JAYAPURA-Zona Damai : Koordinator Yayasan Hati Teratai Papua (YHTP), Silvester Wongan mengatakan ada banyak kesombongan Intelektual orang asli Papua yang menyebabkan pembangunan Papua terhambat. Intektual masih sebatas mendiskusikan pengetahuannya daripada melaksanakan pengetahuannya.
“Papua hancur karena kesombongan intelektual Papua. Para sarjana ini sombong dengan gelarnya dan pengetahuannya daripada sombong dengan karyanya,” kata pria asli Keerom ini, Sabtu (24/3/2012).

Menurut Wongan, kesombongan itu terlihat dari banyak sarjana membawa semua pengetahuan akademisnya ke tengah masyarakat. Ia memaksakan masyrakat mendengar dan melasanakan semua pengetahuannya yang belum tentu baik untuk perubahan masyarakat.

“Semuanya belum tentu cocok. Cocok bagi masyarakat lain bisa jadi belum cocok untuk mebangun masyarakat lain, misalnya di Keerom ini. Kita tidak bisa memaksanakan hanya untuk menunjukan kita hebat,” katanya.

Menurut Silvester, para intelektual tidak hanya memaksakan melainkan mengatakan ilmunya yang lebih baik daripada ilmu yang lain. Perdebatan ditataran intelektual mengabaikan konsep masyarakat mengenai pembangunan diri dan negerinya. Semua yang baik dari masyarakat disingkirkan. Semua yang dari luar disodorkan.

“Sarjana-sarjana selalu berdebat mengenai pengetahuannya. Sarjana Ekonomi mengatakan pengetahuannya yang lebih baik untuk merubah masyarakat daripada ilmu lain. Ini masalah pembangunan yang tidak pernah berhasil,” katanya.

Sementara Direktur KPKC Papua, Bruder Eddy OFM mengatakan tidak semudah itu mengatakan ada kesombongan inteltual.
“Bukan kesombongan tetapi implementasi dari kebijakan yang salah,”

Iklan