DEMAK – Ratusan hektare tambak di Kecamatan Wedung musnah diterjang abrasi Laut Jawa beberapa tahun terakhir. Menurut Wakil Ketua Komisi C DPRD Demak, M Fathan, ombak menggilas tambak mencakup di wilayah Desa Kedungmutih, Babalan hingga Berahan Wetan.

Para pemilik tambak tak cuma me­ngeluh, sebagian mengalami stres, bahkan ada yang meninggal dunia karena merenungi nasib, mata pencaharian utama mereka hilang ditelan air laut saat terjadi rob tinggi.
”Kurang lebih 200 hektare tambak war­ga musnah. Bencana abrasi yang se­mula dirasakan masyarakat Ke­camat­an Sayung kini giliran dirasakan warga Wedung,” kata Fathan, ke­marin.

Dia mengungkapkan, penyebab abrasi dimungkinkan pembentukan delta atau tanah timbul di muara Sungai Wulan.
Delta menjadikan laju ombak mengarah ke timur menghantam tambak milik warga. Delta terbentuk dari lumpur, luasnya bertambah dari tahun ke tahun.

Menurut dia, untuk mengantisipasi lebih menumpuknya lumpur yang menjadikan abrasi meningkat, harus dilakukan penyudetan sungai sebelum muara.
Penyudetan akan mengurangi lumpur bawaan dari hulu. ”Hanya saja upaya ini butuh biaya besar namun menjadi solusi untuk penanganan abrasi,” katanya.

Politisi Partai Demokrat itu mengingatkan, tanpa penanganan tepat tiga desa yakni Berahan Wetan, Babalan, dan Kedungmutih nasibnya akan serupa dengan Desa Bedono, Kecamatan Sayung yang hilang dari peta wilayah Kabupaten Demak. Abrasi yang tak tertangani menjadikan Desa Bedono tenggelam beberapa tahun silam. Kini menyusul ancaman sama di tiga desa pesisir di Kecamatan Wedung.

Muncul Cekungan

Dari pantauan Suara Merdeka ketika menyusuri pantai Wedung menumpang perahu nelayan, menemukan garis pantai tidak lagi rata, melainkan muncul cekungan-cekungan. Cekungan itu dulunya adalah tambak milik warga yang kini tergenang air laut akibat abrasi. Sedikitnya terdapat sembilan cekungan di garis pantai dengan panjang tiga kilometer di wilayah Desa Berahan Wetan, Babalan hingga Kedungmutih.
Rusaknya lingkungan di pesisir Wedung juga diakui Kades Kedungmutih, H Hamdan. Abrasi menjadikan petani tambak mengalami stres berat. Dia mengemukakan, di desanya terdapat puluhan warga yang mengandalkan tambak sebagai mata pencaharian utama.

Tambak dijadikan lokasi untuk menebar benih bandeng, udang, dan ikan air payau lainnya. Lantaran tambak pula, warga bisa menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Namun kini terhantam abrasi, tambak petani hancur luluh. Garis pantai bahkan sudah maju hampir satu kilometer menggilas lahan-lahan milik warga.
”Ada yang langsung meninggal dunia saat mengetahui tambaknya bablas digenangi air laut. Sisanya ada yang sampai stres tak mau bicara apapun menghadapi kenyataan tambaknya hilang,” jelas Hamdan.
Dia mengungkapkan, mengelola tambak butuh modal besar. Tak cukup jutaan rupiah melainkan puluhan juta. Menyaksikan lahan untuk mencari nafkah porak poranda, tentunya memilukan bagi warga yang sudah mengeluarkan uang banyak.

Pemerintah Desa Kedungmutih berharap Pemkab Demak, Pemprov Jateng, dan Pemerintah Pusat mau mendengar dan mengatasi keluhan masyarakat. Menurut Hamdan, keterlibatan Pemprov dan Pusat penting karena perairan di wilayah Desa Kedungmutih sepenuhnya masuk wilayah perairan Kabupaten Jepara. Adanya sinergi penanganan antarwilayah diharapkan persoalan abrasi dapat segera teratasi.

Salah seorang pemilik tambak, Ulin Nasrullah (32), warga Kedungmutih mengakui kehilangan harapan untuk bisa mengelola tambak dengan baik. Abrasi selama bertahun-tahun menjadikan empat hektare lahan miliknya tinggal tersisa 1,5 hektare. Kondisi itu memengaruhi hasil panen ikan yang tak lagi seberapa dan terus menerus rugi.
Terpisah, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Demak, Mudiyanto mengakui akan menerjunkan tim untuk melihat tingkat abrasi yang ada di Wedung. Menurutnya tim akan bertugas mengumpulkan data-data penting sehubungan kemungkinan kerusakan yang terjadi.

Iklan