Pertengahan tahun 2006, sejarah kumulai disini. Kampus ini begitu menyeramkan dibenakku. Begitulah kesan pertama menginjakkan kaki dikampus yang katanya memiliki konsep kampus dalam taman. Kampus “angker” kataku. Kenapa begitu, karena begitu banyak hutan-hutan yang dulunya tidak kudapati semasa sekolah di kota duri tercinta J. Sempat terlintas dalam hati, “Ya Allah, Berharap kuliah dikota besar tapi malah dapat dihutan. Gak ada kemajuan”. Kutapaki langkahku satu persatu dari gerbang depan menuju mesjid terbesar dikampus. Ini hari pertama kesini setelah dinyatakan lulus PBUD (Penelusuran Bibit Unggul Daerah). Selepas sholat dzuhur, kuselonjorkan kaki yang terasa lelah diteras bawah tangga mesjid itu dan tidak berapa lama ada sosok yang menghampiriku kala itu. Ia menyalami semua orang yang ada disitu dengan “sok” akrab, karena aku yang tak mengenalnya juga mendapat jatah salamnya.

Perbincangan dan perkenalan dimulai. Kebetulan sepatunya yang tidak terlalu bagus tapi terawat dengan semir itu terletak dekat dengan sepatuku. “Biarpun sepatu ini butut, tapi harus rapi dan kinclong. Karena kita ini muslim negerawan” ujarnya setelah berkenalan dengan ku sembari memakainya. Ada kekuatan tekad dan semangat dari kata-katanya. Orang yang kukira dosen atau pegawai kampus itu, ternyata juga mahasiswa. Ia adalah Mahasiswa Fakultas Perikanan yang belum juga lulus dengan alasan pilihan hidup, bukan karena tidak cerdas. Kata-kata “Muslim Negarawan” itu yang membuatku bertanya-tanya, “emang seperti apa itu sosok muslim negarawan?”.

Setelah selesai mengenakan sepatu, ku bergegas ke “patas”. Tempat tenda-tenda biru berjualan berjejer. Ramai sekali mahasiswanya yang membeli disini. Patas ini terletak antara ujung Kampus Fisipol dan FKIP. Tidak berapa lama duduk-duduk disini, karena tujuanku sebenarnya adalah Ingin melihat semegah apa Fakultasku dihujung sana. Sayup-sayup terdengar suara orang yang berteriak menyuarakan, “Susu sari kedelai, Yang hangat yang dingin seribu” lalu disambungnya dengan kata, “Jangan lupa Pilih nomer 4”. Kata-kata itu terus diulanginya sambil membawa megaphone, dengan sepeda yang sudah dihias. Unik dan kreaif. “Ada apa ini?” tanyaku sama salah satu pembeli dipatas itu. Dia bilang, “Oh sekarang lagi ada Kampanye PEMIRA, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)”. Terus dia dengan semangat melanjutkan, “Kalau yang itu dari anak KAMMI, calonnya Mantan Gubernur Fisipol dan Mantan Gubernur FKIP”. Subhanallah, luar biasa kampus ini. Punya Presiden dan Wakil Presiden. Punya Gubernur dan Wakil Gubernur juga. Aku jadi bertanya iseng, “Bupati ada juga gak bg?”. “Ada dong, disini ada Bupati Mahasiswa. Jangankan itu, disini juga ada DPR-nya mahasiswa. Namanya Badan Legislatif Mahasiswa (BLM)”, dengan sabar dia terus menjelaskan semua pertanyaanku. Ternyata dia adalah Mahasiswa Fakultas Pertanian, Seniorku kelak. Kebetulan beliau anak HMI yang saat itu menjagokan calon dari Faperika, seingatku calonnya adalah Ketua HMI Cabang Pekanbaru saat itu. Jadilah kami akrab dan akhirnya dia yang mengantarkanku keliling kampus Fakultas Pertanian.

Sebelum perkuliahan resmi dimulai, seluruh mahasiswa PBUD diwajibkan mengikuti Matrikulasi selama kurang lebih 2 bulan. Makanya, sebelum kegiatan ini aku mencari kost-kostan. Alhamdulillah, dapat kos yang murah di daerah mayar sakti, nama pondokannya “ILLAHIA” tapi teman-teman sepondokan lebih suka menyebutnya, pondokan “LA-TAHZAN”. Entah bagaimana awalnya, yang jelas yang masuk ke kost itu harus menguatkan hati dan gak bersedih kalau tiap hari bakalan dapat wejangan dari pemilik kost yang kebetulan tinggal disebelah kost. Sebab bila lampu balik karena kami hidupkan air atau nutup pintu terlalu kuat sudah pasti kami akan dikejar sampai kamar dan di introgasi siapa yang ngebanting pintu tadi atau siapa yang ngidupin air. Jadi kalau sudah begitu, kata yang paling tepat adalah LA-TAHZAN. Teman-teman di kost ini juga yang nantinya turut menjebakku. Karena mereka semua anak ROHIS, bahkan ada yang Ketua Umum ROHIS Se-Universitas.

Dikegiatan Matrikulasi ini, kutemui teman-teman Se-Program Prodi yang juga lulus PBUD. Di akhir matrikulasi, salah satu teman se-prodiku inilah yang memaksa aku mengikuti sebuah kegiatan selama 4 hari di LPM. Nama kegiatannya Dauroh Marhalah 1 (Satu) atau Pelatihan Jenjang Satu. Padahal rencananya aku ingin langsung pulang ke kotaku tercinta, tapi dia dengan gigih memaksa ikut acara itu. Bahkan biaya registrasinya dia yang bayar. Akhirnya aku pasrah. Diawal acara, kujalani tanpa semangat tentunya hingga sosok yang kuceritakan diawal tadi muncul sebagai Pemateri. Saat moderator memperkenalkan beliau, barulah kutahu kalau beliau saat itu sebagai Ketua Umum KAMMI Daerah Riau. Kata-katanya berapi. Tidak hanya berapi-api, tetapi juga berair-air. Karena gak jarang juga air ludahnya muncrat saking semangatnya. Setelah itu, aku jadi senang mengikuti acaranya. Apalagi setelah beliau, yang ngisi acaranya adalah Presiden Mahasiswa (Jarang-jarangkan lihat Presiden langsung..hihihi..itulah yang kufikirkan dulu). Yang membuatku lebih senang lagi ternyata, diacara itu berkumpul Pejabat-pejabat besar di kampus. Ada Gubernur, Ketua BLM, Beberapa Bupati, dll. Wah.. semakin semangat tentunya. Kami di minta menghafal surat Ash-Saff dan inilah surat panjang pertama yang berhasil kuhafal dan alhamdulillah aku lulus acara itu dan dilantik sebagai kader AB 1 KAMMI (Anggota Biasa 1, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). Saat itu aku ingin sekali bisa ikut DM 2 dan DM 3, ini impianku dulu ^__^

***

Di awal kuliah aku ketemu lagi dengan Senior yang dahulu menghantarku keliling kampus ini, setelah cerita panjang lebar, akhirnya dia mengajakku ikut LK 1 HMI (Latihan Kepemimpinan 1 Himpunan Mahasiswa Islam) dan aku mengiyakan karena kufikir organisasi ini sama dengan KAMMI. Dan pada saat kegiatan berlangsung, ternyata aku mendadak tidak bisa mengikutinya. Entah kenapa sebab yang merintangiku saat itu. Merasa tidak enak juga dengan orang yang mengajak tapi apa boleh buat. Setelah itu datang lagi para senior yang ngajak ikut MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam). Dan terus terang aku tertarik, dan ikut mendaftar bersama teman-temanku. Test interview kulalui dengan mudah, hingga saat pengenalan medan lagi-lagi aku tak bisa ikut, dengan alasan yang juga kulupa saat itu. Kira-kira seminggu berselang dapat sms dari anak KAMMI untuk kumpul pembentukan Panitia DM 1 dan aku ditunjuk jadi Sekretaris Panitia saat itu. Pernah satu kali, ketua panitia tidak hadir dan akulah yang disuruh mimpin rapat. Alamakkkk.. keringat dingin mengucur deras, bingung, semua rasa bercampur. Setelah acara DM selesai dengan sukses. Aku di sms lagi, kalau aku dimasukkan ke anggota Kaderisasi KAMMI wilayah Exacta. Males juga sih ikut dikepengurusan, karena tujuanku kesini adalah kuliah. Tapi, Koordinator Kaderisasiku saat itu begitu sabar dan semangat meng-sms dan menelphone ku untuk datang rapat. Acaranya rapat dan rapat saja, fikirku. Bosan. Tapi, sms dari sang koordinator terus datang sampe aku kehabisan alasan untuk menolak tidak hadir. Hingga dipertengahan kepengurusan, dia yang justru jarang hadir rapat dan memintaku memimpin rapat. Disinilah awalku mengerti dan mahir semuanya, hingga aku kelak jadi ahli rapat (bahasa kami dulu, kuro-kuro atau kuliah syuro-kuliah syuro…hehe). Hingga suatu saat koordinatorku itu diamanahi sebagai Wakil Gubernur di fakultasnya, dan aku yang paling junior di bidang kaderisasi itu malah menjadi Koordinator secara tidak resmi. Padahal dibidang itu rata-rata yang laki-lakinya angkatan 2005 dan yang perempuannya angkatan 2004 dan ada juga yang 2005. Cuma aku yang paling junior dikepengurusan (temanku yang dulu maksa aku ikut DM, ternyata tidak lulus, kabarnya belum hafal surat yang diwajibkan. Jadi dia enggak masuk dikepengurusan. Dan akhirnya dia lepas terus gabung dengan HTI). Dan seterusnya aku ditunjuk menjadi koordinator resmi di bidang itu.

Ini yang ingin kuceritakan. Dahulu, disaat Ketua Umumnya sosok yang kuceritakan diawal tadi. KAMMI begitu luarr biasa pengaruh dan mobilitasnya. Semua Presiden/Wakil Presiden serta Gubernur/Wakil Gubernur itu adalah kader KAMMI. Bahkan sepertinya, syarat calon dari ikhwah itu harus anak KAMMI. Semua permasalahan siyasi di Universitas serasa di kelola oleh KAMMI. Kami yang anak KAMMI merasa bangga tentunya, apalagi bisa dibilang semua orang cerdas dan berpengaruh disemua kampus ada di KAMMI. Seperti sebuah lagu, Semuanya ada disini. Masih ingat saat acara berbuka puasa dimusholla balam sakti, Ketua Umum KAMMI daerah Riau itu pernah berujar begini, “KAMMI adalah benteng terakhir dakwah dikampus. Kita adalah perisai. Kita memang dilahirkan dari ROHIS tapi kita adalah anak yang melindungi ibu”. Begitu katanya sambil berteriak-teriak membenamkan kata-katanya pada kami semua para pengurus. Makanya, kalau dahulu setiap ada Pemira ditingkat Universitas atau Fakultas, selalu saja orang selalu menyebutkan, “dari KAMMI siapa yang maju?” bukan,”dari ROHIS siapa yang maju?” bukan itu. Beda-kan dengan sekarang? Kalau dahulu, masalah Pemira itu masalah pertarungan Lembaga Eksternal kampus seperti KAMMI, HMI, GMKI, dll. Karena bagi kami anak-anak ROHIS itu lemot dan agak lama nyambungnya, berbeda dengan anak KAMMI yang emang luarr biasa J sampai-sampai aku di fakultas enggan dan malas mengikuti ROHIS ditingkat fakultas. Makanya anak ROHIS itu yah tugasnya ikut dauroh, rihlah dan ngajih. Aku diminta untuk ikut dikepengurusan ROHIS Fakultas, tapi rasanya gak gue banget deh..hehe..sampai-sampai pembesar dan pengkurus ROHIS dikampusku berang juga akhirnya, dan banyak memberi wejangan bahwa seorang kader yang baik itu harus dari ROHIS dulu baru nanti masuk KAMMI.

Pernah saat KAMMI membuat kegiatan DM 1 dan kebetulan masih aku yang jadi Koordinator Kaderisasinyan (DM 1 itu bagian dari program kerja Bidang Kaderisasi). Saat kuliah, aku ditelphon oleh Ketua KAMMI Daerah. Beliau nanya dengan nada keras begini, “Akhi, siapa yang buat famplet DM?”. Aku menjawab dengan gusar, “saya yang buat bang”. “Oh.. Antum yang buat, sekarang juga antum cabut semua fampletnya!!”. Aku jawab,” cabut fampletnya? Serius bang? Banyak lho yang kami tempel, disemua fakultas.” Dengan singkat dia jawab, “Iya, lakukan segera!” dengan lemas kujawab “Iya bg..langsung saya cabut sekarang juga” (tanpa kutahu alasannya). Setelah itu aku masuk kuliah lagi dan tidak langsung mengerjakan titah tadi, tapi gak berapa menit beliau nelphon lagi. Alah mak… apa lagi ini, kemudian dengan renyah beliau bilang ke aku kalau tidak usah dicabut lagi, dia tertawa dan meminta aku untuk melihat famplet yang kubuat. Coba lihat di famplet itu, famplet KAMMI harus elegan, harus tegas, harus tampak dewasa. Gak boleh ada gambar anak kecilnya apalagi gambar kartoon. KAMMI bukanlah lembaga seperti ROHIS yang fampletnya masih suka pakai kartoon, bunga-bunga atau warna-warna pink. KAMMI itu adalah..bla..bla..I Love U, KAMMI. (Sempat juga terfikir, kalau singkatan KAMMI itu bukan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia tetapi lebih cocok dengan Kesatuan Alumni Mahasiswa Muslim Indonesia..hehe..Peace yah anak KAMMI ^_^)

Yang paling berkesan lagi adalah saat aku dan Ketua KAMMI Daerah ingin menghadiri acara persiapan DM wilayah kota. Kegiatan ini dirancang karena selama beberapa kali tingkat partisipasi mahasiswa kota sangat minim bila DM dilakukan dikampus wilayah desa. Saat itu kami belum punya motor hingga harus nge-rental motor ojek seharga Rp. 15.000 setengah hari. Sampai digerbang belakang kampus, motor mendadak mati. Ternyata minyak habis dan mau tak mau harus mendorong. Beliau bilang, “Antum naik saja akhi, biar ana yang dorong!”. Tentu saja aku gak mau, walau dia sedikit hampir maksa. Hingga kami mendorong ke SPBU terdekat dan ternyata gak ada. Nyari cetengan jauhnya minta ampun. Bajuku dan bajunya basah kuyup karena keringat. Sangat gerah dan panas. Acaranya rencana dimulai 16.30 Wib. Sementara saat itu sudah sekitar jam 16.15-an. Begitu minyak didapat, kamipun melaju. Tidak berapa jauh, hujan turun dengan deras. Aku usul untuk berteduh. Tapi karena jam sudah menunjukkan waktu acara dimulai, ia minta untuk lanjutkan saja. “Ini masih hujan air akhi, belum hujan batu. Terus terobos aja, kasihan teman-teman disana yang menunggu kita” katanya sedikit menggigil karena dingin. Akhirnya hujan yang lebat itu kami terobos dan sampai dilokasi jam 17-an lewat dengan kondisi tak satupun bagian pakaian kami yang selamat. Semuanya basah dan syukurnya teman-teman diwiliyah kota itu masih diruangan karena juga gak bisa pulang. Terkepung hujan. Begitu salaman dan cipika-cipiki, kami minta untuk rapat tetap dilaksanakan. Jadilah, kami berdua basah-basah duduk didepan mengarahkan dan memimpin acara. Begitulah, hingga akhir kepengurusan aku menjadi orang yang KAMMI banget ^__^

Ceritaku di KAMMI berakhir teragis. Di saat berakhir kepengurusan, Ketua Komisariat terpilih sudah memintaku untuk kembali bergabung dikepengurusan. Tetapi, semua itu harus di rekomendasi dari fakultas. Jadi kalau pengambil keputusannya difakultas anak KAMMI, maka biasanya ramai-lah kader di fakultas itu yang direkomendasi ke kepengurusan KAMMI dan kalau pengambil kebijakannya bukan anak “KAMMI banget” maka hanya kader-kader “sisa” yang proyeksinya ke-siyasi-lah yang direkom ke KAMMI (Mungkin ini juga efek, sehingga KAMMI menjadi seperti yang ingin kuceritakan setelah ini). Finally, aku tidak lagi bergabung di kepengurusan KAMMI. Hingga Ketua KAMMI Daerah-nya bertukar. Aku masih berkutat di ROHIS fakultas dengan amanah Anggota Kaderisasi. Pernah suatu kali Ketua KAMMI Daerah yang baru meminta untuk aku menjadi Koordinator Kaderisasi lagi di KAMMI tapi “Big Boss” difakultasku tidak berkenan. Dengan mengatakan padaku, “Kalau KAMMI itu banyak yang memikirkannya, KAMMI itu milik banyak Fakultas. Sedangkan Fakultas kita, hanya kitalah yang memperjuangkannya.” Bahkan pernah saat ada pengumuman DM II, dan aku meminta untuk ikut. Mereka difakultas bilang, “Ngapain ikut itu, nanti juga bisa. Entar kalau sudah ikut DM II, harus jadi pengurus KAMMI, entar siapa yang ngurus Fakultas kita. Rumah kita ini”. Padahal ini harapanku dulu L hingga akhirnya aku di amanahi Ketua Umum ROHIS di fakultas dan terus menjadi Ketua Dewan Pembina (DP) selama dua tahun. Saat itu, ke-KAMMI-an ku sudah luntur, banyak kader-kader fakultasku yang diminta untuk direkom ke KAMMI, malah aku yang kini tidak berkenan merekomnya. Sampai saat aku diamanahi Ketua Kaderisasi ROHIS se-Universitas, jiwa KAMMI ku benar-benar sudah hilang. Saat aku bisa memutuskan sendiri untuk ikut DM II atau tidak, saat aku bisa memutuskan kader-kader di Fakultasku boleh atau tidak ikut DM II, justru aku yang enggan untuk mengikutinya. Bahkan Ketua KAMMI Daerah pernah suatu kali minta untuk aku ikut DM II diluar Riau, di JAWA. Tapi, jiwaku bukan di KAMMI lagi. Separuh jiwaku pergi, begitu kata anang J Selanjutnya aku di amanahi jadi Ketua Umum Rohis Se-Universitas. jadilah aku sebagai AB 1 permanen. Terkadang aku bertanya sama teman-teman KAMMI, masih terdaftar enggak yah aku di KAMMI.. Hehe..

KAMMI dahulu berbeda dengan KAMMI yang sekarang. Di akhir-akhir aku dikampus, geliat KAMMI kurang terdengar lagi. Bisa dibilang tidak berperan lagi seperti dahulu. KAMMI sudah banyak main diluar kampus. Sehingga kalau ada pemilihan Presiden atau Gubernur Mahasiswa, yang berperan anak ROHIS. Bahkan saat aku Ketua Umum ROHIS Se-Universitas, aku lah yang me-lounching Calon Presiden/Wakil Presiden Mahasiswa. Makanya, kalau sekarang ada bentrok atau kerusuhan masalah Pemira. Pasti yang dituduh atau dibombardir adalah anak-anak ROHIS. Karena kini, anak-anak ROHIS yang berjibaku dan berhadapan langsung dengan lembaga Eksternal seperti HMI, GMKI, GMNI, dll. Perisai ROHIS-nya kini telah menghilang. ROHIS harus melindungi dirinya sendiri dari fitnah dan permainan tak cantik rival-rivalnya. Selain itu, ROHIS juga dituntut untuk melakukan rekrutmen. Maka wajar saja bila dari tahun ke tahun, terus terjadi penurunan dari sisi kualitas. Karena segmentasi rekrutmennya sudah tidak tertata dan terbagi dengan jelas. Keterlibatan ROHIS secara frontal berhadapan dengan lembaga eksternal itu, lambat laun akan mempersulit kerja-kerja ROHIS itu sendiri dalam rekrutmen. Bahkan ancaman pembekuan dan pembubaran ROHIS adalah sesuatu yang wajar adanya.

Itu ceritaku, kini Aku bukan anak KAMMI dan ROHIS lagi. Sebab, aku sudah keluar dari kampus. Saat itu aku dikampus kurang dari 5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sangat memuaskan lho ^____^ (Tuhkan, ada jugakan Ketua Umum ROHIS Se-Universitas yang tamatnya cepat dan punya nilai akademis yang tidak sekedar memuaskan tapi sangat memuaskan..xixixi..narsis). Gak selamanya seorang organisatoris itu harus memaksimalkan kuliahnya sampai 7 tahun lebih. Semuanya ada pilihan. Indah pada waktunya itu pasti tetapi keindahan itu hadir tergantung dari usaha kita (Hmm.. Pernah ada yang cerita, kalau dia bisa sebenarnya wisuda tapi segan dengan yang lain.. hehe.. Lucu yah? Kuliah itukah amanah jugakan? Gak kasihan sama orang tua?). Kita harus berfikir jauh kedepan, melewati ruang-ruang yang tak terfikirkan oleh orang lain. Seperti cintaku dengan dunia kampus kala itu. Tetapi tetap saja, Mencintai bukan harus disitu selamanya. Terkadang semakin banyak orang-orang tua dikampus, akan membuat kader-kader yang baru manja dan lambat pertumbuhan kualitasnya. Karena ia akan terus berpangku tangan dengan yang tua-tua. Maka pernah suatu ketika kubilang, dedaunan yang tua harus rela gugur untuk memberi ruang daun muda tumbuh. Daun tua gugur bukan berarti bermasalah tetapi untuk bermanfaat didaerah baru, dedaunan itu sebagai pupuk ditanah nantinya. Terkadang kita yang tua merasa kalau tidak ada kita maka semuanya akan terhenti, padahal itu hanya perasaan kita saja. Perasaan khawatir kita yang sudah merasa memiliki kampus itu. Gak percaya? Aku telah membuktikannya.

Hari ini, aku sudah akan memulai lagi langkah kaki-ku yang kedua dikampus itu. Walau tak seindah banyak cerita dan pengalaman orang, tapi kisah hidupku adalah episode terindah bagiku, terindah dalam memory sebait perjuanganku. Selanjutnya, aku ingin membuat warna baru dalam hidupku. Warna yang berbeda dengan warna yang pernah kurangkai dahulu. Berbeda pada warna posisi dan warna pijakan dengan yang dahulu. Esok, dua tahun lagi akan kuceritakan lagi bagaimana petualangan perjuanganku dikampus itu. Setelah kudapati gelar kedua-ku disana. Semoga ada cukup umur. Aamiin…

Iklan