ini uneg-uneg saya kepada Allah SWT, pertanyaan maupun protes saya pribadi. Kalau saja ada tukang pos yang mau ngantar ke tempat allah SWT…

Aku ini hanya manusia biasa. Aku ini juga bukan dari kalangan ‘berada’. Aku ini hanya manusia papa yang sebenarnya lebih sering sibuk mencari pemenuhan kebutuhan perut ketimbang harus memikirkan tentang engkau, Allah SWT. Aih…. Kesal juga aku menyebut namamu yang tidak praktis dan tidak membumi…, aku sebut saja engkau ini dengan sebutan “Awoh”.

Lho, lho…. Kenapa aku harus memikirkan engkau, ya Awoh ? Ya, aku memiliki kepedulian tentang sepak terjang dari orang-orang yang mengatasnamakan pembela Awoh di bumi Indonesia. Kenapa kah aku harus peduli ? Karena sebagian anggota keluargaku.., istriku dan anak-anakku masih menganggap bahwa kau itu Awoh, sebagai pencipta dunia, katanya.. Dan aku punya kekhawatiran tersendiri bilamana orang-orang yang kukasihi di dunia ini untuk pada akhirnya bisa diperdaya oleh kamu, Awoh.

Awoh, aku merasa atau aku punya ‘feeling’ cukup kuat bahwa engkau ini hanya tokoh khayalan. Apalagi setelah aku baca asal-muasal tentang Islam dan Muhammad (di FFI)…, feeling-ku itu seperti dikuatkan… lebih dan lebih lagi. Demikian pun kalau aku belajar tentang Quran (sebagai sumber kaidah Islam utama), aku tambah bingung tentang sosokmu itu Awoh. Awoh, bila saja engkau berani tampil dan menunjukkan fakta bahwa engkau memang sosok seperti yang diidam-idamkan oleh orang Muslim, bisa jadi orang-orang kafir malah tambah banyak yang mualaf. Woh, Awoh..! Aku hanya bisa kecewa dan kecewa karena aku lihat sendiri bahwa sebenarnya sosokmu yang tidak pernah menjadi nyata, baik dalam perbuatan maupun harapan manusia.

Woh,.. aku ini sudah berusaha mempelajari Islam dan sosokmu di belakang layar Islam. Apa yang aku dapatkan Woh ?
Semakin belajar, semakin aku amati, semakin aku berusaha mengetahui…. ternyata semakin pula kiprahmu menjadi tidak jelas dan samar. Woh, kenapa ya kalau aku pelajari ternyata engkau ini semakin tergambar dalam benakku sebagai sosok yang “nggak puguh”.

Awoh, engkau ini mengaku sebagai pencipta, tapi ternyata engkau ini tidak cukup punya pengetahuan mengenai makhluk di dunia ini. Engkau malah sering salah merinci bagian-bagian anatomi manusia dan hewan, engkau juga kerap salah menerapkan kaidah alam semesta. Engkau ini pencipta model apa woh?

Awoh, engkau ini mengaku sebagai maha kuasa dan maha perkasa, tapi engkau ini harus dibela oleh umatmu. Bukankah kalau engkau memang maha kuasa maka engkau yang harus menolong umatmu, bukan sebaliknya ?

Awoh, engkau ini mengaku sebagai maha pengasih dan penyayang, tapi ternyata engkau ini sering sekali menyesatkan manusia, baik itu muslim maupun non-muslim. Bukankah kalau memang engkau ini maha pengasih dan penyayang justru seharusnya engkau memberi kesabaran lebih kepada manusia agar dapat menuju jalan pertobatan, bukan malah disesatkan?

Awoh, engkau ini mengaku sebagai maha pelindung dan memang manusia itu butuh tempat bersandar di kala mereka sulit, tapi engkau ini malah menyulitkan dan sangat sering menyesatkan manusia….

Awoh, engkau ini mengaku maha pendengar.., tapi engkau malah harus diteriaki minimal sehari lima kali dari tiap masjid di Indonesia?

Awoh, engkau ini mengaku sebagai pencipta dunia dan semestinya berfokus kepada keagungan ciptaanmu, tapi engkau sendiri malah menciptakan jin, iblis dan syaitan sebagai pihak yang melawan engkau, kok membingungkan sih Woh ? Engkau ini sebenarnya siapa, engkau ini sebenarnya sosok apa woh?

Awoh, kalau kau baca surat ini…, mudah-mudahan engkau bisa introspeksi diri. Manusia di dunia ini sebenarnya masih butuh tokoh pencipta dan teladan sejati…. bukan tokoh yang selalu “self-proclaim” bahwa ia benar padahal ia bertindakan berlawanan dengan hati nurani manusia.

Iklan