Sejarah Partai Persatuan Pembangunan-kumpulan sejarah Ivan-edit-PPP

Kala Orde Barusan, rejeki suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu mulanya njumbo 29,3 persen (1977), kurusan 1987 (16 persen), terakhir gemukan 22,4 persen (1997). Setelahnya cacingan: 10,7 persen (1999), lalu 8,2 persen (2004) dan alamak, cuma 5,2 persen (2009). Di 2014, gelagatnya berbintang gelap. Perceraian alih-alih persatuan. Kiranya pembangunan, kepergoknya pembambungan. Dari jumbo, tinggal sejumput.

Sejatinya, tak tahanlah tarikan nomor buntut KPU 9. Klenikan asap kemenyan, angka top. Bermakna khusus, bahkan khusyuk suci. Cialatnya, juga selalu bertengkar. Anti persatuan. Ciu-ciam (ramalan) Engkong Fengsui, 9 bintang ganda. Senantiasa ndobelin pasangannya. Kerabatnya tipu Ce-ki no-kang (pasang satu dapet dua). Musuhnya persatuan. Trus, mau membangun?

PPP, fosil Orde Barusan, mbrojol 5 Januari 1973, Jumat Wage, hari buruk. Bejatnya haripun menimpa PDI, mbahnya PDI-P. Kontrasnya Golkar, berhari kelahiran baik. Dus, dari awalnya, PPP dan PDI telah dibedebahin alam gaib.

Mulanya, PPP berlogokan Ka’bah. Tapi, diplototin. Simbol agama haram ngurusi politik kolong jagat. Sebaliknya, Golkar boleh bernon-duniawi. Beringin itu lokasi kongkowin makhluk halus. Maka, di alam gaib, PPP dibius dua kali.

Itulah pasalnya, bintang jumbo pilihannya. Berbintang teranglah PPP buruan ganti logo seusai gelapnya bintang Orde Barusan. Bila telat, bisa dikira ngebir, dilarang bermarkas di otda-otda berperda antimiras. Tentu, bakal sulitlah berpemilu.

Di alam kasunyatan Orde Barusan, cuap website PPP, banyak kader PPP, terutama di daerah, digebuki, dijeger dan malah dikoitin. Para saksi PPP diancam, suara rakyat ke PPP dijahilkan demi terangnya bintang Golkar. Nasib serupa dialami PDI.

Boleh juga, jika Golkar setor pampasan. Partai Nahdlatul Ulama, Partai Serikat Islam Indonesia, Perti dan Parmusi ditodong melebur jadi PPP, seperti riwayat PDI. Sampai kini, setel ini dilanggengkan.

Di Cile umpamanya. Sebab sistema binominal, setiap daerah pemilihan berkursi dua, partai-partai dipaksa bergabung. Selain nama aliansi, misalnya Concertacion, partai sekubu dengan identitas masing-masingpun dicantumkan macam DC, PS, PPD atau PRSD. Alhasil, pendukung DC nyoblosnya Concertacion. Penetapan calegnya, ya musyawarah di dalam persekutuan tersebut. Di Jerman, koalisi disebut. Contohnya Buendnis 90/Die Gruenen. Buendnis 90 asli mantan Jerman Timur. Die Gruenen maraknya di mantan Jerman Barat. Gaya beginian, memungkinan kehadiran partai lokal atau bani minoritas. Gak harus selalu nasional berongkoskan jumbo, sumbernya samberan jahil.

Praktis, semasa Orde Barusan, PPP dan PDI ditelerkan di alam gaib dan alam kasunyatan. Pantesan, kala itu Golkar unggul melulu, niru golongan kepalu-aritan Eropa Timur, melanggar asas arisan warisan leluhur.

Sayangnya, pembangunan gadangan Orde Barusan akan mencapai tahapan tinggal landas itu tokh nggadungan ketinggalan landas. Jabang Tetuka Orde Barusan kandas kejumboan penumpang.

Biar kini sudah bebas, namun PPP tetap diidapi laknat Orde Barusan. Maunya pembangunan, namun kutukan wuku Kuningan, didedengkotin Bethara Indra, gak baik memperindah rumah. Berupaya menyuburkan suara, busyetnya gersang, supata wukunya.

Kegersangan, uap wetonnya, bikin malas bernafkah. Maka, direbutlah peringkat keempat liga korupsi rilisan Seskab, yang kata Sekjen DPP PPP, Romahurmuzy, sejalan dengan peringkat kursi PPP hasil pemilu 2004.

Barangkali maksud Sekjen: bila PPP ingin dibebaskan dari pencoleng, maka jangan dicoblos. Juga yang lain. Bahkan, DPR patut digeruduk dan dibumihanguskan seperti membasmi lokasi-lokasi sesat.

Alasan PD, PDI-P dan Golkar lebih unggul culasannya, terletak pada azab asap kemenyan: 9 itu penghasut nyali yang lain. Ing madya mangun karsa, membangkitkan gairah berkorupsi halal.

Ucap wetonnya, PPP itu banyak apesnya. Karenanya, PPP si Kerbau Capricorn, tertenung jadi kerbau gersang. Kikir ketawa,ogah humor dan cemberut melulu. Padahal, menjajakan diri mesti simpatik, ramah dan royal senyum. Coba kursus sama Gerindra, pembuat klepek-klepek tiga artis papan atap. Alternatif lain, Hanura yang sukses memeriamkan pelet samber Krisdayanti dan Meriam Bellina. Andai gak bakat, kebut susuk Rembulan Koneng, ampuh buat memikat, mengatrol kharisma dan mengamandemen penampilan jadi berpendar-pendar bak bulan purnama.

Lantaran waktu Orde Barusan ketinggalan landas, wajarlah peluang lepas landas gak dilepas. Cuma, soal lepas landas kok dikipas-kipas: “Pantaskah Menag membawa rombongan jumbo naik haji?”. Bertendensius kecut, bikin kerbau gersang bersungut. Cemberutannya: “Pantaslah Menag membawa rombongan haji naik jumbo!”.

Agar aman, layak bersesajen sega punar dang-dangan beras senilai zakat fitrah, lauknya rancaban serba digoreng. Baiknya, nggoreng pakai Minyak Si Nyong-Nyong, berkhasiat memikat. Slametan itu untuk menangkis tulah wukunya: PPP beraral dikeroyok. Jelas mustahil dilakukan terhadap rombongan jumbo. Tapi, sebab sejumputlah Ahmadiyah dan Syiah sia-sia terengah-engah.

Iklan