Program Orientasi Kampus atau yang lebih sering dikenal dengan OSPEK selalu mengundang dilema. Dari beberapa obrolan dengan orang tua mahasiswa baru, saya menggarisbawahi jika OSPEK masih identik dengan beberapa kegiatan yang tidak masuk akal dan jauh dari nuansa akademik. Secara kasar saya menyebut model OSPEK yang dipergunakan mengandung unsur pembodohan (jahiliyah) bukan untuk membuat calon mahasiswa berpikir kritis layaknya seorang intelektual yang bermoral baik.

Saya mengalamai kegiatan orientasi ketika akan masuk ke jenjang SMA dan Perguruan Tinggi (S1). Ketika ditanya untuk jujur seputar pengalaman saya ketika mengikuti kegiatan-kegiatan orientasi bagi siswa dan calon mahasiswa, maka saya menjawab jika kegiatan tersebut membuat saya merasa dilecehkan dan dibodohi. Terus terang saya merasa dikibuli dengan aneka kegiatan yang aneh-aneh dan tidak masuk akal. Saya tidak paham apa maksudnya setiap peserta orientasi harus datang jam 5 pagi, memakai kaos kaki berbeda warna, membeli barang aneh-aneh, membawa uang kecil, memakai atribut seperti orang gila dll. Yang saya tahu kegiatan GILA saat orientasi memang membuat banyak mahasiswa frustasi dan merasa dilecehkan. Saya melihat kasus BULLYING dilegalkan oleh lembaga pendidikan kita melalui kegiatan orientasi bagi siswa ataupun calon mahasiswa. Sudah saatnya STOP kegiatan orientasi yang mengarah pada BULLYING dan pilih kegiatan yang lebih mencerminkan sisi moralitas dan intelektualitas yang baik atau pilih kampus yang memang memiliki integritas yang baik dalam sisi moralitas dan intelektualitas.

Saya mengamati dalam kegiatan orientasi, tidak hanya perilaku fisik yang kasar dari senior tetapi juga ucapan-ucapan menyakitkan sering kali terdengar. Hanya orang bermental preman yang akan merestui kegiatan yang mengandung unsur BULLYING tersebut. Di manakah letak sisi edukasi dari kegiatan teriak-teriak tersebut.? Dari kasus ini maka jangan heran jika moralitas bangsa Indonesia aneh, karena memang diisi oleh mereka-mereka yang aneh yang senang memanfaatkan orang lain. Mungkin ada kebanggaan ketika bisa mengerjai atau membodohi orang lain. Mungkin bangga ketika melihat orang lain kelihatan bodoh. Mungkin bangga melihat orang lain susah. Mungkin bangga melihat orang lain dalam masalah. Mungkin bangga ketika dianggap sebagai senior yang harus dihormati. Mungkin bangga ketika bisa memperolok orang lain di muka publik. Mungkin bangga ketika bisa melampiaskan kekesalannya kepada orang lain.

Saya selalu bertanya, mengapa kampus juga dipenuhi dengan kegiatan yang biadab’? Jika terus demikian, maka “jangan kaget jika mental bangsa ini dijiwai oleh kekerasan dan premanisme, karena mereka dididik dalam lingkungan yang berjiwa premanisme”.

Saya pribadi tidak mempersalahkan program orientasi kampus bagi mahasiswa baru, selama masih mengarah pada hal akademik yang mengembangkan sisi intelektualitas calon mahasiswa. Seharusnya kegiatan yang ditonjolkan adalah bagaimana menjadi seorang mahasiswa? Bagaimana sistem pembelajaran di perguruan tinggi? Bagaimana berinterakasi dengan dosen?

Kampus tidak boleh tinggal diam ketika melihat kegiatan orientasi penuh dengan kegiatan pembodohan dan kekerasan. Para petinggi kampus harus buka mata dan pikiran ketika menyetujui semua kegiatan untuk orientasi mahasiswa baru, bukan hanya pura-pura tidak tahu. Kampus merupakan lingkungan akademik, semua kegiatan harus bersifat akademik dan relevan dengan teori-teori pendidikan.

Sebagai orang tua wali, kita berhak untuk mengajukan komplain atau keluhan ke pihak universitas atau lembaga pendidikan jika menemukan kegiatan ospek jauh dari unsur akademik. Laporkan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Kenapa kita harus takut melapor? Jangan biarkan anak-anak kita menjadi korban kekerasan (bullying), pelecehan, penyiksaan dan pembodohan yang dilakukan oleh mereka yang seharusnya memahami arti sebuah pendidikan.

Sebaiknya orang tua memantau kegiatan anak selama orientasi. Ajak mereka bercerita, apa saya yang dilakukan selama masa orientasi. Jika perlu dan ada waktu, luangkan waktu sebentar untuk memantau di lapangan apa yang mereka kerjakan selama orientasi mahasiswa baru berlangsung. Kita berhak mendapatkan ijin oleh pihak lembaga pendidikan untuk memantau kegiatan orientasi, jika perlu lakukan pengamatan langsung di lapangan. Sebagai orang tua kita berhak untuk mendapatkan kepastian jika anak-anak kita diperlakukan dengan baik secara manusiawi selama masa orientasi. Jika pihak kampus tidak memberikan ijin, Anda harus curiga dan mencari tahu alasan mereka. Kita berhak untuk mengajukan gugatan kepada pihak kampus.

Akhir kata, mari selamatkan anak-anak kita dari tindak kekerasan, pelecehan, penyiksaan, dan pembodohan yang justru dilakukan di lembaga pendidikan. Saatnya para orang tua wali bersatu untuk menuntut lembaga pendidikan bekerja sesuatu dengan filosofi pendidikan.

Salam Pendidikan.