RMOL. Saat tiba di kantor Panwaslu di Jalan Suryapranoto siang kemarin (Senin, 6/8), Rhoma Irama menangis. Rhoma juga kembali meneteskan air mata saat akan menggelar jumpa pers bersama Panwaslu.

Pagi ini (Selasa, 7/8), Rhoma kembali menjelaskan alasan mengapa dia menangis. Rhoma pun menegaskan bahwa ia menangis spontatitas, yang artinya tidak direkayasa.

“Saya menangis bukan karena menyesal, saya menangis bukan karena takut. Saya menangis karena terharu lihat pendukung yang takbir dan shalawat,” kata Rhoma di salah satu televisi swasta (Selasa, 7/8).

Dalam kesempatan ini, Rhoma pun menegaskan bahwa isi ceramahnya beberapa waktu lalu tidak mengandung SARA. Rhoma hanya menyebutkan identitas sosial, dalam hal ini latar belakang suku dan agama, calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta yang akan bertarung di putaran dua.

“Penyebutan ini agar masyarakat tahu. Ini zaman keterbukaan,” ungkap Rhoma, yang juga mengatakan bahwa mesjid bukan semata tempat ibadah ritual belaka, melainkan juga tempat untuk membicarakan urusan sosial dan politik umat Islam.

“Mesjid itu homogen dan otonom,” tegas Rhoma
Air mata Raja Dangdut, Rhoma Irama mengalir saat mendatangi kantor Panwaslu DKI untuk diperiksa terkait tudingan kampanye berbau SARA. Salah satu putra Rhoma, Vicky Rhoma mengatakan bahwa emosi ayahnya tersentuh dengan banyaknya dukungan dari penggemar dan kalangan ormas.

“Jadi sebenarnya hanya luapan emosi, pada saat turun dari mobil melihat sudah ramai (pendukung). Sampai masuk ke dalam saja masih berair, berkaca-kaca. Saat di dalam juga masih nangis,” kata Vicky saat ditemui usai mendampingi pemeriksaan Rhoma di kantor Panwaslu DKI, Jalan Suryopranoto, Jakarta Pusat, Senin (6/8).

Vicky membantah jika ayahnya menangis karena merasa disudutkan akibat dilaporkan melakukan pelangggaran pemilu. Ia menegaskan, Rhoma menangis hanya karena terharu melihat kesetiaan pendukungnya.

“Bapak terharu dengan mereka-mereka yang di luar shingga saat duduk dan kasih statement, emosi itu masih ada. Bukan karena merasa tersudut,” ujar vokalis band rock dangdut tersebut.

Rhoma diperiksa Panwaslu karena ceramahnya di Masjid Al Isra, Tanjung Duren dilaporkan sebagai kampanye berbau SARA. Rhoma diadukan oleh pasangan cagub Jokowi-Ahok.

Menurut Rhoma, ceramahnya bukanlah pesanan salah satu pasangan calon gubernur. Ia mengaku hanya menjalankan kewajibannya sebagai seorang ulama.

“Apalagi saya di sana perlu diketahui bukan kampanye uang. Saya sebagai ulama wajib sampaikan pesan Allah dalam berbagai macam kondisi,” tegasnya sambil menangis.

Pemeriksaan Rhoma Irama berlangsung tertutup selama satu jam di lantai 7 gedung Panwaslu DKI, Jalan Suryopranoto. Pemeriksaan Rhoma mendapat dukungan dari puluhan massa yang berasal dari berbagai ormas

Iklan