perbedaan mencolok antara pegawai negeri dengan swasta adalah pada kinerja. Kalau pegawai swasta dituntut untuk selalu kreatif, inovatif, dan semangat tinggi karena perusahaan atau tempatnya bekerja adalah juga tempat mencari uang. Bila uang tidak dapat maka gajianpun akan seret. Berbeda dengan PNS yang gajinya sudah ketahuan tiap bulan. Makanya mereka digaji kecil. Karena itu, motivasi dan kreatifitas mereka juga rendah. Banyak PNS yang bolos kerja dan atau masuk kerja sesuaka hati atau bekerja juga sesuka hati.

Saya ingin menceritakan hal ini di kalangan guru-guru PNS di sekolah negeri yang pernah saya kunjungi atau juga di tempat anak saya sekolah. Saya menyaksikan guru-guru santai-santai banget apalagi guru piket tamu. Saya pernah bertamu ke sebuah SMAN di Jakarta yang saya longok atau kunjungi web-nya (karena juga mencantumkan alamat web), namun masya Allah sungguh memalukan. Tidak ada isinya alias kosong melompong. Bagi orang yang rajin mengunjungi web-web pasti akan mengatakan sama dengan saya. Padahal promosinya masya Allah, huebat tenan. Ketika saya masuk, saya dihadapkan pada tiga orang guru perempuan yang bertugas piket jaga tamu sedang asyik ngerumpi, sambil cekikikan, tertawa lebar. Sayapun ditanya mau ketemu siapa? Saya bilang mau ketemu bu guru anu?. Lalu dijawabnya, ‘Oh..bu gurunya sedang rapat dengan guru yang lain”. Padahal sebelumnya saya sudah telpon dan janjian dengan guru itu, jam berapa saya bisa ketemu. Akhirnya saya bilang sama bu guru piket itu, “Bu, saya sudah telpon dulu sebelum kesini. Dia bilang kosong dan silahkan bila mau ketemu”. Ketahuan udah bohong.

Maksud saya, para guru piket tamu atau guru piket kelas (bila ada guru yang kosong) selama masa menganggur dan kosong bisa membuat tulisan untuk bahan website sekolah. Apabila satu hari ada satu buah tulisan saja, maka seminggu sudah tersedia 5 buah tulisan. Mungkin ini kelewat ideal. Satu minggu satu tulisan saja sudah cukup. Atau apabila tiap guru itu piket seminggu sekali saja, sudah ada beberapa tulisan untuk bahan web yang tentunya berisi tentang sekolah, kegiatan sekolah dan lain sebagainya. Nanti ada guru yang juga ditugaskan untuk mengedit atau memperbaiki dan melengkapi bahan-bahan yang sudah dibuat. Sungguh banyak sekali bahan yang bisa ditulis bila memang ada kreatifitas dari elemen sekolah, ya kepsek, ya guru, ya pejabat yang berwenang lainnya. Kalau guru yang mengajar sih memang banyak sekali alasannya, ya sibuk mengajarlah, ya sibuk anu-lah, sibuk ini-lah, dsb.

Terus di sekolah lain setingkat SMPN juga tempat anak saya sekolah saya mendapatkan banyak guru juga yang tidak mau kreatif atau mengajar ’semau gue dewek’. Dengan alasan ada rapat atau lainnya, dia tidak mengajar. Celakanya, pelajaran itu pelajaran IPA misalnya, yang harus menjelaskan sistematikanya kepada anak didik. Sayangnya, si guru hanya memberikan atau menyuruh kerjakan soal dari buku LKS. (Soal LKS ini juga menurut saya tidak tepat dan aneh. Sungguh membebani anak didik. Padahal dari buku kurikulum saja sudah membebani anak didik, dan cukup sebagai bahan ajar). Saya tanya di rumah, memang guru tidak menerangkan tadi di kelas? “Tidak,” Jawabnya. Gurunya ada rapat di luar. Dan sudah seringkali guru-guru di sekolah lain juga yang kerjanya hanya menyuruh siswa/i mengerjakan soal dari LKS tanpa memberikan penjelasan. Hal ini sangat umum di berbagai sekolah negeri, bahkan boleh jadi juga di sekolah swasta, yang sebetulnya mencerminkan guru yang tidak bertanggungjawab.

Memang sangat sedikit orang yang menyadari tanggungjawabnya. Saya alhamdulillah banyak bergaul sama orang asing yang penuh dedikasi dan tanggungjawab dalam bekerja dan rata-rata di swastasehingga saya menimba ilmu kehidupan. Dari mereka bahkan menjadi motivasi hidup saya. Mereka mengatakan bahwa kita digaji berdasarkan kontrak kerja kita. Bahkan tanggungjawabnya bukan hanya kepada pimpinan, namun juga kepada Tuhan. Karena sebenarnya kita meneken (menandatangani) kontrak kerja dengan Tuhan. Dan Tuhan mengawasi pekerjaan kita.

Oleh karena itu, saya pernah mentraining mengenai maind set para PNS eselon IV di sebuah Provinsi di Sumatera. Ketika kami mau melakukan malam ‘muhasabah’ (introspeksi diri), muncul resistensi yang sangat keras menolak dari peserta yang rata-rata adalah PNS dan pimpinan. Mereka takut kutukan Tuhan karena memang kesehariannya menyimpang dari pekerjaan. Sungguh mengenaskan.

Jadi, begitulah kira-kira gambaran umum para PNS di Indonesia. Makanya, saya bersyukur guru saya di pesantren dimana Pak Kiayi saya melarang santri-santrinya masuk jadi pegawan negeri (PNS). Beliau anti sekali. Kalau ‘eluh masuk pegawai negeri, gua gak redoin’. Begitu kata beliau. “Lebih baik elu bangun masyarakat”. Begitu selalu pesnnya.

salam damai,,,

 

 

 

Iklan