Siang hari. Angin enggan bertiup. Mendung menggantung, namun hawa tetap membahang. Kau datang ke tempat ini usai sama-sama bernyanyi dalam Perayaan Ekaristi yang tak kalah membahang. Atap gereja yang rendah memeras keringat dan beramai-ramai kalian berkipas sambil mendengarkan si pengkhotbah.

Ada minuman dingin dari peti sejuk. Sekedar mengusir haus sambil menanti hidangan makan siang. Kau bersantap sambil sesekali bergurau tentang ulah teman-temanmu yang kau pikir agak aneh. Rumah ini dibangun di atas tanah dengan hak pakai, bukan hak milik. Maka seyogyanya kau bersikap bijak mengantisipasi berbagai kemungkinan yang bakal terjadi. Sebut saja, suatu hari ketika pemilik lahan hendak mengembangkan master plannya sendiri kau terpaksa harus menyingkir. Nah, sudahkah kau bersiap-siap? Jangan-jangan saat itu kau akan kebingungan, di mana tempat aku berteduh?

Perumahan para mantan pengungsi Timtim di Naibonat, adalah kompleks perumahan sangat sederhana yang dibangun di atas lahan milik tentara Nasional Indonesia. Lahan seluas sepuluhkali lapangan sepakbola itu dulu berupa hutan gebang dan padang alang-alang. Suasana berubah ketika situasi pasca jajak pendapat menghasilkan eksodus besar-besaran dari Ujung Timor Pulau Timor itu. Pesawat Hercules memuntahkan para patriotis NKRI itu ke Kupang, dan berharap TNI yang bertanggungjawab langsung atas peristiwa heroic tersebut mesti mengakomodasi para eks patriat ini. Akhirnya dibentuk proyek besar-besaran: perumahan barak pengungsian.

kemana tempat aku berteduh?

Ketika akhirnya beberapa dari antara kalian memilih untuk pulang kembali ke tanah air di negeri Matahari terbit, kalian justru bersikukuh. Sekali di udara tetap di udara , eh sekali di Indonesia tetap Indonesia. Lupakan Timor Leste…. Lantas pemerintah daerah tergopoh-gopoh membangun proyek lain lagi. Kali ini perumahan untuk para mantan pengungsi. Kalian serta merta dibabtis dengan nama mantan pengungsi. Apalah arti sebuah nama? Dan dari situ muncullah istilah penduduk local untuk membedakan kalian dengan kami.

Malangnya, kendati perumahan yang punya nama tak seindah kenyataannya “Griya Permai” ditawarkan gratis oleh pemerintah, itu tak begitu menaraik minat kalian. Entah kenapa kalian lebih suka bertahan di tempat berawa yang menjadi langganan banjir dan malaria setiap musim penghujan itu. Mungkin ada sesuatu melankolisme yang terselip di dinding barak itu hingga kau enggan beranjak?

Ketika kau usai mendaftarkan nama sebagai pemilik sebuah rumah di Griya permai, dan mendapatkan hak secara penuh, kau justru berusaha membongkar bahan-banhan bagunan itu dan kau seret ke barak lamamu, dan mencoba mendandani rumah langganan banjir itu. Kau bilang, Griya belum punya listrik, air dan segala macam lainnya, meski untuk mukim di situ kau tak mengeluarkan sepeserpun. Tanah dan rumah kau dapatkan gratis. Saya pikir, lebih bijak, kalau kau bertindak sebaliknya. Beberapa bahan bagunan dari barak di tanah TNI itu kau seret saja ke Griya lalu kau permak griya permaimu yang tak lebih dari sebuah RSS (Rumah Sangat Sempit) itu.

Ternyata kau punya pilihan lain. Ketika kau dengar kini bahwa TNI akan memperluas lahan perkantorannya, kau jadi sumringah. Was-was, hendak kemanakah aku? Ke Griya? Males ah. Ada sesuatu di barak ini yang membuatmu jatuh cinta sejak pandangan pertama. Dan itu rupanya hendak kau simpan rapat-rapat menjadi rahasiamu sendiri.

Namun, yang jelas, Naibonat sekarang sedang bergeliat menuju kota modern. Pusat Kabupaten Kupang yang baru genap setahun dialihkan ke tempat itu memaksa para kapitalis berlomba-lomba membangun di sekitarmu, dan kau merasa semakin tercekik, dan dunia semakin sesak. Entahlah, kalau para warakawuri yang mendiami rumah prajurit mendiang suami saja disuruh angkat kaki, apalagi kau yang cuma seorang mantan pengungsi?

Baiklah, aku tetap berharap, dalam waktu dekat, kau insyaf lalu berjuang di atas kaki sendiri. Langkah awalnya adalah segera keluar dari kompleks Resmi TNI itu untuk mulai menata kehidupan baru. Tak usah kau mempertahankan kemantanpengungsianmu. Saudara-saudarimu yang local ini menanti, suatu saat kita lebur jadi satu, warga kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang yang makmur lagi sejahtera.

Iklan