Belum tuntas mendapatkan penjelasan tentang pembakaran Mapolres Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, kita dikejutkan oleh pembunuhan tahanan polisi di LP Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (23/3) dini hari. Memang belum ada penjelasan resmi hasil investigasi, namun akal sehat masyarakat tidak bisa dikelabui: kasus ini menyangkut rivalitas polisi-tentara.

Bantahan Pangdam Diponego IV/Diponegoro Mayjen Hardiono Saroso, justru memperkuat kesimpulan masyarakat, bahwa sepasukan tentara terlibat dalam kasus ini. Bantahan keras yang disampaikan secara buru-buru, menunjukkan upaya menutupi, atau setidaknya mengaburkan keadaan yang sebenarnya. Karena pernyataan tersebut tidak didasarkan pengecekan dan penelitian menyeluruh.

Andai saja Pangdam dan pejabat militer lainnya bersikap tenang, dingin dan normatif, malah membuat masyarakat menaruh hormat. Masyarakat juga tidak terburu-buru membenarkan apa yang berkecamuk dalam pikirannya. Mereka mau menunggu hasil investigasi menyeluruh dan memposisikan anggota tentara sebatas sebagai orang-orang yang diduga –yang secara hukum harus dibuktikan di pengadilan.

Dalam praktik investigasi kepolisian, membuktikan peristiwa pembunuhan tanpa saksi bukanlah pekerjaan mudah. Dalam situasi ini jika pimpinan tentara berniat mengaburkan kasus ini dari investigasi polisi, sesungguhnya dengan mudah bisa mereka lakukan. Apalagi pada tingkat elit, pimpinan tentara dan pimpinan polisi sudah saling memahami kepentingan masing-masing.

Tapi rupanya, keyakinan bisa mengubah akal sehat masyarakat demikian kuat, sehingga hampir semua pimpinan tentara serempak menjawab: tentara tidak terlibat. Berbalikan dengan kesimpulan masyarakat: ini pasti ulah tentara.

Pimpinan tentara tidak perlu tersinggung, apalagi berang dengan kesimpulan masyarakat itu. Sebab kesimpulan itu tersusun berdasarkan informasi dan fakta yang tidak terbantahkan.

Pertama, rivalitas tentara-polisi terus berlangsung, dan semakin kuat tegangannya pada tingkat bawah. Rivalitas itu bisa berubah menjadi konflik terbuka yang diwarnai kekerasan, ketika dipicu oleh faktor sepele hingga serius: saling ejek, rebutan pacar, pelanggaran lalu lintas, rebutan area pengamanan, penganiayaan kolega, pembunuhan sejawat, dan lain-lain.

Kedua, empat tawanan yang dibunuh di LP Cebongan adalah tersangka kasus penusukan (hingga tewas) Sertu Santoso, anggota Kopassus, di Hugo’s Cafe, tiga hari sebelumnya. Keempat tawanan itu adalah Hendrik Angel Sahetapy alias Deki, Adrianus Candra Galaja, Yohanis Juan Manbait, dan Gameliel Yermiyanto, yang salah satunya desertir polisi.

Ketiga, gerombolan yang menyerbu LP Cebongan dan membunuh empat tawanan polisi adalah orang-orang terlatih dengan senjata standar tentara. Dari kesaksian para sipir diketahui, aksi mereka sangat cepat dan rapi. Mereka tidak hanya memiliki kemampuan serbu, tetapi juga telah mempersiapkan dengan baik. Pengambilan video perekam (CCTV) menunjukkan betapa profesionalnya mereka.

Di Republik ini, tidak ada kelompok orang yang memiliki kemampuan profesional seperti itu, kecuali polisi dan tentara. Bahkan para teroris yang terlatih pun, ketangguhan dan keandalannya jauh dari standar polisi dan tentara. Sejumlah kasus penangkapan teroris, menunjukkan mereka memang memiliki ketrampilan membikin dan meledakkan bom, tetapi mereka tidak memiliki daya serbu.

Oleh karena itu, kalau pimpinan tentara membantah ketidakterlibatan tentara -pada saat hasil invetigasi menyeluruh belum diumumkan- dengan pernyataan, “semua anggota yang keluar kompleks, tercatat,” atau “senjata standar tentara juga beredar di lapangan,” maka, percayalah pernyataan semacam itu hanya jadi bahan ketawaan. Akal sehat masyarakat yang menertawakannya.