Ribuan warga lima desa di Kecamatan Bikomi Nilulat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur, saling serang dengan warga Districk Pasabe-Oecusse, Republic Demokratic Timor Leste (RDTL), Selasa (31/7/2012).
Pertikaian fisik menggunakan batu ini akibat ulah warga RDTL menyerobot dan menggusur lahan di zona netral (zona damai) untuk membangun Kantor Bea dan Cukai.
Saling serang menggunakan batu dilakukan dua kali. Pada pukul 13.00 Wita warga lima desa dari Kecamatan Bikomi Nilulat melempari warga dan operator exavator yang sedang menggusur lahan.

“Perang batu hanya berlangsung sekitar 15 menit. Sebab aparat TNI Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dibantu aparat Polres TTU datang melerai,” kata Kepala Desa Haumeni Ana, Siprianus Asuat, melalui telepon genggamnya, Selasa (31/7/2012) sore.
Warga yang terlibat perang batu berasal dari Desa Haumeni Ana, Desa Sunkaen, Desa Nilulat, Desa Tubu dan Desa Batnes melawan ratusan warga dari beberapa desa di Districk Pasabe, RDTL.
Senjata tajam yang dibawa warga disita oleh aparat TNI dibantu polisi. Sweeping senjata tajam dipimpin langsung Komandan Kodim 1618/TTU, Letkol (Arm) Eusebio Hornai Rebelo, dibantu Wakapolres TTU, Kompol Yulian Perdana, S.Ik.
Aksi saling lempar batu pecah lagi pukul 17.30 Wita, ketika hari sudah mulai gelap. Saat itu, menurut Siprianus Asuat, warga sedang berkumpul di Polindes Haumeni Ana, mendengarkan arahan dari Dandim 1618/TTU, Lekol (Arm) Eusebio Hornai Rebelo, agar warga pulang dengan tertib ke rumah masing-masing.
“Tiba-tiba seorang anggota Civpol (Civil Police) dari RDTL bernama Jorge Seko, memimpin ratusan warga RDTL menyerang kami di Polindes Haumeni Ana. Warga pun membalas lemparan batu itu. Perang batu hanya berlangsung 15 menit karena berhasil dilerai aparat TNI dan polisi,” ungkap Siprianus Asuat.
Ia mengatakan, saling serang sebanyak dua kali itu tidak menimbulkan korban luka-luka.
“Cuma apakah warga RDTL ada yang luka kena lemparan batu, saya tidak tahu,” katanya.
Camat Bikomi Nilulat, Lodovikus Lake, membenarkan ketika dikonfirmasi kebenaran saling serang antarwarga RI dan RDTL di Desa Haumeni Ana.
“Tapi sekarang warga sudah membubarkan diri dan sudah pulang ke rumah masing-masing,” kata Lake melalui telepon genggamnya, Selasa (31/7/2012) malam.
Ia mengatakan gelagat bentrok fisik akan pecah sudah diketahui sejak Senin (30/7/2012) sore ketika satu unit exavator masuk ke lokasi sengketa dan parkir di zona netral.
Dandim 1618/TTU, Letkol (Arm) Eusebio Hornai Rebelo, dibantu aparat TNI Satgas Pamtas RI dan RDTL berjaga-jaga di perbatasan, mengantisipasi serangan fajar warga Desa Haumeni Ana.
Dandim 1618/TTU Letkol (Arm) Eusebio Hornai Rebelo, belum berhasil dikonfirmasi tentang kasus bentrok antarwarga di perbatasan RI dan RDTL. Dihubungi berkali-kali, namun telepon genggamnya tidak aktif. Pesan singkat pun tidak direspons.
Sebelumnya diberitakan pula hubungan antarwarga Desa Haumeni Ana, Bikomi Nilulat di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dengan warga Pasabe, Districk Oecusse, Republic Democratik Timor Leste (RDTL) sejak Sabtu (21/7/2012) ‘memanas’ dan tegang.
Dikhawatirkan akan timbul konflik horizontal antarwarga yang berdomisili di perbatasan RI-RDTL itu. Pasalnya, pihak RDTL secara sepihak melakukan penggusuran lahan di zona netral (zona damai) untuk membangun Kantor Bea dan Cukai.
Terkait situasi tegang ini, Komandan Resort Militer (Danrem) 161/Wirasakti Kupang, Brigjen TNI Ferdinan Setiawan, didampingi Dandim 1618/TTU, Lekol (Arm) Eusebio Hornai Rebelo, turun ke lokasi konflik, Selasa (24/7/2012) siang.
“Situasi memang sedikit memanas. Tapi itu antarwarga. Bukan antar aparat keamanan. Situasi sudah berhasil dikendalikan. Dan akan ditindaklanjuti dengan dialog-dialog antar perwakilan warga dan pemerintah dua negara,” kata Setiawan kepada para wartawan di Kefamenanu Selasa sore.

Bentrokan antara warga Desa Haumeni Ana dengan warga Pasabe, Distrik Oekusi Timor Leste, terjadi dua kali pada Selasa (31/7).
Menurut Kepala Desa Haumeni Ana, Siprianus Asuat bentrokan itu terjadi karena warga desa keberatan dengan rencana pembangunan kantor imigrasi, di wilayah zona bebas kedua negara.
“Penyebab itu adanya alat berat dari Timor Leste melakukan penggusuran tanah di zona netral di Haumeni Ana, masyarakat tidak puas maka dilakukan bentrok, karena sebelumnya pada 24 Juli lalu Danrem dari Kupang menegaskan bahwa disana zona netral tidak ada pembangunan apapun,” kata Siprianus.
Siprianus mengatakan bentrokan ini merupakan yang ketiga kalinya, setelah peristiwa bentrokan yang terjadi pada 2005 dan 2011 lalu.
Menurut keterangan Siprianus, kejadian sebelumnya disebabkan oleh pembuatan lampu jalan dan pembukaan lahan perkebunan oleh warga Timor Leste di zona bebas.
Tidak ada satu pun negara yang dapat mengklaim zona bebas tersebut sesuai perjanjian antara Indonesia dan Timor Leste pasca referendum.
Sejumlah pejabat Kementerian Luar Negeri Indonesia dan Timor Leste yang dihubungi BBC Indonesia belum dapat dimintai tanggapannya.