30-07-2012,
Kondisi petani tambak (petambak) di Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung kian merana. Pasalnya, tambak mereka bertambah hancur diterpa gelombang Laut Jawa.

Awalnya, belasan petambak berharap kondisi secepatnya pulih, namun faktanya mereka terpaksa gigit jari. “Kami sempat berharap air yang menggenangi tambak cepat surut. Namun sepertinya harapan tinggal harapan karena bukannya menyusut malahan semakin merusak,”ujar Syamsuri (42) seorang petani Minggu (21/7).
Dia mengaku mengelola tujuh hektare lahan di pesisir Jawa. Tambak menjadi lokasi berkembangbiaknya bandeng dan udang. Hasilnya pun lumayan dirasakan keluarga dan membayar sekolah anak. Dalam sekali masa panen ikan uang puluhan juta diraup. Selain dipakai membayar kuliah buah hatinya sisanya ditabung.

Hanya saja kecemasan menghantui Syamsuri, seiring abrasi Laut Jawa. “Tambak saya tinggal dua hektare. Selebihnya musnah ditelan gelombang,”ucapnya sedih.

Petambak lain, Ulin (32), mengaku kehilangan harapan untuk mengelola tambak dengan baik. Abrasi selama bertahun tahun menjadikan empat hektare lahan miliknya tinggal tersisa kurang satu hektare. Kondisi itu memengaruhi hasil panen ikan yang tak lagi seberapa dan terus menerus rugi.

“Ketika tambak masih utuh untuk mendapat uang Rp 2- 4 juta per bulan mudah. Namun dengan kondisi tambak hancur mengumpulkan uang Rp 1 juta sulitnya bukan main,” keluhnya.

Kades Kedungmutih H Hamdan mengaku setiap saat menerima keluh kesah petani. Bahkan seorang petambak yakni Abdusalam ditemukan meninggal mendadak di lokasi tambak miliknya Jumat petang lalu. Kemungkinan, dirinya tidak kuat menghadapi kenyataan tambak yang dijadikan mata pencaharian turun temurun musnah.

Mulai Depresi

Kades Hamdan mengaku mengkhawatirkan kondisi serupa menimpa warga lainnya. Sebab, sepengetahuannya terdapat beberapa petambak yang mulai mengalami depresi lantaran tambaknya musnah.
“Harus diakui mengelola tambak butuh modal jutaan hingga puluhan juta rupiah. Mendapati lahan mencari nafkahnya porak poranda tentunya menyakitkan bagi warga yang sudah mengeluarkan uang banyak,” ucap kades.

Disebutkan luas tambak di Desa Kedungmutih semula mencapai lebih 75 hektare. Namun seiring abrasi jumlahnya terus menyusut kurang dari 10 hektare. Kenyataan itu menunjukkan gempuran gelombang pasang tak terbendung lima tahun terakhir. Dia sekaligus meminta penanganan dari pemerintah menyusul terikisnya tambak petani di Kedungmutih.
Terpisah anggota DPRD Demak yang berasal dari daerah pesisir Wedung, HM Fathan dan Slamet mengaku prihatin dengan kondisi demikian. Mereka menyatakan harus dilakukan penanganan tepat agar keluhan warga tertanggulangi.

“Kalau sudah seperti ini muncul kekhawatiran warga terpaksa pindah rumah akibat rob. Kondisi serupa pernah muncul di Desa Bedono Kecamatan Sayung yang mengharuskan warganya relokasi ke daerah aman,” ungkap Slamet.

para petani tambak kedung mutih wedung demak mengharapkan adanya penyudetan kali wulan yang terletak di dukuh menco berahan wedung demak di di alirkan ke utara di karenakan dengan adanya penyudetan tersebut maka adanya pendangkalan (delta)lumpur yang dapat menjadi daratan kembali.