Akhir pekan kemarin saya mengikuti sosialisasi 4 pilar kebangsaan yang diselenggarakan oleh MPR-RI. 4 pilar tersebut ialah Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. 4 pilar yang katanya adalah fondasi negeri ini. Acara tersebut dihelat dari 29 Juni-1 Juli 2012 bertempat di hotel Orchid kota Batu. Agenda rutin MPR-RI ini ditujukan pada seratus aktivis mahaiswa dari 23 Perguruan Tinggi di Jawa Timur. Sementara narasumbernya langsung dari anggota MPR.

Pada dasarnya acara tersebut dilaksanakan untuk menanamkan nilai-nilai (doktrinisasi) Pancasila agar para aktivis mahasiswa-yang notabene calon pemimpin bangsa-mempunyai jiwa nasionalisme dan hasrat untuk mengabdi pada negara. Sosialisasi tersebut diisi dengan penyampaian materi 4 pilar kebangsaan oleh anggota MPR RI. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi antara mahasiswa dan anggota MPR-RI seputaran permasalahan negara dan mengaitkannya dengan nilai-nilai ideologi bangsa.

Ada yang menggelitik hati saya saat merenungi sosialisasi ini. Para aktivis yang sebelumnya giat berdemonstrasi untuk menyuarakan aspirasi pada wakil rakyat kini malah diundang dan difasilitasi oleh anggota dewan. Ditempatkan di hotel mewah (dalam ukuran saya), diajak berdialog tatap muka dengan anggota MPR. Diberi makan enak, tidur nyenyak, dan berbagai fasilitas lainnya.

Ada satu karakter khas dalam diri mahasiswa (khususnya aktivis). Seperti halnya media massa, mereka cenderung memposisikan diri selalu berpresepsi negatif pada legislatif. Dampaknya seringkali dalam menilai kinerja anggota dewan para aktivis mahasiswa menjadi kurang proporsional. Hal inilah yang dikeluhkan sebagian anggota dewan pusat. Hanya karena ada sebagian kecil (kata mereka) yang berperilaku negatif, publik bersikap men-generalisir bahwa semua anggota dewan pusat memang negatif.

Pada forum tersebut saya sempat mengutarakan satu hal yang menurut saya adalah akar, pokok, inti dari segala permasalahan bangsa ini. Jika saja negeri ini mengalami krisis ekonomi, krisis hukum, krisis kepercayaan, krisis politik dan berbagai bentuk krisis lainnya, pada dasarnya semua itu dilandasi pada satu krisis utama, yaitu krisis moral. Dan hal ini begitu akut menjangkit pemuda sekarang. Mungkin termasuk para aktivis itu. Di masa mendatang moral merupakan sesuatu yang langka. Bagi saya konstitusi kita UUD 1945 pasal 31 ayat 2, hanya akan menjadi teks sakral di lembaran kertas jika implementasinya tetap absurd seperti sekarang. Pasal tentang sistem pendidikan nasional yang bertujuan mencetak manusia berakhlak mulia sekarang hanya ada dalam impian kita. Jadi jika Anda ingin mengetahui bagaimana wajah Indonesia di masa mendatang, sederhananya liahat saja bagaimana laku para pemudanya di masa sekarang.

Kadangkala saya tertawa sendiri melihat laku para aktivis itu. Toh seperti halnya para korup sekarang, saya juga mereka adalah kandidat koruptor di masa mendatang. Koruptor yang saya rasa akan jauh lebih kompeten dari generasi sekarang. Ini bukan asumsi buta. Di negeri ini uang jauh lebih berharga dari sekedar sebuah idealisme. Ya, negeri ini sedang berproses dari negeri sekarat menjadi negeri gagal. Tuhan seakan memberi contoh pada penduduk dunia bahwa negeri dengan potensi terbaik di muka bumi menjadi tak bermakna saat moralitas terkandang dan egoisme menjadi baju dalam sistem sosialnya.

Kembali pada sosialisasi 4 pilar kebangsaan, ada satu hal yang sangat membuat saya bingung. Pada akhir acara tersebut seluruh peserta diberi uang tunai (katanya uang transport) sebesar Rp. 505.000. saya bingung entah apa yang ada dalam benak anggota dewan hingga memberi uang sebesar itu. Tentu itu adalah uang rakyat. Bagi saya sekedar diberi fasilitas diskusi langsung dengan anggota dewan dan ditempatkan di hotel saja adalah sesuatu yang luar biasa. Namun jika ada beberapa kawan yang mengatakan itu adalah uang pencitraan saya rasa rada berlebihan. Entahlah apa yang mendasari itu, bahkan untuk sekedar berpspekulasi pun saya tak bisa atau lebih tepatnya tak mau.

Ada kecamuk dan gejolak dalam hati saya waktu menerima uang itu. Ada perseteruan antara nurani dengan nafsu. Nafsu ini selalu saja menginginkan hal-hal yang hitam dengan segala dalih-dalih dan dalil-dalil pembenaran. Sebisa mungkin saya merangsang sisi nurani saya. Memantapkannya. Meyakinkannya. Toh jika uang tersebut saya gunakan untuk hal-hal yang konsumtif maka hanya akan berakhir di WC. Syukurlah pada akhirnya nurani yang berbicara.

Pada akhirnya saya akan tetap mengatakan bahwa saya akan selalu menjaga mimpi saya. Impian terbesar saya. Selama saya masih hidup mudah-mudahan saya akan menemukan suasana Indonesia yang sejahtera, damai, hukum yang berkeadilan, dan membanggakan bagi warganya. Entahlah, semoga saja saya menemukan saat-saat itu.

Narasumber:

· Lukman Edi (F-PKB Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Martin Hutabarat (F-Gerindra Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Joseph Noe (F-Golkar Anggota DPR-RI/MPR-RI )

· Yusyus Kuswanda (F-Demokrat Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· A. Dimyati Natakusuma (F-PPP Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Mardiana Indraswati (F-PAN Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Achmad Basarah (F-PDIP Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Lukman Hakim Saifuddin (F-PPP Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Djamal Aziz (F-Hanura Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Hari Wicaksono (F-Demokrat Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Ahmad Farhan Hamid (F-PAN Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Sri Rahayu (F-PDIP Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Hatifah Sjaifudian (F-Golkar Anggota DPR-RI/MPR-RI)

· Muhammad Sofwat Hadi (Anggota DPD-RI Kalsel/Anggota MPR-RI)

· Ustadz TB Sjoenmandjaya (F-PKS Anggota MPR-RI)

(Bagi saya: Beliau salah satu contoh politisi yang kekeuh menjunjung moralitas)

· Elnino M. Husein Mohi (Anggota DPD-RI Gorontalo/Anggota MPR-RI)

(Politisi Ulung Muda. Bisa diskusi sampai tengah malam adalah hal luar biasa bagi saya)