oleh: socheh satria bangsa..

“Mahesa akhirnya memilih untuk menggunakan kalimat Pencinta Alam dengan harapanbisa memberikan kesejukan dan ketentraman bagi orang yang ada di sekitarnyadidalam aktivitasnya sehari-hari sebagaimana yang dimaknakan dalam unsur kataCinta dan Alam.”Ingatlah hai engkau penjelah alam :1.Take nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]2.Kill nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]3.Leave nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki]dan senantiasa ;1.Percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa2.Percaya kepada kawan [dalam hal ini kawan adalah rekan penggiat danperalatan serta perlengkapan, tentu saja juga harus dibarengi bahwa diri kitasendiri juga dapat dipercaya oleh “teman” tersebut dengan menjaga, memelihara danmelindunginya]3.Percaya kepada diri sendiri, yaitu percaya bahwa kita mampu melakukan segalasesuatunya dengan baik.Sejarah Pencinta Alam Serta PerkembangannyaApabila sejenak kita merunut dari belakang, sebetulnya sejarah manusia tidak jauh-jauh amat dari alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia berburu danmengumpulkan makanan, alam adalah “rumah” mereka. Gunung adalah sandaran kepala,padang rumput adalah tempat mereka membaringkan tubuh, dan gua-gua adalah tempatmereka bersembunyi. Namun sejak manusia menemukan kebudayaan, yang katanya lebih”bermartabat”, alam seakan menjadi barang aneh. Manusia mendirikan rumah untuktempatnya bersembunyi. Manusia menciptakan kasur untuk tempatnya membaringkantubuh, dan manusia mendirikan gedung bertingkat untuk mengangkat kepalanya.Manusia dan alam akhirnya memiliki sejarahnya sendiri-sendiri.Ketika keduanya bersatu kembali, maka ketika itulah saatnya Sejarah Pecinta Alamdimulai :Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Villemencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Saat itubelum jelas apakah mereka ini tergolong pendaki gunung pertama. Namun beberapadekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di PegununganAlpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Barangkali mereka itupemburu yang mendaki gunung. Tapi inilah pendakian gunung yang tertua pernahdicatat dalam sejarah.Di Indonesia, sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstenszmenemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di Papua.Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk salah satu gunung di gugusanPegunungan Jaya Wijaya yakni Puncak Cartensz. Pada tahun 1786 puncak gunungtertinggi pertama yang dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) diPrancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan. OrangNepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma menurut orang Tibet. Puncak Everestberhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dariSelandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisiInggris. Sejak saat itu, pendakian ke atap-atap dunia pun semakin ramai.Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari sebuah perkumpulan yaitu”Perkumpulan Pentjinta Alam”(PPA). Berdiri 18 Oktober 1953. PPA merupakanperkumpulan Hobby yang diartikan sebagai suatu kegemaran positif serta suci

terlepas dari ‘sifat maniak’yang semata-mata melepaskan nafsunya dalam coraknegatif. Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta terhadapalam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Sayang perkumpulanini tak berumur panjang. Penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dansuasana yang belum terlalu mendukung sehingga akhirnya PPA bubar di akhir tahun1960. Awibowo adalah pendiri satu perkumpulan pencinta alam pertama di tanah airmengusulkan istilah pencinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripadagemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung maknamengabdi. “Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini?.”Sejarah pencinta alam kampus pada era tahun 1960-an. Pada saat itu kegiatanpolitik praktis mahasiswa dibatasi dengan keluarnya SK 028/3/1978 tentangpembekuan total kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkankonsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan ini mula – mula dikemukakan SoeHok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedangberistirahat setelah mengadakan kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasanini, seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasipencinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan PencintaAlam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa saja.Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat.Sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Pada pertemuan kedua yangdiadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, didepan ruang perpustakaan.Hadir pada saat itu Herman O. Lantang yang pada saat itu menjabat sebagai KetuaSenat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama organisasi yang akan lahir ituIMPALA, singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam.Setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum, yaitu Drs.Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata menaruh minat terhadaporganisasi tersebut dan menyarankan agar mengubah nama IMPALA menjadi MAPALAPRAJNAPARAMITA. Alasannya nama IMPALA terlalu borjuis. Nama ini diberikan oleh BpkMoendardjito. Mapala merupakan singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam. DanPrajnaparamita berarti dewi pengetahuan. Selain itu Mapala juga berarti berbuahatau berhasil. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yangdilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat lindungan dewipengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang didasari dari faktor politisselain dari hobi individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi paramahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbaupolitik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannyaantar organisasi.

merasa sebagai pecinta alam.Dan organisasi pencinta alam pun merambah MAHESA sejak awal berdirinya. Dimulaidari puncak Gunung Bawakaraeng (2.830 Mdpl) pada tanggal 20 Mei 2007(Disepakatisebagai hari jadi MAHESA), oleh 9 orang pendiri Mahasiswa Ekonomi Program RegulerSore UNHAS (Bintang Hidayat, Hastomo, Fajrul Iman Ibrahim, Apriansyah, AhmadNasarudin, Asriadi, Muh.Hisyam, Suhardiman Sultan, dan Armawan Abdullah) yangdisetujui oleh M.Arfan yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua BEM FakultasEkonomi Reguler Sore UNHAS(yang di kemudian hari karena bersimpatik ikut bergabungdengan MAHESA dalam Angkatan I), kemudian disusul dengan deklarasi yang diadakandi Puncak Gunung Bulusaraung (1.200 mdpl) pada tanggal 09 September 2007. Dalamperjalanan kali ini ikut serta Arnan Maulana, Seorang Simpatisan (yang kemudianditetapkan sebagai Simpatisan Pendiri). Pada periode pertama Bintang Hidayatditetapkan sebagai ketua umum MAHESA.MAPALA, Konsekuensi yang harus dihadapi dari sebuah konsistensiApa yang diharapkan dengan mengikuti sebuah organisasi bernama MAPALA? Banyakmemandang sebelah mata pada organisasi ini dan terkadang mengatakan bahwakegiatannya hanya bersifat hura-hura yang menghabiskan uang. Suara itu semakinsanter terdengar bila ada pemberitaan mengenai kecelakaan yang dialami olehanggota Mapala pada waktu melakukan kegiatan di alam.Dalam sebuah diskusi (mengutip dalam artikel Kompas, Minggu 29 Maret 1992)kegiatan Mapala dapat dikategorikan sebagai olahraga yang masuk ke dalam kalibersport beresiko tinggi. Kegiatannya meliputi mendatangi puncak gunung tinggi, turunke lubang gua di dalam bumi, hanyut berperahu di kederasan jeram sungai deras,keluar masuk daerah pedalaman yang paling dalam dan lainnya. umumnya kegiatanMapala berkisar di alam terbuka dan menyangkut lingkungan hidup. Jenis aktifitasmeliputi pendakian gunung (mountaineering), pemanjatan (climbing), penelusuran gua(caving), pengarungan arus liar(rafting), penghijauan dan lain sebagainya.Tak ayal lagi bahwa kegiatan ini beresiko tinggi dan setiap anggotanya harusmemahami konsekuensi resiko yang dihadapi dengan bergabung dengan organisasi ini.Resiko yang paling berat adalah cacat fisik permanen dan bahkan kematian. Untukbisa mempersiapkan diri menghadapi resiko yang tinggi ini, dibutuhkan kesiapanmental, fisik dan skill yang memadai. Berbagai macam latihan dan pengalaman terjunlangsung ke alam dapat meminimalisir resiko yang akan dihadapi. Tapi, diluar semuaitu masih ada yang lebih berwenang untuk menentukan hidup dan mati seseorang.MAPALA, Pencinta alam atau Petualang ?Dua nama, pencinta alam dan petualang seolah-olah merupakan satu kesatuan utuhyang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologikata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidakada hubungan satu sama lainnya. Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangatsuka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalamanyang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsb. Dengan demikian, secaraetimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda,meskipun ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam. Dilainpihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup “istilah” saja, tetapi juga langkahyang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakanenviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekatdengan aktivitas-aktivitas Adventure-nya seperti pendakian gunung, pemanjatantebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alamsebagai medianya

Pembelajaran dari mendaki gunungMendaki gunung, apa enaknya, ….. apa hikmahnya Enaknya …… menikmati pemandangan mengagumi kebesaran sang pencipta.Dapat dibayangkan gunung yang begitu gagahnya serta menjulang dengan ketinggiannya… yang tersebar diseluruh dunia, dengan bermacam bentuk dan ukuran menandakanbetapa dahsyat, betapa hebat, betapa maha …. Sang pencipta.Manakala kita berada di puncak gunung, kecil kita ….. segala kesombongan,keangkuhan, keserakahan akan sirna, bagaikan debu di tiup angin …… hilang tanpaada bekas.Mendaki gunung memberikan hikmah yang begitu dahsyat ….Disadari atau tidak kita dapat belajar segala hal dalam mendaki gunung, rasapersaudaran, persahabatan yang kian kental, kemandirian yang kita peroleh, tidakmudah menyerah, rasa ego yang kian menipis dalam diri, rasa syukur yang makintebal.Mungkin masih teringat dalam benak, disaat kita belum pernah mendaki gunung …..emosi kita suka meluap, manakala pulang sekolah atau main dari rumah sahabat,perut lapar…. Dirumah hanya dihidangkan oleh ibunda tercinta nasi dengan laukalakadarnya, kita marah, kita hilang selera melihat hidangan yang alakadarnya ……Setelah mengalami hal yang mengharuskan kita bertahan hidup dalam pendakian ……makan apapun yang ada dialam, ataupun makan nasi yang masih kurang matang, ataulauk yang lebih apa adanya dibanding waktu dirumah di bagi dengan kawansependakian. Tentunya menyesal kita telah menyia-nyiakan masakan ibunda tercintayang sudah menyiapkan makan untuk anak nya tercinta dengan penuh kasih saying,hanya karena hidangan yang apaadanya.Masih terlalu banyak pembelajaran dari mendaki gunung.Terimakasih Allah engkau telah berikan pelajaran berharga, dari ciptaan Mu gunungyang begitu indah yang bukan hanya untuk dinikmati oleh mata tetapi harusdinikmati oleh hati nurani yang paling dalam serta menjaganya agar dapatmemberikan pelajaran bagi generasi yang akan datang.ROCK CLIMBINGPendahuluanOlah raga rock climbing semakin berkembang pesat pada tahun-tahun terakhir ini diIndonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi sudah sudah merupakan kegiatanyang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yangselalu muda.Pada dasarnya, rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing batu yangmemanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang dapat dijadikan pijakanatau pegangan untuk menambah ketinggian dan merupakan salah satu cara untukmencapai puncak. Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan perlengkapan yangdigunakan dalam kegiatan, juga prinsip dan etika pemanjatan.Rock Climbing bukan hanya menjadi komoditi industri olah raga dan petualngan saja.Tetapi aplikasinya juga telah menjadi komoditas industri-industrilainnya sepertiwisata petualangan,outbound training,entertaiment,iklan dan film,serta industri-industri lainnya yang membutuhkan jasa ketinggian.Oleh karena itu perlu ilmu rockclimbing yang sangat mendasar sebagai acuan yang kuat diri dan dunia rock climbingitu sendiri.Sejarah Rock ClimbingPada awalnya rock climbing lahir dari kegiatan eksplorasi alam para pendaki gunungdimana ketika akhirnya menghadapi medan yang tidak lazim dan memiliki tingkatkesulitan tinggi,yang tidak mungkin lagi didaki secara biasa (medan vertical dantebing terjal).Maka dari itu lahirlah teknik rock climbing untuk melewati medan

yang tidak lazim tersebut dengan teknik pengamanan diri (safety procedur).Seiringdengan perkembangan zaman rock climbing menjadi salah satu kegiatan petualangandan olah raga tersendiri.Terdapat informasi tentang sekelompok orang Perancis dibawah pimpinan Anthoine de Ville yang mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097mdpl) di kawasan Vercors Massif pada tahun 1492. Tidak jelas benar tujuan mereka,tetapi yang jelas, beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen diketahui adalah para pemburu Chamois (sejeniskambing gunung). Jadi pemanjatan mereka kurang lebih dikarenakan oleh faktor matapencaharian.Pada tahun 1854 batu pertama zaman keemasan dunia pendakian di Alpen diletakanoleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3708 mdpl). Inilahcikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga. Kemudian pada tahun-tahunberikutnya barulah terdengar manusia-manusia yang melakukan pemanjatan tebing-tebing di seluruh belahan bumi.Lalu pada tahun 1972 untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwalolimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam olimpiade Munich.Baru pada tahun 1979 olah raga panjat tebing mulai merambah di Indonesia.Dipelopori oleh Harry Suliztiarto yang memanjat tebing Citatah, Padalarang. Inilahpatok pertama panjat tebing modern di Indonesia.Teknik Dasar Pemanjatan / Rock Climbing1. Face ClimbingYaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau ronggayang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemulabiasanya mempunytai kecenderungan untuk mempercayakan sebagian berat badannya padapegangan tangan, dan menempatkan badanya rapat ke tebing. Ini adalah kebiasaanyang salah. Tangan manusia tidak bias digunakan untuk mempertahankan berat badandibandingkan kaki, sehingga beban yang diberikan pada tangan akan cepat melelahkanuntuk mempertahankan keseimbangan badan. Kecenderungan merapatkan berat badan ketebing dapat mengakibatkan timbulnya momen gaya pada tumpuan kaki. Hal inimemberikan peluang untuk tergelincir.Konsentrasi berat di atas bidang yang sempit(tumpuan kaki) akan memberikan gaya gesekan dan kestabilan yang lebih baik.2. Friction / Slab ClimbingTeknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Inidilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaancukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh denganmembebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baikdan pembebanan maksimal diatas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik.3. Fissure ClimbingTeknik ini memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan,dikenal teknik-teknik berikut.•Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar.Jari-jari tangan, kaki, atau tangan dapat dimasukkan/diselipkan pada celahsehingga seolah-olah menyerupai pasak.•Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar (chomney). Badanmasuk diantara celah, dan punggung di salah satu sisi tebing. Sebelah kakimenempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke belakang. Keduatangan diletakkan menempel pula. Kedua tangan membantu mendororng keatas bersamaandengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.•Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies).Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celahtersebut. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yangjuga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.•Lay Back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dankaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggungmiring sedemikian rupa untuk menenpatkan kedua kaki pada tepi celah yangberlawanan. Tangan menarik kebelakang dan kaki mendorong kedepan dan kemudian

bergerak naik ke atas silih berganti.Pembagian Pendakian Berdasarkan Pemakaian AlatFree ClimbingSesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalahdiri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilanyang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang benar. Pada freeclimbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalampelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebutia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe iniseorang pendaki diamankan oleh belayer.Free SoloingMerupakan bagian dari free climbing, tetapi sipendaki benar-benar melakukan dengansegala resiko yang siap dihadapinya sendiri.Dalam pergerakannya ia tidakmemerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorangpendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau pergerakan padarute yang dilalui. Bahkan kadang-kadang ia harus menghapalkan dahulu segalagerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukanfree soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resikoyang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yangmampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya.Atrificial ClimbingPemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing, bor,stirrup, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian seringsekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan ataupeluang gerak yang memadai.Sistem Pendakian1. Himalaya SytleSistem pendakian yang biasanya dengan rute yang panjang sehingga untuk mencapaisasaran (puncak) diperlukan waktu yang lama. Sistem ini berkembang pada pendakian-pendakian ke Pegunungan Himalaya. Pendakian tipe ini biasanya terdiri atasbeberapa kelompok dan tempat-tempat peristirahatan (base camp, fly camp). Sehinggadengan berhasilnya satu orang dari seluruh team, berarti pendakian itu sudahberhasil untuk seluruh team.2. Alpine StyleSistem ini banyak dikembangkan di pegunungan Eropa. Pendakian ini mempunyai tujuanbahwa semua pendaki harus sampai di puncak dan baru pendakian dianggap berhasil.Sistem pendakian ini umumnya lebih cepat karena para pendaki tidak perlu lagikembali ke base camp (bila kemalaman bias membuat fly camp baru, dan esoknyadilanjutkan kembali).Teknik Turun / RappelingTeknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dikategorikan sebagai teknik yangsepeuhnya bergantung dari peralatan. Prinsip rappelling adalah sebagai berikut :1.Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.2.Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagaipendorong gerak turun.3.Menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untukmengatur kecepatan.Macam-macam dan Variasi Teknik Rappeling1. Body RappelMenggunakan peralatan tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Padateknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yangterkena gesekan akan terasa panas.2. Brakebar RappeMenggunakan sling/tali tubuh, carabiner, tali, dan brakebar. Modifikasi lain daribrakebar adalah descender (figure of 8). Pemakaiannya hampir serupa, dimana gayagesek diberikan pada descender atau brakebar.3. Sling Rappel

Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyakdilakukan karena tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenissimpul yang digunakan adalah jenis Italian hitch.4. Arm Rappel / HestiMenggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan.Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam.Dalam rapelling, usahakan posisi badan selalu tegak lurus pada tebing, dan janganterlalu cepat turun. Usahakan mengurangi sesedikit mungkin benturan badan padatebing dan gesekan antara tubuh dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya :1.Periksa dahulu anchornya.2.Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang dipergunakan.3.Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikanbahwa tali sampai ke bawah (ke tanah).4.Usahakan melakukan pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah, sehinggaapabila ada batu atau tanah jatuh kita dapat menghindarkannya, selain itu jugadapat melihat lintasan yang ada.5.Pastikan bahwa pakaian tidak akan tersangkut carabiner atau peralatanlainnya.Peralatan Pemanjatan1. Tali PendakianFungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkanjenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badanyang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakiandianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapatberkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarangada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.Ada dua macam tali pendakian yaitu :•Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari beratmaksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Talistatic digunakan untuk rappelling.•Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari beratmaksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok(merah, jingga, ungu).2. CarabinerAdalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yangberfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :•Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).•Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)3. SlingSling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsisling antara lain :- sebagai penghubung- membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.- Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point- Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.4. DescenderSebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan,sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay ataurappelling.5. AscenderBerbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka biladinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.6. Harnes / Tali TubuhAlat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis harnes :•Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.•Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung

dirakit oleh pabrik.7. SepatuAda dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :•Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat.Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.•Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot.Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gayatumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.8. Anchor (Jangkar)Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan padaachor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macamanchor, yaitu :•Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing,tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.•Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada padatebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.Mengetahui perbedaan antara; nuts dan cams, friends dan carabiner, dan lainnyaBelay Device (Peralatan untuk Belay)Belay Device adalah peralatan untuk menahan tali saat pemanjatanagar pemanjat tidak terjatuh. Banyak jenis yang biasa dipakai,yang paling sering dipakai adalah ATC, Figure 8, dan Grigri.Cam atau FriendsSpring Loaded Camming Device (SLCD) atau biasa disebut cam ataufriends adalah peralatan proteksi pemanjatan yang fenomenal,diciptakan oleh Ray Jardine seorang aerospace engineer yangsenang manjat pada tahun 1973. Jika ditarik, ujungnya akan mengecilsehingga mudah dimasukkan ke celah tebing. Jika dilepas ujungnyaakan mengembang memenuhi celah tebing. Cam tersedia dalam beberapaukuran disesuaikan dengan lebar celah tebing.CarabinerAda banyak jenis carabiner, setiap jenis memiliki fungsi tersendiridalam pemanjatan.Carabiner HMS memiliki kunci (screw) sebagai pengaman, dipakaisebagai anchor pada top roping dan juga dipakai oleh belayer.Carabiner D atau Oval dan Snap (Snapring) digunakan untuk keperluanlain seperti untuk dipakai bersama dengan cam dan draw.Quickdraw atau RunnerAdalah pasangan webbing atau sling dengan dua buah carabiner jenissnapring, dipakai sebagai alat proteksi di tebing.HexesAdalah pasangan sling dengan tabung alumunium (titanium) segi enam.Berfungsi sama dengan cam, berharga lebih murah, tetapi lebih sulitdalam penempatannya di celah tebing. Seperti cam. hexes tersedia dalambeberapa ukuran.NutsNuts adalah peralatan proteksi yang paling banyak dipakai olehpemanjat tebing, fungsinya sama dengan cam dan hexes dengan harga