Ada informasi menarik ketika menyaksikan berita di TV, pemerintah mengumumkan bahwa pertumbuhan perekonomian di Indonesia mengalami peningkatan yaitu sebesar kurang lebih 6%, suatu kebanggaan tersendiri bagi pemerintahan saat ini.

Namun di sisi lain, semua berita “membahagiakan” tersebut tak ikut dirasakan rakyat kecil. Mereka tak peduli dengan laju inflasi, indeks bursa saham, atau semua kemajuan yang dibicarakan para pemimpin negeri, karena mereka tak mengerti itu. Yang mereka tahu keadaan Indonesia sekarang ini masih jauh dari baik, harga pangan membumbung tinggi, lapangan pekerjaan begitu sulit ditemui, dan kemiskinan yang dirasa terus mendera.

Sebuah berita menayangkan tragedi mengenai orangtua yang kehilangan keenam orang anaknya karena memakan tiwul (sejenis olahan singkong) beracun, dan mirisnya hal itu disebabkan karena orangtua tersebut tak mampu membeli beras untuk makan anak-anaknya. Lalu ketika menyaksikan salah satu tayangan TV tentang orang-orang pinggiran, terlihat jelas bahwa masih banyak rakyat Indonesia yang mesti bersusah payah mengais rezeki hanya agar bisa memberi anaknya sesuap nasi.

Lalu sejauh mana pemerintah peduli dengan semua itu?
Ketika sebagian besar warga miskin Jakarta mesti hidup di kolong jembatan, para wakil rakyat tengah sibuk merencanakan pembangunan gedung WAKIL RAKYAT dengan fasilitas mewah (kafe, fitness area dan kolam renang) yang menghabiskan dana 1,7 Triliun !!

Ketika seorang warga Purwokerto mesti dijebloskan ke penjara karena mencuri gabah dengan alasan tak memiliki apa-apa lagi untuk dimakan, seorang koruptor kelas kakap Gayus Tambunan dapat dengan mudahnya melenggang bebas ke Bali hanya untuk sekedar menonton pertandingan tenis.

Ketika banyak dari TKW mesti kehilangan kebahagiaan, kebebasan, bahkan kehilangan nyawa hanya untuk mencari secercah harapan akan nasib yang lebih baik di luar negeri, para orang yang mengaku wakil rakyat dengan mudahnya berplesiran ke luar negeri untuk menghabiskan dana APBN.

Masya Allah, itulah Indonesia! Kondisi di masyarakat dan pemberitaan di media saya rasa sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan realitas menyedihkan tersebut. L

Ah, padahal mayoritas pemimpin negeri kita mengaku sebagai umat muslim, tak adakah dari mereka yang membaca kisah hidup Rosulullah SAW? atau setidaknya meneladani Umar ra, yang rela menghabiskan malamnya untuk melihat kondisi rakyatnya.

Bukankah setiap pemimpin akan dimintai tanggung jawab atas setiap yang dipimpinnya?? :’

Iklan