Setelah legsernya Soeharto dan setelah B.J. Habibi menjabat setahun, digelarlah pemilu pertama kali di era reformasi. Dalam kepemimpinan negeri ini, sebenarnya intelijen dan militer masih mengarapkan B.J Habibi tetap menjadi presiden RI. Akan tetapi prediksi serta analisa para intelijen menemui suatu ke-galauan jika dipaksakan menjabat.

Salah satu kekecewaan rakyat pada habibi adalah hilang dan lenyapnya Timor-timor dari pangkuan NKRI, yang dihawatirkan kondisi negara ini semakin tidak menentu, bisa jadi kerusuhan ‘98 terulang kembali jika habibi dipaksakan terpilih.

Sementara sosok habibi dimata intelijen adalah demokrat sejati, sehingga negara yang demokratis jika dipimpin oleh seorang yang demokrat tentu ketakukan melencengnya demokratis tidak akan terjadi. Intelijen telah memberitahu dampak yang akan timbul, habibi sendiri menerima masukan dari intelijen yang berupa dampak serta ilustrasi apabila habibi memaksakan atau dipaksakan terpilih.

Seperti yang kita ketahui kala itu, berkat Amien Rais terbentukalah koalisi partai-partai islam disamping golkar juga mendukung, pada akhirnya Abdurrahman Wahid terpilihlah menjadi Presiden RI. Namun sebenarnya intelijenlah dibelakang semua itu.

Gus Dur adalah sosok orang yang pintar, Gus Dur mengetahui akan permainan dunia intelijen. Setelah mengetahui kinerja intelijen era soeharto yang mengecewakan serta terpilihnya dirinya yang ternyata suatu permainan, yang sangat disayangkan Gus Dur begitu arogan memandang sebelah mata serta memperlihatkan ketidak percayaannya kepada intelijen, bahkan berniat membubarkan BIN -kala itu bernama BAKIN-.

Dalam usaha mereformasi militer dan mengeluarkan militer dari ruang sosial-politik, Gus Dur menemukan sekutu, yaitu Agus Wirahadikusumah, yang diangkatnya menjadi Panglima Kostrad pada bulan Maret. Pada Juli 2000, Agus mulai membuka skandal yang melibatkan Dharma Putra, yayasan yang memiliki hubungan dengan Kostrad. Melalui Megawati, anggota TNI mulai menekan Gus Dur untuk mencopot jabatan Agus. Gus Dur mengikuti tekanan tersebut, tetapi berencana menunjuk Agus sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Petinggi TNI merespon dengan mengancam untuk pensiun, sehingga Gus Dur kembali harus menurut pada tekanan.
Hubungan TNI dengan Gus Dur terlihat adanya ketidak harmonisan. Kesalahan terbesar Gus Dur adalah kepercayaan diri yang terlalu tinggi menganggap mampu mengatasi dan membangun negeri ini dari awal sendiri, namun bagai seorang bayi yang baru dilahirkan, apakah mampu hidup di alam liar yang ganas tanpa seseorang penjaga?

Tahun 2000
munculnya kasus bulogate dan brunaigate.

skandal pencopotan mentri

darurat militer maluku semakin memburuk

Amien Rais yang semula mendukung kini jadi pihak oposisi

Terperosoknya Gus Dur dalam kasus demi kasus membuatnya tergeletak, tak mampu lagi untuk bangkit. Lemahnya kemampuan administratif, kurangnya pengalaman dalam mengorganisir dengan baik, serta banyaknya orang-orang yang menyesatkan di sekeliling Gus Dur telah membuat Gus Dur membuta-tuli atas suara intelijen.

pada bulan Maret 2001, Gus Dur mencoba membalas oposisi dengan melawan disiden pada kabinetnya. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra dicopot dari kabinet karena ia mengumumkan permintaan agar Gus Dur mundur. Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail juga dicopot dengan alasan berbeda visi dengan Presiden, berlawanan dalam pengambilan kebijakan, dan diangap tidak dapat mengendalikan Partai Keadilan, yang pada saat itu massanya ikut dalam aksi menuntut Gus Dur mundur
Semua terlambat kala pemerintahannya goyah, bahkan Gus Dur sampai minta bantuan intelijen yang semula di kecewakan, namun apa yang terjadi? Gus Dur yang tidak punya rasa hormat pada intelijen disaat Gus Dur berjaya kini saat Gus Dur di ambang jurang kejatuhan meminta.Hmmm terlambat.

Gus Dur mulai putus asa dan meminta Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyatakan keadaan darurat. Yudhoyono menolak dan Gus Dur memberhentikannya dari jabatannya beserta empat menteri lainnya dalam reshuffle kabinet pada tanggal 1 Juli 2001
Pada akhirnya roda kepemimpinan tidak mampu tertahan lagi untuk berputar. Sekali lagi kekuasaan seorang presiden harus digulingkan secara tidak hormat. Gus Dur pada akhirnya merasakan kejamnya dunia politik serta pahitnya rasa pil yang harus ditelan mentah-mentah.

Akhirnya pada 20 Juli, Amien Rais menyatakan bahwa Sidang Istimewa MPR akan dimajukan pada 23 Juli. TNI menurunkan 40.000 tentara di Jakarta dan juga menurunkan tank yang menunjuk ke arah Istana Negara sebagai bentuk penunjukan kekuatan. Gus Dur kemudian mengumumkan pemberlakuan dekret yang berisi (1) pembubaran MPR/DPR, (2) mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat dengan mempercepat pemilu dalam waktu satu tahun, dan (3) membekukan Partai Golkar sebagai bentuk perlawanan terhadap Sidang Istimewa MPR. Namun dekret tersebut tidak memperoleh dukungan dan pada 23 Juli, MPR secara resmi memakzulkan Gus Dur dan menggantikannya dengan Megawati Sukarnoputri
seperti inilah mungkin kalimat terakhir diperuntukkan untuk Gus Dur saat pelengserannya berhasil

Ma’af beribu ma’af Gus Dur, inilah dunia politik bukan dunia pesantren. sayonara Gus Dur….

Bagai seorang anak tiri yang ditelantarkan, intelijen menemukan jati dirinya saat Megawati mau mendengarkannya. Pada saat kondisi krusial Megawati mengambil jarak dari Gus Dur, intelijen sudah mempersiapkan ini, Megawati sendiri mengetahui dan mengikuti kode dari intelijen. Megawati yang dibelakangnya didukung oleh intelijen dan militer yang merupakan kekuatan sejati suatu negara disamping itu orang-orang intelijen dan militer yang memiliki segudang strategi memperlancar Megawati menempati singgasana orang nomor satu di negara ini. Sebagai jasa atas keberhasilannya, salah seorang otak keberhasilan diangkat menjadi Kepala Intelien Negara.

Iklan