Hari Suwandi, korban Lapindo yang jalan kaki dari Porong, Sidoarjo ke Jakarta tiba-tiba meminta maaf pada keluarga Bakrie. Hari yang 25 hari jalan kaki memperjuangkan nasib korban lumpur Lapindo ini secara mengejutkan tampil di tvOne. Dia menangis telah mencemarkan nama Aburizal Bakrie. Aneh, biasanya Suwandi garang memaki Bakrie.

Suwandi tampil dalam acara Apa Kabar Indonesia dan diwawancara Indriarto Pribadi dari tvOne. Istri dan anaknya juga turut tampil dalam acara itu.

“Selama 16 hari di Jakarta tidak ada satu pun pemerintah yang menemui saya. Saya berubah pikiran yang intinya kami sangat menyesali tindakan kami yang melakukan aksi jalan kaki dari Porong-Jakarta untuk meminta pemerintah menyelesaikan ganti rugi lumpur Sidoarjo,” ujar Suwandi seperti ditayangkan tvOne, Rabu (26/7). Tayangan soal Suwandi ini masih bisa dilihat di situs http://video.tvonenews.tv.

Suwandi mengaku hanya dipengaruhi sekelompok orang untuk berangkat ke Jakarta. Dia menyebut orang-orang itu tidak bertanggung jawab dan hanya menjadikannya sebagai tameng. Suwandi sempat menangis saat meminta maaf pada keluarga besar Bakrie. Terutama Aburizal Bakrie yang namanya terus dicemarkan olehnya.

“Saya minta maaf pada keluarga Bakrie. Saya menyesal. Saya minta maaf,” ujar Suwandi sambil menangis.

Suwandi mengaku telah sadar akan maksud baik dari keluarga Bakrie. Dia pun berniat pulang ke Sidoarjo setelah minta maaf pada keluarga Bakrie.

“Sekarang saya mau pulang,” aku Suwandi.

Suwandi sendiri membantah berubah pikiran karena ditekan keluarga Bakrie atau diming-imingi sesuatu. Dia kini mengaku puas akan ganti rugi yang diberikan Bakrie.

Mengejutkan memang.

Sambil menikmati hidangan berbuka puasa, TV One sebuah televisi nasional milik Aburizal Bakri memberitakan masalah Lumpur Lapindo secara mendalam, dan yang menjadi topiknya adalah seorang Hari Suwandi (42 tahun) seorang lelaki yang mengaku korban lupur Lapindo yang melakukan aksi jalan kaki selama 25 hari dari porong Sidoarjo ke Jakarta. Dua orang anchor cantiknya menyampaikan kalimat, siapakah sebenarnya Hari Suwandi? Apakah Hari Suwandi benar-benar memperjuangkan korban lupur lapindo ? “berikut liputan mendalamnya untuk anda”, sementara itu di layar kaca tertulis ” Politisasi Lumpur Sidoarjo”.

Kelihatannya aksi seorang hari Suwandi cukup mengganggu sang bos TVOne. Sehingga TV One harus mengupas secara mendalam seputar Hari Suwandi dan penanganan masalah korban lumpur Lapindo. Sehingga hipotesis yang muncul adalah bahwa telah terjadi politisasi kasus lumpur lapindo, dan apa yang dilakukan oleh seorang Haris Suwandi pun harus di kupas tuntas.

Dari pemberitaan mendalam itu kita menangkap kesan bahwa TV One melakukan upaya perlawanan opini yang selama ini terbangun terkait dengan penanganan korban lumpur Lapindo. Disadari atau tidak pemberitaan tentang kasus ini sudah mengarah pada persoalan politik, berdampak pada penggerusan citra Aburizal Bakri yang sudah digadang-gadang sebagai Capres dari Partai Golkar.

TV One mengetengahkan bagaimana kondisi di lapangan sesungguhnya, terkait berbagai elemen yang menjadi korban lumpur Lapindo, diawali dengan shoot kegiatan istighosah korban lumpur Lapindo, dan pernyataan sekretaris bersama organ yang tergabung dalam korban lumpur Lapindo, berikut berbagai elemen yang mengurus korban dan pihak-pihak yang berperan menyelesaikan persoalan ini secara teknis dari pihak perusahaan. Semua yang dimintai komentar oleh TV One mempertanyakan apa yang dilakukan oleh Hari Suwandi

Hari Suwandi memang tercatat salah seorang korban lupur Lapindo, itupun atas nama istrinya. Dan penggantian kerugian untuk an istrinya tersebut telah lunas dibayarkan pada tahun 2009 yang lalu sebesar lebih dari 150 jt. Hanya memang ada pihak keluarganya yang lain yang belum tuntas pembayaran ganti ruginya. Fakta tersebut memang nyata adanya, dari sekitar 9000 korban lumpur Lapindo, yang belum mendapatkan ganti rugi ada sekitar 4000 kk lagi, dan secara bertahap sedang dilakukan upaya percepatan untuk segera menuntaskannya.

Tapi memang sayang, sudah berjalan 6 tahun, kejadian Lumpur Lapindo belum tuntas seluruhnya, sehingga persoalan ini menjadi faktor yang menggerus secara politik terhadap sang bos TV One Aburizal Bakri yang notabene juga bos PT Lapindo.

Persoalan Lumpur lapindo memang kelihatannya menjadi makanan empuk secara politik dan ekonomi yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, berbagai LSM atau lembaga yang masuk ke para korban lumpur Lapindo melakukan agendanya masing-masing, sehingga terkesan para korban lumpur Lapindo dimanfaatkan dan dibuat pecah belah. Melihat kenyataan itu memang kita menyayangkannya. Karena bagaimanapun persoalan lumpur Lapindo itu merupakan persoalan musibah alam yang sulit sekali dihindari, hanya tinggal bagaimana proses ganti rugi itu segera di selesaikan.

Namun tentu disayangkan juga, jika sampai penyelesaian kasus ini terus berlarut-larut, sudah 6 tahun para korban masih ada yang belum menerima haknya, apalagi diduga dan ada persepsi seolah-olah penyelesaian kasus ini ikut ditangani sebagiannya bersumberkan dari dan dengan menggunakan uang rakyat melalui APBN. Sehingga tak heran apabila kasus ini merembet ke mana-mana dan menyerempet pada penggerusan citra politik Aburizal Bakri.

Apakah jalan kakinya Hari Suwandi juga by design yang dibelakangnya ada kepentingan politik, sehingga hal tersebut akan menjadi wacana nasional dan akan terus di push menjelang pelaksanaan Pemilu dan Pilpres 2014? mungkin hanya Hari Suwandi yang tahu dan para aktor politik yang bermain dalam masalah ini.

Kita hanya berharap, bahwa pada akhirnya semua korban lumpur Lapindo segera mendapatkan penyelesaian ganti ruginya, atas semua rumah, tanah, sawah yang terendam lumpur lapindo. Jika secara politik hal itu bersinggungan dengan kepentingan politik Aburizal Bakri, maka hal itu kenyataan yang sulit sekali untuk di hindari. Dan Biarkan masyarakat menilainya sendiri. Sementara, jika selama ini TV One terkesan menutup pemberitaan seputar Lapindo ini, kini TVone menyajikannya dengan angel yang berbeda dari pemberitaan media-media mainstream lainnya…

Iklan