http://www.youtube.com/watch?v=29Yxl5rqZRI

http://www.youtube.com/watch?v=29Yxl5rqZRI

Ribuan advokat di Indonesia terancam menganggur. Sebabnya tak lain karena dua organisasi advokat yaitu Persatuan Advokat Indonesia (Peradi) dan Kongres Advokat Indonesia (KAI) bersiteru soal putusan Mahkamah Konstitusi tentang organisasi advokat yang diakui secara resmi oleh pemerintah.
Koordinator Tim Advokasi DPP KAI Erman Umar menganggap hal ini sebagai preseden buruk bagi penegakan hukum di Indonesia. Bantuan hukum bagi para warga Indonesia yang bermasalah dengan hukum terhalang hanya lantaran pengadilan di seluruh Indonesia tak mengizikan advokat yang tergabung dalam KAI memberikan bantuan hukum.
“Ini kan gawat, gara-gara itu, seorang terdakwa secara khusus atau masyarakat secara umum yang ingin mendapat bantuan hukum jadi terhalang,” ujar Erman Umar di Gedung KPK, Rabu (13/7).
Erman menyayangkan kebijakan pengadilan yang hanya mengizinkan advokat yang berasal dari Peradi memberikan bantuan dan pendampingan hukum terhadap seorang terdakwa. Kebijakan tersebut, katanya, bertentangan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) nomor 79/PUU-VII/2010 tertanggal 30 Juni 2011 yang memerintahkan kepada Ketua Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia untuk melaksanakan sumpah advokat tanpa membedakan para advokat yang berasal dari organisasi manapun juga.
Masih berdasarkan putusan itu, lanjut Erman, jelas disebut bahwa secara de facto, organisasi advokat yang eksis dan diakui adalah Peradi dan Kongres Advokat Indonesia. “Jelas saja, Pengadilan Tinggi di Indonesia tidak memahami aturan itu, dan membuat sebanyak 8000 pengacara anggota KAI terancam kehilangan pekerjaan,” ujarnya.
Lebih miris lagi, dicontohkan Erman, ada seorang advokat yang berperkara di Pengadilan Tinggi Bekasi, terpaksa harus mengganti uang pembayaran dari kliennya lantaran hakim tidak memperkenankan advokat tersebut mendampingi kliennya.

Logo_PERADI

ki

Sebelumnya Ketua Peradi Otto Hasibuan menegaskan posisi Peradi sebagai satu-satunya wadah advokat yang diakui oleh pemerintah di Indonesia. Putusan MK yang menolak uji materi UU Nomor 18 tentang Advokat dari Persatuan Advokat Indonesia (Peradi) dan KAI, kata Otto, menjadi dasarnya.
“Semua advokat di Indonesia, apabila ingin beracara harus menjadi anggota Peradi. Apabila bukan anggota Peradi, maka tidak boleh beracara di persidangan,” kata Otto. Erman sendiri menilai apa yang disampaikan otto ini sebagai bentuk penyesatan. Otto, katanya, salah menafsirkan putusan MK tersebut.

rekan2 advokat,
di bawah adalah cerita moral seru dari seorang king yang kebetulan filsuf. Melihat serunya pertarungan antara peradi dan KAI, kayaknya para pimpinan petarung musti adu mental dan kekuatan filsafatnyanya nich, supaya bisa memenangkan legal battle.
Sebentar lagi kita akan mendengar laporan pengaduan ke polisi dari pihak peradi terhadap KAI dan sebaliknya. pasti seru banget dech. Tinggal polisi ketawa ketiwi melihat betapa tololnya manusia yang mengaku officium nobellum melaporkan ketololan organisasi profesinya kepada profesi yang lebih inferior pengetahuan hukum dan filsafatnya.
Nach, lawyer itu khan hidup dari laporan pengaduan ke laporan pengaduan. Setidaknya, itu kata Daniel Panjaitan (anggota majelis kehormata DKI peradi) tatkala menanggapi complain saya betapa rumitnya penyelesaian sengketa : laporkan saja lawyer lawan ke polisi kek, peradi kek atau kemana aja. Daniel pikir dengan membuat laporan pengaduan berarti masalah akan segera kelar. ho..ho..ho..
Pengen tahu dech, kalau kedua pihak, peradi or KAI saling lapor polisi – saling tuding tindak pidana, SAMPAI KAPAN KELAR-NYA ?
Ke depan, untuk bisa menjabat sebagai pimpinan peradi, pengurus peradi, atau bahkan anggota majelis kehormatan peradi, calon harus memiliki kelulusan dari sekolah filsafat, supaya bisa memberi kontribusi bagi dunia penegakan hukum, bukan peruwetan hukum.
Salam keruwetan hukum,
Iming Tesalonika
Advokat yang senang melihat asosiasi advokat berkelahi supaya advokat tambah pinter filsafatnya
Marcus Aurelius

Kamu kan pernah nonton film Gladiator? Itu lho, yang ceritanya seorang
jenderal, yang akhirnya jadi gladiator. Kamu inget ngak, diawal film
ada raja yang namanya Marcus Aurelius Antoninus? Hanya sebentar sih
munculnya, kali cuma 15 menit. Tapi, sesungguhnya yang benaran ada,
adalah raja tua tersebut, bukan sang jenderal. Aurelius adalah emperor
atau raja Romawi, super power jaman itu; seperti Amerika Serikat jaman
sekarang. Aku suka sama Aurelius; karena dia adalah apa yang disebut
Plato, sebagai philosopher king.

arcus Aurelius lebih dikenang dunia, terutama dunia intelektual,
karena buku tipisnya yang berjudul Meditations. Judul buku tersebut
diberikan belakangan oleh orang lain; Aurelius sendiri menulis buku
tersebut ketika dalam peperangan, dalam bahasa Yunani, dan diberinya
judul “Ta eis heauton” (to himself – untuk dirinya sendiri). Himself,
tidak lain dari Aurelius sendiri.

Konon, ketika di ujung hidupnya raja ini memerintahkan membakar buku
tersebut. Untung bahwa para pengikutnya melanggar aturan tersebut,
sehingga dunia bisa membaca salah satu refleksi moralnya. Pergulatan
hidup seorang raja untuk tetap menjadi manusia seutuhnya.

Aurelius mulai bukunya, dengan banyak catatan terimakasihnya untuk
orang-orang yang mendidiknya, baik langsung maupun lewat buku. Kepada
kakeknya, dia mengucapkan terimakasih karena belajar tingkah laku yang
sopan, dan bagaimana memupuk pikiran yang jernih. Dia juga
berterimakasih untuk ajaran lain yang penting, yaitu selalu punya
waktu untuk mereka yang minta tolong. Dari ayahnya, ia belajar menjadi
berani, tanpa perlu menjadi show off dgn keberaniannya. Dari neneknya,
dia belajar menjadi taat pada para dewa2, ramah pada orang lain, dan
sederhana dalam cita rasa. Kepada gurunya, dia mengucapkan
terimakasih, karena mereka mengajarkan bahwa moral itu penting dalam
kehidupan ini, dan bukan sulit untuk dipraktekkan dalam kehidupan
sehari2. Bagus kan?

Tapi, satu hal yang bikin aku selalu ingat buku ini, hal yang praktis.
Hidup kita bukan tergantung pada hal-hal eksternal. Apakah kita akan
sukses, akan kaya, akan senang, kita tidak dapat mengontrolnya. Paling
kurang, kita tidak dapat memastikannya. Satu-satunya yang bisa kita
kontrol ialah pikiran kita.

Mari kita bayangkan. Bangun tidur, kita masuk kamar mandi. Ingin
mandi. Ternyata air bak kosong, PAM ngocor sangat kecil. Apakah kita
marah, BT? Mengapa marah, kata Aurelius. Mau mandi, atau mau marah?
Jgn biarkan orang lain mengontrol pikiran dan emosi kita.

Sampai di sekolah, tiba-tiba banyak kerjaan. Marah, sebel. Mau kerja
atau mau marah? Ingin berbuat baik, eh digosipin oleh teman atau
musuh. Mau berbuat baik, atau ingin orang lain mengontrol pikiran
kita, sehingga keinginan kita berbuat baik menjadi sebaliknya
(membenci, dlsb)?.

Ok, aku persingkat JC, apa yang Aurelius ingin bilang gampang. Kamu
pasti nebak. Kedamaian hati adalah kunci hidup sehari-hari. Orang
bijaksana adalah orang yang bisa mencapai kedamaian hati. Dunia bisa
mengambil mainan milik kita yang menyenangkan. Sejarah dunia
memperlihatkan bahwa orang yang satu bisa menyakiti orang baik. Tapi,
satu hal yang siapapun tidak bisa ambil, yaitu kedamaian hati. Jadi
jangan biarkan tingkah laku yang menyebalkan dari orang lain membuat
kamu menjadi hilang kedamaian hatiku.