7
Jakarta, Kompas – Setelah bertemu Prabowo Subianto, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundang tujuh jenderal purnawirawan TNI Angkatan Darat ke Kantor Presiden, Rabu (13/3). Mereka dimintai masukan dalam berbagai bidang, termasuk perkembangan politik menjelang Pemilu 2014.

”Kami sampaikan, Presiden juga harus terlibat untuk mencari pengganti (presiden) yang akan datang. Tentu kembali ke mekanisme pemilu dan demokrasi,” kata Letnan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan seusai pertemuan.

Ikut mendampingi Jenderal (Purn) Subagyo HS, Jenderal (Purn) Fachrul Razi, Letjen (Purn) Agus Widjojo, Letjen (Purn) Johny Josephus Lumintang, Letjen (Purn) Sumardi, dan Letjen (Purn) TNI Suaidi Marasabessy.

Permintaan para jenderal purnawirawan TNI ini pernah disampaikan saat peluncuran buku pengabdian Akabri 1970 pada awal Oktober tahun lalu. Acara itu dihadiri Presiden Yudhoyono dan sebagian menterinya.

Dalam pertemuan kali ini, para purnawirawan itu tidak menyebutkan nama tokoh yang layak menjadi calon presiden mendatang ataupun kriterianya. Mereka hanya menginginkan, presiden terpilih mendatang mampu melanjutkan dan meningkatkan capaian bangsa saat ini, terutama di bidang ekonomi.

”Siapa pun yang terpilih menjadi presiden yang akan datang, itu yang terbaik. Kami punya kepentingan, pada 2014 mendatang, presiden yang terpilih sebaiknya orang yang mampu melakukan kapitalisasi atau memanfaatkan kisah sukses Presiden SBY untuk membuat pertumbuhan ekonomi ini 8-9 persen dalam 5-10 tahun ke depan,” katanya.

Dalam pertemuan yang berlangsung hampir dua jam tersebut, Presiden memberikan penjelasan tentang kondisi politik dalam dan luar negeri, kondisi ekonomi dan capaiannya, serta masalah hubungan internasional.

Luhut menyatakan, harus jujur diakui, banyak yang telah dicapai pemerintah sekarang. ”Bahwa masih ada di sana-sini yang kurang, misalnya masalah teknis yang lain, saya pikir tidak akan selesai, biar berapa banyak presiden pun,” ungkapnya.

Luhut menampik penilaian sebagian kalangan yang menyatakan Presiden Yudhoyono tidak melakukan tugasnya dengan baik. Justru dengan capaian prestasi pemerintahan saat ini, menurut dia, Presiden Yudhoyono harus diberi ruang untuk menyelesaikan tugas hingga akhir masa jabatannya pada 2014 mendatang.

Pertemuan dengan tujuh jenderal purnawirawan itu berlangsung selang sehari setelah Presiden mengundang Letjen (Purn) Prabowo Subianto ke kantornya. Prabowo yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dan disebut-sebut akan maju dalam pemilihan presiden 2014 saat itu juga mengapresiasi capaian kinerja pemerintah.

Permainan politik

Mengenai pertemuan para purnawirawan tersebut, peneliti senior Soegeng Sarjadi Syndicate, Toto Sugiarto, mengatakan, SBY sedang mempersiapkan permainan politik. ”Sebelumnya, SBY memanggil Prabowo Subianto, sekarang jenderal-jenderal purnawirawan lainnya yang notabene menjadi lawan politik Prabowo. SBY ingin mengendalikan semua kekuatan ini. Sekarang, SBY makin memiliki peta komprehensif sehingga bisa menari- nari sepanjang peta politik kekuatan itu dan bermain cantik menuju pemerintahannya tahun 2014.”

Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Haris Azhar memandang, ada suasana bahwa mereka tetap sebagai kaum unggulan. Hal ini bisa dibenarkan dari fakta bahwa mereka masih berada dalam semangat korps militer, memiliki pengalaman berkuasa dari Orde Baru dan menguasai dana yang cukup banyak bisnisnya. Semangat ini terasa sampai kalangan yunior.

Pengamat politik dari LIPI, Indria Samego, mengatakan, pertemuan itu menunjukkan, SBY ingin mendapat simpati atau dukungan lebih banyak dari kalangan jenderal, karena politik tidak lepas dari peran tentara.

”Perlu mendapat simpati karena sekarang ini Presiden banyak mendapat kritik dan disinyalir ada upaya untuk mendelegitimasi atau menurunkan dia sebagai Presiden. Presiden ingin menunjukkan bahwa dia memiliki orang-orang penting di sekitarnya, semacam upaya untuk balance of power,” kata Indria.
Sejumlah jenderal dan aktivis siang ini akan berkumpul di Gedung Joeang 45, di Jalan Menteng, Jakarta Pusat. Pertemuan tertutup itu rencanya bakal membahas isu kudeta pemerintahan SBY-Boediono.

“Ini rapat tertutup, ada beberapa tokoh aktivis. Siapa saja ini kita belum tahu karena masih mau dimeetingin,” kata kontak person acara tersebut Yanti kepada Okezone, Kamis (21/3/2013).

Yanti membenarkan pertemuan yang digagas tokoh Rizal Ramli itu mengundang jenderal seperti Ryamizard Ryacudu, Tyasno Sudarto dan Mayjen Soeharto. Adnan Buyung Nasution juga turut diundang untuk hadir. “Betul (mereka) diundang,” singkatnya.

Saat diminta menjelaskan, apa saja yang akan dibahas dalam pertemuan itu, Yanti mengaku tidak mengetahui terlalu jauh. Tapi, menurutnya, salah satunya yakni soal isu kudeta.

“Mungkin tentang itu (isu kudeta), tapi detailnya apa saya belum tahu karena itu mereka yang akan membahas,” terangnya.

Isu kudeta SBY-Boediono ramai dibicarakan dalam sepekan terakhir. Kabarnya, akan ada aksi besar-besaran untuk menggulingkan pemerintah pada 25 Maret mendatang. (trk)