Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ()
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS Muhammad/ 47 : 7).
Semalaman penuh “Pencari Tuhan” membuka lembar-lembar buku babad Syeh Siti Jenar, entah apa yang di cari dalam buku tersebut. Rona wajahnya menyiratkan keseriusan, bahkan nyamuk-nyamuk yang hinggap untuk menghisap darahnya sudah sedemikian gemuk sampai tidak bisa terbang karena kegendutan.

Dalam-dalam dihisapnya rokok ditangan dan diseruputnya kopi hitam. Asyik sekali dia. Sesekali didongakkannya kepala, pikirannya menerawang menembus batas cakrawala fikir. Buku tersebut bercerita tentang sebuah ajaran yang direduksi sedemikian hingga, bahkan sampai melecehkan sebuah agama.

“Apakah sebuah agama perlu dibela, bukankah Tuhan sendiri tidak perlu sebuah pembelaan? karena Dia Maha Kuasa untuk meluluh-lantakkan sebuah kaum yang ingkar kemudian akan diganti kembali dengan yang baru. Sebuah kaum yang akan dengan segera menyambut seruanNya dan saling tolong menolong serta benci terhadap kekufuran.”

Dihisapnya kembali dalam-dalam rokok di tangan, kemepul asap bermain ditiup angin, melenggak-lenggok bak penari Srimpi kemudian hilang perlahan lalu sirna. Dihirupnya kopi hitam buatan sendiri, lalu berpikir kembali.

“Sudah terlalu banyak nasihat-nasihat yang disudutkan, dipermainkan, dilecehkan. Terlalu lama agama ini dikebiri oleh penguasa negeri dan sudah tak terhingga agama ini dinistakan, baik darmo gandul, satanic versus dan mungkin satanic-satanic lainnya. lalu dimana aku berada, memposisikan diri…?”.

“Lalu apa yang aku lakukan saat ini, bahkan terhadap kehidupan yang semakin keras saja terkadang aku timbul tenggelam, tidak jarang kalah dalam hidup…walaupun kemudian aku bangkit berdiri untuk merebut kembali sebuah keyakinan”.

Buku ditangannya semakin lecek sebab berkali-kali dibaca. Entah sudah kali berapa buku ini khatam. Di ujung malam, diakhiri dengan hisapan dalam rokok dan seruputan kopi, dia melangkah menuju padasan untuk berwudlu, menekadkan hati lalu tegak berdiri.

“Boleh jadi darmo gandul, Salman Rusdi, Nata Sejiwo bahkan Dajal sekalipun menjelma dihadapanku, memfetakompli sebuah keyakinan dengan secara nyata, menyudutkan, mengencingi lalu membuang di sudut laiknya sampah. Sungguh aku akan tetap berjalan walau terpincang-pincang dan terseok-seok. Aku akan menjadi udara, jika aku disekat, aku akan menjadi cahaya. Jika cahaya dibendung maka aku akan menjadi ruh. Ruh menyusup diberbagai dimensi…ditegakku ini aku akan kembali….aku akan kembali.

sochehsatriabangsa.wordpress.com

Iklan