Konon, penggolongan partai setel paranormalan akademik itu misalnya, menurut program dan ideologi, basis sosial, basis teritorial, basis etnik, derajat organisasi (electoral atau member party), posisinya terhadap sistem (pro atau anti sistem), paradigma (integrasi, persaingan dan transmisi), profesionalisme dan pendanaan (partai elite/kader, massa, kartel, catch all party) atau moneter (partai aparat atau pejuang pemilu).

Tes soal kutu loncat lewat derajat organisasi alias persentasenya perbandingan jumlah anggota partai dengan jumlah pemilih. Pada tahun 2000, partai-partai Jerman berderajat organisasi 2,86 (tinggi), dibilang member party, mengakar, dengan kejelasan jumlah dan iuran anggotanya. Kutu loncat gak dikenal.

Sebaliknya, partai-partai di Brasil, Bolivia dan Peru berderajat organisasi 1,0 (rendah), disebut electoral party, gak mengakar, dengan kekaburan jumlah dan iuran anggotanya. Brasil gudangnya kutu loncat. Berat cari tahu tentang yang di Indonesia, terlebih-lebih bila partai ngeklaim beranggota tuyul dan beriuran abal-abal.

Lalu soal koalisi dari sisi ideologi. Sesuai Ki Wikipedia, paham partai pemilu 2014 terbagi ke dalam Pancasila (Nasdem, PKB, Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, Hanura dan PKPI), Islam (PPP dan PBB), Pancasila dan Islam (PKS) serta Marhaeinisme (PDIP).

Kalau yang 8 Pancasila, juga 2 yang Islam gabung, maka tinggal 4 partai. Bila sebagian PKS masuk ke Islam dan sisanya nyepi di Pancasila, partai cuma ada 3. Bakal terpenuhilah misi penyederhanaan sistem kepartaiannya UU Tentang Parpol dan Pemilu Legislatif.

Ternyata meleset. Politisi senior Golkar, Enggartiasto Lukita, yang hengkang ke NasDem umpamanya, diRuhut Sitompulkan sebagai pengkhianat, walaupun dari Pancasila ke Pancasila. Sebetulnya, lumrahlah kalau misalnya ada kader PKPI Pancasila Mancasila di Hanura, lalu Pancasilaan di NasDem, lantas mudik ke PKPI. Tapi Sutiyosoannya, “saya sarankan untuk kader kita yang lari itu tidak kembali.” Tiada maaf pula bagi yang lari-lari demi kesehatan.

Dengan demikian, sulit menjelaskan ihwal pengkhianat, kutu loncat atau keogahan bersekutu dari sisi derajat organisasi atau ideologi. Apalagi UU-nya gonta-ganti melulu. Itulah pasalnya, terawangan gaib ngintipnya dari shio, bintang dan wuku.

Hasilnya, 12 partai pemilu 2014 terdiri dari 8 macam hewan: kerbau (PPP), kelinci (Nasdem), macan (PKB, PDIP, PBB, PAN), naga (Golkar), tikus (Gerindra), ular (Demokrat), anjing (Hanura) dan kuda (PKS, PKPI). Mayoritasnya macan, bernuansa klenikannya Tiger Nation Orde Barusan.

Secara mistis, hewan piaraan bisa sekandang. Juga naga yang kerap meraga sebagai barongsai. Liar adalah macan, tikus dan ular. Berkat susuk kelamin loloh, macan maujud jadi banteng, tikus jadi garuda atau kuda jadi sapi. Meski kebinatangan sejenis, bintangnyapun berandil. Maka, dalam kubu macan ada macan perenung, ompong, rakus dan binal. Juga di kebun binatangnya Pancasila: kelinci, macan, naga, tikus, ular, anjing dan kuda.

Bisa jadi, lantaran ogah jadi kuda penghela hambar, kutu-kutu PKPI loncat ke bani sepaham, misalnya guna ngular di Demokrat sang pembikin ngiler.

Demokrat dan Hanura contohnya berwuku Julungwangi, terancam punah, karena aralnya diterkam harimau. Agaknya, Anas bukan penyebab urbanisasi Demokrat ke Cikeas, tapi mangsaannya macan PAN. Sebabnya, SBY bukan besanannya, tapi sudah jadi betutuannya Hatta. Ketimbang dilahap macan PBB misalnya, kerbau PPP buruan ngacrit, ogah kumpul kebo meski sealiran.

Sialnya, wuku Balanya PKB dan PDIP deklarasi itu disantet. Ketimbang di-black magic, acuhin saja Maharaniannya “black list kader pengkhianat PDIP.” Jelas, UU Tentang Santet perlu turun demi kehidupan kepartaian. Itulah kisah paranormalan supranatural yang merdeka tentang 12 partai pemilu 2014. Bila analisis akademik nan ilmiah sarat footnote bersolusi abstrak, maka keunggulan terawangan akaldemit nan gaib dan alamiah itu bersolusi kongkrit. Yakni, sesajen riil komplit foodnote.

Iklan