Sungguh Ironi Perakitan Airbus C 295 PT DI? Kenapa Indonesia?]=- Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso mengakui perkembangan teknologi kedirgantaraan PT DI mandeg, sejak para insinyur mereka tidak menyentuh proyek bermuatan teknologi tinggi. Hak ini terjadi sejak pemerintah menghentikan proyek pembuatan pesawat N 250. Saat krisis ekonomi RI t…ahun 1998, IMF meminta Indonesia menghentikan pembangunan N 250 dengan asalan menyedot keuangan negara.

Pemerintah patuh dengan permintaan IMF, padahal N 250 kala itu telah terbang dan tinggal membutuhkan lisensi terbang regional. beberapa waktu lalu, Airbus Military datang ke Indonesia menawarkan kerjasama perakitan C 295. Apa komentar Dirut PT DI tentang pesawat c 295 ?. “Pesawat ini pengembangan dari CN 235, sehingga tidak sulit untuk membuatnya”, ujar Budi Santoso, usai menandatangani kerjasama. Ironis sekali bukan ?. Para insinyur PT DI kini merakit C 295 milik Eropa, sementara pesawat N 250, menjadi pajangan di museum. Siapa yang bodoh dalam kasus ini ?. Ternyata IMF melarang Indonesia membuat pesawat N-250 karena punya motif lain. Negara Eropa membuat pesawat di kelas yang sama, dan tidak ingin ada saingan.

N250 Tinggal Kenangan Kunjungan Habibie Mari kita dengarkan komentar bapak penerbangan Indonesia BJ Habibie saat berkunjung ke Kantor Garuda Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang – Banten, 12 Januari 2012 silam: “Dik,……anda semua lihat sendiri……..N250 bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (oleng berlebihan). Tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan.

Diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini”. “Rakyat dan negara kita membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu. Namun, orang Indonesia selalu gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”. “Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya”.

Dik tahu…….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina dan Indonesia…… “Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”. “Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”. “Tapi keputusan telah diambil. Para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!” Pak Habibie menghela nafas…….

Apa yang disampaikan BJ Habibie benar adanya, bahkan lebih ironis lagi. Kini insinyur generasi baru di PT DI merakit 9 C 295 Airbus, yang tekonologinya sebenarnya setara dengan N 250 yang diproduksi PT DI pada tahun 1997. N 250 IPTN Mengapa PT DI menerima ?. PT DI kini relatif mati suri, tidak melakukan terobosan apapun. Para insinyur hanya membuat berbagai varian CN 235 yang sudah biasa mereka kerjakan. Mereka juga membuat berbagai jenis helikopter, yang sudah hapal di luar kepala.

Dengan adanya C 295 ini, para insinyur PT DI diharapkan mendapat tambahan teknologi baru, setelah mereka absen sejak tahun 1997. “Ini adalah momen yang membanggakan bagi negara kita dan industri kedirgantaraan nasional”, ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Mungkin Pak Menhan lupa dengan sejarah N250. Dirut PT DI menargetkan jadi pemasok utama (tier 1) bagi C293 Airbus. Jika demikian adanya, tentu Eropa akan senang. Orang Indonesia mengerjakan seluruhnya, mereka tinggal ongkang ongkang kaki sambil menerima keuntungan dari lisensi dan laba yang ditentukan.

Kita jadi ingat dengan ucapan BJ Habibie tahun 1997 saat proyek N250 dihentikan: “Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta dollar dan N250 akan menjadi pesawat terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer ddan lain lain. kita tak perlu tergantung dengan negara manapun

Iklan