NEGERI ini masih parah dalam urusan perkakusan. Lihat saja, lebih dari dua jutaan anak di Indonesia, dalam setiap 14 detik satu orang dari mereka meninggal. Ini akibat penyakit yang bersumber dari ketiadaan toilet yang memadai.

Inilah keprihatinan Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) saat menyikapi fakta, di Indonesia berada diurutan 12 dari 18 negara terjorok di Asia dalam urusan perkakusan itu.

Menurut Naning Adiwongso, Ketua ATI saat berjunjung ke Kota Kudus untuk menyaksikan peluncuran program sanitasi sekolah pertengahan Maret lalu, di negeri ini toilet belum menjadi bagian dari budaya bersih.

“Itu disebabkan karena jumlah penduduk kita yang semakin besar dan perubahan iklim dan tidak punya toilet layak yang menyebabkan penyakit bisa menyebar ke mana-mana,” kata Naning Adiwongso.

Menurut Naning, orang sering mengabaikan adanya toilet, padahal itu kepentingan kita tiap hari. Maka jika bicara masalah toilet jangan lagi menjadi hal yang tabu, misalnya seringnya orang menyebutnya dengan kamar kecil, atau kamar belakang yang seilah toliet menjadi anak tiri di rumah sendiri, terpuruk di belakang dalam kodisinya pengap, kotor dan berbau.

Menurut Naning, “Kita harus mengedukasi pada masyarakat. Bayangkan manusia itu memiliki antara 120 – 250 gram tinja setiap hari. Bagaimana kalau ini tidak dikelola dan dimenej dengan benar. Maka kita bisa mulai dari sekolah. Karena sekolah adalah agen perubahan itu,” katanya.

Masih kata Naning, “Di sekolah kita bisa mengajarkan bagaimana memiliki toilet yang bersih, menghemat air. Padahal toilet harus higien dan bukan sekadar bersih saja,” papar Naning Adiwongso.

Menurut dia, untuk menjadikan budaya toilet bersih memang sudah dimulai di tempat-tempat umum seperti SPBU, hotel tapi belum seluruhnya ada di tempat-tempat wisata dan terminal bus. “Karena dengan toilet bersih kita bisa mengangkat derajat bangsa,” pungkasnya.

Jumlah penyakit

Soal posisi Indonesia itu, “Ya memang kita masih memiliki toilet yang sangat buruk dibandingkan negara-negara lain. Posisi Indonesia berada di atas Vietnam, tapi di bawah Filipina, Thailand, Malaysia, dan Singapura,” kata Naning.

Naning menyambung, World Toilet Summit secara berkala mengeluarkan daftar jumlah penyakit yang paling banyak terdapat di toilet.

Asosiasi Toliet Indonesia berdiri pada 2001. Perjuangan Naning diakuinya, tak semudah yang dibayangkan orang. Da bahkan biasa ditertawai atau dicemooh seperti saat meminta bantuan ke kementerian yang berkorelasi dengan pembangunan infrastruktur dan kesehatan.

Apa komentar mereka. “Kan sudah ada MCK infrastruktur untuk mandi, cuci, kakus,” . Maka Naning pun ngotot bahwa ini bukan hanya urusan keberadaan MCK, tapi bagaimana membangun toilet yang bersih dan kering dan membudayakan masyarakat Indonesia untuk sadar kebersihan toilet.

Beruntung, gerakannya itu kemudian didukung Menteri Kebudayaan dan Pariwisata waktu itu, I Gede Ardhika. Asosiasinya mulai menerbitkan stiker dan poster mengkampanyekan toilet kering dan bersih.

Konsentrasi dimulai pada toilet umum di jalan-jalan, terminal, bandara, dan mal. Setelah itu, toilet sekolah menjadi perhatiannya. “Saya pelajari banyak anak yang memilih menahan buang hajat lantaran toilet di sekolah bau, kotor, dan tidak sehat,” kata Naning dalam sambutannya di Kudus.

Untuk itu, ATI mulai menyiapkan anak sekolah sebagai agent of change. Mereka adalah masa depan negara ini. Pembelajaran tentang sanitasi menjadi program yang sangat tepat di terapkan di sekolah-sekolah. (*)