Bambang minta Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY) harus lebih bekerja keras dan bersungguh-sungguh mengendalikan perilaku hakim.

Kata Bambang seperti dilaporkan Faiz Fajarudin reporter Suara Surabaya di Jakarta, akibat perilaku tercela yang dilakukan banyak oknum hakim, kerusakan yang terjadi pada bidang peradilan sekarang ini terbilang sangat serius.

Bambang mencontohkan beberapa kasus yang mencerminkan brutalitas oknum hakim diantaranya yang paling mencengangkan Kasus Hakim Agung Ahmad Yamanie yang memalsukan vonis dengan tulisan tangan, kasus Hakim Puji Wijayanto yang ditangkap waktu berpesta sabu, dan kasus hakim Tipikor penerima uang suap karena meringankan atau membebaskan terdakwa korupsi.

Kata Bambang, brutalitas seperti ini tidak boleh lagi ditolerir MA dan KY, karena sangat berbahaya.

Kalau masyarakat melihat oknum hakim terus bertindak brutal dan dibiarkan, ruang publik pun akan sarat brutalitas karena hakim dan lembaga peradilan dinilai tidak layak lagi untuk mengadu dan berlindung

Bisa jadi, menurut Bambang, maraknya konflik horizontal di sejumlah kota dan daerah akhir-akhir ini disebabkan para pihak yang terlibat dalam rangkaian konflik itu tidak percaya lagi terhadap semua institusi penegak hukum, termasuk hakim dan lembaga peradilan.

Ketidakpercayaan itu mendorong mereka untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri, menggelar konflik berdarah yang tak jarang menelan korban jiwa.

Bambang menegaskan, perbaikan di bidang peradilan merupakan program yang mendesak. MA dan KY harus fokus pada dahaga rakyat Indonesia akan keadilan, serta kebutuhan negara-bangsa akan kepastian hukum.

MA dan KY pun harus lebih arif memaknai perkembangan dan perubahan perilaku masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam melaporkan kasus-kasus oknum hakim bermasalah merupakan contoh tentang sikap kritis publik terhadap korps hakim dan lembaga peradilan.

Untuk itu, Bambang menyarankan MA-KY membangun sinergi dan merumuskan program kerja bersama dalam upaya menegakkan etika profesi hakim

Iklan