Teman seperjalanan saya di bis antar kota kemarin, berkisah tentang perjalanan hidupnya yang penuh suka duka. Pernah jaya di puncak kesuksesan, pernah pula tenggelam di derita panjang. Akhirnya dia sampai pada sebuah kesimpulan.

Hidup itu silih berganti, bagai putaran roda. Kadang berada di posisi puncak, kadang di posisi nadir. Saat ini kita bisa demikian bangkrut penuh derita dan air mata, Saat kemudian kita bisa sukses bagai bintang di surga. Kaya miskin, sukses gagal, sehat sakit adalah persoalan yang sama dengan siang dan malam. Semua sudah diatur, sudah takdir, sudah suratan nasib.

Maka sebenarnya dalam hidup yang penting bukanlah berusaha, namun adalah bagaimana hati kita bisa tulus menjalani takdir. Bagaimana kita menikmati nasib? Bagaimana kita menikmati suka duka, tawa bahagia atau tangis derita? Hanya itu yang seharusnya kita melakukan dalam perjalanan di dunia ini. Sembari terus mengingat betapa hebatnya Sang Penentu Nasib, Sutradara Kehidupan.

Dan aku termenung…. merenungi bagaimana aku harus menikmati nasibku ini? Sementara hatiku sudah sangat merindukan-MU. Kadang aku lelah menjalani hidup ini. Namun aku harus terus berjalan menujuMU. Atau jangan-jangan bukan aku yang berjalan, namun sesungguhnya Engkau yang memperjalankan hamba-MU.

Iklan