
Keteguhan sikap dan kepercayaan diri, seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat China, memang terkesan tidak menguntungkan dalam jangka pendek.
Ya, coba bayangkan saja bagaimana bila si teman pengusaha dari Bandung tersebut ketika dia menolak saran orang Jepang untuk mengganti lebel produknya.
Ya, dia “kehilangan” banyak potensi penghasilan.
Tapi, saya percaya, itu adalah potensi jangka pendek belaka.
Sementara untuk jangka panjang, simaklah cerita tentang negeri China di atas. Itu adalah bukti yang SANGAT JELAS
* * *
Jadi kalau sekarang saya ditanya:
“Apakah sebagai pengusaha Indonesia, kita tak boleh nasionalis?”
JAWABAN SAYA: Kita harus sangat nasionalis.
Kita harus teguh dalam memegang prinsip-prinsip yang kita yakini.
Kita harus percaya diri dengan potensi dan keunikan kita sendiri.
Saya percaya, inilah salah satu cara paling jitu agar bangsa kita bisa bangkit lagi, bisa dihormati lagi oleh bangsa-bangsa lain di dunia in