Surya Paloh membentuk Nasdem menyusul kekalahannya untuk merebut jabatan Ketua umum DPP Partai Golkar yang dimenangkan Aburizal Bakrie. Sejak awal, berbagai kalangan sudah menengrai bahwa Nasdem tidak cuma jadi ormas namun menjadi parpol karena melihat motivasi politik Surya Paloh yang tampak kuat dalam konteks konstestasi Golkar ini. Seolah berbalik arah, Surya Paloh yang tadinya begitu ambisi dalam dunia politik yang sudah menjadi karakter politikus menghimpun massa dukungan untuk kekuasaan, tiba2 berbalik arah 180 % berkiprah menghimpun massa untuk berbuat sosial. Kiprah sosial yang yang dilakukan Nasdem, walaupun nilai secara material tidak signifikan, namun kegiatan tersebut cukuplah menjadi jargon pengenalan Nasdem didalam masyarakat melalui media yang dimiliki Surya Paloh. Dengan label sosialnya, Surya Paloh dapat saja mengarahkan media yang dimiikinya untuk menjadi corong oposisi pemerintahan dibalik ambisi politiknya yang dibungkus wadah sosialnya itu. Faktanya memang terlihat demikian sehingga menimbulkan ketegangan dengan Meseskab Dipo Alam beberapa waktu berselang walaupun gugat menggugat antara keduanya hilang ditelan keriuhan poitik negeri ini. Dipo Alam mengancam media yang terus menjelek-jelekkan pemerintah dengan aksi boikot iklan dinilai sebagai sebuah pelecehan terhadap institusi media. Metro TV yang merasa menjadi sasaran ancaman Dipo Alam, langsung mengajukan gugatan sebesar Rp 101 triliun. Sebuah keadaan dimana gerak politik dan sosial telah terjadi pengkaburan yang menimbulkan kisruh yang saling menjatuhkan dan saling menyalahkan yang melibatkan Metro TV yang dimiliki Surya Paloh.

Kekisruhan yang terjadi didalam internal partai Demokrat, agaknya menjadi moment tepat untuk mengambil posisi dalam kancah politik nasional. Mirip dengan trik memanfaatkan Metro TV untuk menjaga ambisi politiknya, Surya Paloh menggeser nama Nasdem menjadi Parpol sebagai kendaraan politiknya. Walaupun ormas Nasional Demokrat tidak bubar, pembentukan Parpol Nasdem tentu saja memanfaatkan pengurus ormas Nasional Demokrat. Merasa dicatut namanya untuk ambisi politik Surya Paloh, Sri Sultan Hamengku Buwono langsung undur diri dari ormas Nasdem yang diikuti oleh hampir 90 % pengurus lainnya. Efek psikologis dari pengunduran diri Sri Sultan ini yang tidak diperhitugkan oleh Surya Paloh yang pada akhirnya ditinggalkan tokoh2 nasional yang tadinya berjalan beriring dalam kegiatan sosial yang merupakan landasan ormas nasional demokrat itu. Surya Paloh secara eksplisit telah mengklaim ormas Nasional Demokrat sebagai onderbow Partai Nasdem yang justru menimbulkan kepengurusan ganda didalam ormas ini. Tampaknya, ambisi Surya Paloh mnjadi layu sebelum berkembang, penggunaan Media untuk mengangkat Nasdem tidak dibarengi komitment yang dibuatnya sendiri. Ketua Umum Nasdem Surya Paloh rupanya sudah diperingatkan soal yang sensitif ini. Menyusul Sultan, kini mundurnya Ketua DPW Nasdem Jabar Mayjen TNI (Purn) Sudrajat, malah diikuti sekitar 90% pengurusnya, yang sependapat dengan ketuanya bahwa perubahan organisasi masyarakat (ormas) Nasdem menjadi partai politik (parpol) di luar kesepakatan awal pembentukannya.

Mungkin nasi sudah menjadi bubur, wacana pendirian partai Nasdem telah membuka kedok ambisi Surya Paloh yang mebuat hampir seluruh pengurus Nasional Demokrat hengkang atau kabur karena kecewa. Ormas Nasional Demokrat sebagai wadah massa yang sudah muak dengan parpol yang semua sudah berlabel kekuasaan dan uang, kini orams itu dibawa kedalam jurang yang sama. Para analis politik pun mensinyalir, bila Nasdem jadi partai tidak akan laku karena masyarakat sudah anti politik. Kekecewaan masyarakat pada partai politik sudah pada titik nadir, tidak ada lagi yang istimewa dengan Nasional Demokrat, ormas inipun terancam bubar oleh ambisi politik Surya Paloh. Metro TV dan Surya Paloh kini harus berjalan tanpa dukungan tokoh2 yang semula berada disekelilingnya.