IMG2423A IMG2420A IMG2421A IMG2422A

 

 

Pemkab Demak menilai sekitar 100 lapak darurat di kanan-kiri jalan lingkar selatan Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosolam merupakan warung liar. Para pengelola pun sudah diultimatum supaya bersedia membongkar lokasi berjualan. Namun persoalan membayang. Pedagang enggan pindah karena butuh mencari nafkah. Pemkab memberikan tenggat waktu hingga 21 hari untuk bersih-bersih warung dan barang dagangan. “Lokasi itu secepatnya harus dibersihkan dari warung-warung liar. Sudah muncul banyak keluhan dari berbagai pihak. Mulai dugaan jual-beli miras, prostitusi terselubung hingga keributan akibat mabukmabukan di lokasi tersebut,” ungkap Kasat Pol PP Pemkab Demak Puguh Ariyadi, Jumat (30/11). Puguh menyatakan sudah mengerahkan anggotanya untuk memberikan surat peringatan terhadap pemilik warung. Kemarin, puluhan petugas Satpol PP bahkan langsung bergerak menyisir kawasan jalan lingkar dibantu personel Polres Demak. Mereka mendatangi satu per satu lapak darurat yang dianggap meresahkan masyarakat itu. Kasi Operasional (Kasi Ops) Sat Pol PP, Kuntarto, beberapa kali membacakan surat di hadapan pemilik dan pengelola warung. Enggan Pindah Surat peringatan yang ditandatangani Kasat Pol PP Teguh Ariyadi tersebut mendasari Perda No 17/ 1991 tentang Ketertiban, Keindahan dan Kebersihan Kabupaten Demak, Perda No 1/ 2000 tentang Larangan Minuman Keras, Perda No 10/ 2001 tentang Larangan Pelacuran, dan surat Kepala Satker Pelaksana Jalan Nasional Dirjen Binamarga tentang penertiban bangunan/- warung liar di tepi jalan lingkar. Adapun sejumlah pedagang mengaku enggan pindah dari lokasi. Sebab, mereka merasa tidak memiliki mata pencaharian lain apabila lokasi berjualan digusur. Ahmad dan Farikin, dua pengelola warung justru mempertanyakan sikap Pemkab. “Kenapa kami yang tiba-tiba harus digusur? Bukankah di lokasi lain juga banyak bertebaran PKL yang belum ditertibkan?” kata Ahmad, kemarin. Mereka mengaku tidak rela seandainya lokasi berdagang dibongkar semena-mena