http://www.youtube.com/watch?v=KCVqujgHvlM

Negara tetangga Kita yaitu Malaysia membuat panas suasana hubungan kedua negara. Terkait pada tulisan mantan Menteri Penerangan Malaysia, Zainuddin Maidin, mengenai B.J. Habibie.

hb mly

Dalam tajuk rencana di koran Utusan Malaysia, media milik partai penguasa, Zainudin menyebut Habibie sebagai pengkhianat bangsa.

Bila kita perhatikan pada Akun Twitter resmi @habibiecenter mengutip pernyataan Habibie, Selasa, 11 Desember 2012. “BJ Habibie: when s”one insults u,take it as a compliment that they spend so much time thinking abt u, when u don”t even think abt them”.

Kalau ada yang menghina Anda, anggap saja sebagai pujian bahwa dia menghabiskan waktu memikirkan Anda, sedangkan Anda tidak sedetik pun memikirkan dia.

Setelah kunjungan Habibie di Malaysia. Dia membandingkan Habibie dengan tokoh opossisi Malaysia, Anwar Ibrahim. Zainudin menyebut keduanya The Dog of Imperialism.

Habibie hadir atas undangan Universiti Selangor (Unisel) dan memberikan ceramah di hadapan para mahasiswa cendekiawan dan tokoh politik pada Kamis lalu, 6 Desember 2012. Habibie tampil bersama Anwar Ibrahim.

Habibie tidak berencana menuntut mantan menteri Zainudin untuk meminta maaf. Pendiri Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) pun meminta Pemerintah Indonesia dan juga Habibie Center untuk tidak bereaksi secara berlebihan.

Kami yakin masyarakat Indonesia cerdas membaca media. Siapa yang mengemukakan pendapat tersebut juga harus dicermati. Jangan berasumsi.

BJ Habibie & The Habibie Center menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Termasuk hak orang utk menyurakan pendapat. Itu HAK!

Sahabat terdekat Habibie, Wardiman Djojonegoro ketika ditanya seputar polemik dari Malaysia mengatakan bahwa,”Itu menggelikan bagi saya, bagaimana bisa orang yang bukan warga negara Indonesia mengatakan seperti itu, hal itu tidak usah di komentari.”

Kita tidak boleh membalasnya dengan hinaan, No comment sajalah.

Setiap penghinaan yang membuat kita bisa sadar, dan memperbaiki diri jauh lebih baik dari pada pujian yang membuat lalai dan lupa diri.

Kedepan hal-hal seperti ini tidak perlu di perbesar yang nantinya akan memperburuk hubungan baik antara kedua negara.
Mantan Presiden BJ Habibie tidak risau dengan hinaan yang dilontarkan mantan Menteri Penerangan Malaysia Zainudin Maidin yang menyebut dia dan mantan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim
sebagai ”anjing imperialisme” (dog of imperialism). Habibie malah menganggapnya sebagai pujian.
“Ketika seseorang menghina kamu, anggap saja itu sebagai pujian,” kata Habibie dalam akun Twitter The Habibie Center, @habibiecenter.

Sikap sama diambil Habibie Center yang menyatakan, penghinaan Zainudin itu merupakan bentuk hak berpendapat. “BJ Habibie dan The Habibie Center menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi. Termasuk hak orang untuk menyuarakan pendapat.”

Ucapan Zainudin itu tertulis dalam artikel di laman Utusan Malaysia. Ia menyebut Habibie pengkhianat bangsa Indonesia dan menyebutnya dog of imperialism. Komentarnya itu disampaikan menyusul kehadiran Habibie di negeri jiran atas undangan Anwar Ibrahim yang kini menjabat ketua umum Partai Keadilan Rakyat, untuk berceramah di Universiti Selangor.

“Dia (Habibie) disingkirkan setelah menjadi presiden Indonesia hanya 1 tahun 5 bulan karena menuruti desakan Barat untuk menggelar referendum rakyat Timor Timur yang menyebabkan wilayah ini keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 30 Agustus 1999,” tulis Zainudin dalam tajuk rencana berjudul “Persamaan BJ Habibie dengan Anwar Ibrahim”.

“Dia juga telah menyebabkan terjadinya perpecahan rakyat Indonesia ke dalam 48 partai politik yang mengakibatkan keadaan politik negara itu porak-poranda hingga sekarang,” tulisnya lagi.
Zainudin menambahkan, baik Habibie maupun Anwar memiliki persamaan: sama-sama musuh dalam selimut bagi pemimpin saat itu, yaitu Soeharto dan Mahathir Mohamad. Maidin menghujat Anwar yang mengundang Habibie ke Malaysia.

Nota Protes

Atas pernyataan Zainudin tersebut, DPR akan mengirim nota protes kepada Malaysia.
”DPR akan mengirim surat secara langsung kepada Perdana Menteri Malaysia untuk memberikan teguran, kecaman, dan protes kepada Zainudin terkait hal itu,” kata Wakil Ketua DPR Pramono Anung dalam rapat paripurna, kemarin.
Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa justru menyarankan DPR agar tidak melayangkan nota protes. Pasalnya, tajuk rencana itu hanya pandangan pribadi Zainudin yang tak perlu dibesar-besarkan. ” Jangan kita membuat bobot pandangan itu lebih (penting) dari yang sebenarnya,” ujarnya.