Penulisan sejarah boleh saja dikreasi oleh penguasa. Namun selalu ada celah untuk melakukan kritik, rekonstruksi atau bahkan menciptakan sejarah baru. Buku yang ditulis Amurwani Dwi Lestariningsih hadir dalam kerangka mengritik dan mencacah stigmatisasi atas Gerwani, sebuah organisasi wanita yang terseret luka dalam Tragedi Gerakan 30 September 1965.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sebagai drama politik dan perebutan kekuasaan, G30 S telah menciptakan segregasi luar biasa tidak hanya di level elit tetapi juga masyarakat. Terbunuhnya sekawanan jenderal menjadi pemantik bagi meletusnya “perang saudara” yang menghembuskan teror dan ketakutan. Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), yang dianggap dekat dengan Partai Komunis Indonesia—sebagai aktor yang dituduh paling bertanggungjawab atas gerakan G30 S—menjadi target prasangka, buruan dan objek balas dendam.

Gerwani cepat menjadi sasaran karena dalam sejarah organisasi ini dikenal vokal dan berorientasi massa. Gerwani aktif dalam menarik kaum wanita untuk perluasan ideologi dan perjuangan organisasi. Tahun 1957 Gerwani memiliki 663.740 anggota, padahal dua tahun sebelumnya hanya berjumlah 400.000 (hal. 47). Gerwani menjadi penarik suara massa perempuan yang signifikan bagi PKI dalam pemilu 1955 yang membuat partai ini berhasil meraih suara 16,4 persen atau empat besar partai politik pemenang pemilu kala itu. Dukungan Gerwani membuat para aktivisnya dapat masuk parlemen maupun MPR mewakili PKI.

Dinamika internal
Sebagai organisasi yang ikut berdinamika dalam pusaran politik, sikap-sikap Gerwani juga tak kurang menampilkan sisi-sisi pragmatis. Sebagai contoh, meskipun Gerwani gencar mempromosikan feminisme dan hak-hak perempuan tetapi suara mereka sumbang tatkala menyikapi perkawinan Presiden Soekarno dengan Hartini pada 1954. Sikap ini memunculkan banyak spekulasi, di antaranya menuduh Gerwani sengaja menjadikan Hartini sebagai “selir persembahan” bagi presiden pertama Republik Indonesia itu oleh Gerwani.

Pasca meletusnya G30 S, di media massa seperti Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata, Gerwani ditampilkan sebagai sekumpulan perempuan bengal yang menikmati penyiksaan atas para jenderal di Lubang Buaya (hal. 67). Propaganda ini berhasil menyeret sebagian masyarakat untuk memusuhi para aktivis Gerwani dalam arti psikis maupun fisik. Karena itu alasan penangkapan terhadap para perempuan kala itu seringkali dikaitkan dengan “pengamanan” terhadap mereka dari amuk massa yang sedang ganas memburu organ-organ komunis.

Penjara Plantungan
Setelah tragedi 1965, banyak perempuan aktivis diburu dan ditahan. Tidak peduli mereka ini aktivis Gerwani, mantan aktivis, atau yang disangka dekat dengan Gerwani atau PKI. Bahkan di antara mereka sama sekali tidak tahu menahu soal politik dan gerakan perempuan saat penangkapan terjadi.

Perburuan terjadi di Jakarta hingga daerah-daerah—yang perlu disangsikan kaum perempuannya tahu mengenai politik yang terjadi di pusat ibu kota. Di sinilah kemampuan buku ini dalam menampilkan pengalaman-pengalaman individual para perempuan korban politik dengan mengolahnya dari data-data lisan.

Penjara Plantungan di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menjadi laboratorium tersendiri untuk mengetahui nasib perempuan-perempuan itu. Kamp Plantungan menjadi saksi atas kisah tragik para tapol perempuan dalam mencecap penderitaan dan ketidakbebasan.

Dengan mengungkap pernak-pernik kehidupan para perempuan tapol di penjara ini, kita serasa dibawa untuk melihat secara langsung keadaan mereka dengan cara yang hidup. Beberapa korban menceritakan bagaimana kehidupan di dalam kamp, mulai pelarangan-pelarangan aktivitas di kamp, cara interogasi yang menjurus pada pelecehan seksual, cara memenuhi kebutuhan makan dan minum, hingga hubungan para tapol dengan masyarakat sekitar.

Buku ini juga tidak luput menuliskan kisah-kisah intim di balik relasi penjaga dan tahanan. Misal, adanya persaingan antartapol wanita di Kamp Plantungan untuk memikat hati komandan. Tetapi, ada pula saat dimana para tapol berusaha melunturkan kesan bengis dan kejam yang kadung dilekatkan dari pandangan masyarakat melalui program-program sosial.

Angin harapan baru muncul pada tahun 1975 sebagai konsekuensi dari kebijakan penyelesaian para tapol oleh negara, termasuk mereka di kamp plantungan. Hanya saja hal ini tidak pernah menyelesaikan persoalan. Karena diakui atau tidak, hingga hari ini di antara kita masih ada perasaan sinis dan terikat stigma terhadap mantan tapol wanita 1965.

Karena itulah buku ini menarik sisi kemanusiaan kita untuk memahami dan merasakan atas nasib tragis para perempuan korban politik 1965 dimana Kamp Plantungan menjadi saksi bisunya

Iklan