KUDUS-Hingga kini Pemerintah Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus masih mencari jalan keluar untuk mencegah terjadinya serangan kera liar yang mengakibatkan rusaknya sejumlah lahan. Di samping itu keberadaan mereka juga cukup meresahkan warga, karena dinilai mengganggu kenyamanan.

Kepala Desa Rahtawu, Sugiyono menjelaskan, dari pemantauan di lapangan keberadaan kera itu masih saja dijumpai di permukiman penduduk. Terlebih beberapa kali mereka nyaris tertangkap warga saat akan mengambil sejumlah tanaman perkebunan, seperti jagung yang belum siap dipanen.

“Memang ini bukan pekerjaan yang mudah, sebab memerlukan strategi untuk menekan serangan kera liar tersebut,” katanya.

Dia menjelaskan, beberapa waktu lalu sudah melakukan pengecekan di beberapa lahan hutan di Desa Rahtawu. Ternyata munculnya kera ini diakibatkan beberapa faktor. Pertama, mereka memang kehabisan makanan. Kedua, habitat mereka banyak terjamah manusia.

“Akibatnya mereka turun dan tanpa canggung lagi memasuki permukiman penduduk untuk mencari makanan. Salah satunya dengan cara mengambil buah tanaman perkebunan yang ditanam penduduk setempat,” terangnya.

Mitos

Sugiyono menjelaskan, beberapa kali kera itu sempat diusir dengan cara diburu. Namun cara itu tidak disetujui warga, sebab sebagian dari mereka masih percaya mitos kalau kera-kera itu penjaga hutan.

“Jadi mereka khawatir jika kera itu diburu, apalagi kemudian dibunuh justru akan mendatangkan malapetaka,” ungkapnya.Oleh karena itu, pihaknya masih memikirkan cara menekan serangan sejumlah kera itu. “Yang pasti tidak beresiko,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, pola aktivitas kera saat turun dari perbukitan adalah mengelompok dan tidak hanya hidup di atas pohon. Tetapi juga bisa beraktivitas, seperti hewan mamalia lainnya.

“Jika kondisinya sudah demikian biasanya warga hanya bisa menghalau. Sebab bila didiamkan mereka akan berulah mengambil hasil bumi apa saja, termasuk jagung yang sebenarnya sudah siap panen,” paparnya.

Mengenai jumlah kera yang biasanya menyerang, dia menjelaskan selama ini yang dilihat ada sekitar 20 – 50 ekor. “Sebenarnya jumlahnya lebih, hanya saja hidup mereka menyebar,”