Hongkong dan Macau merupakan salah satu Negara penempatan TKI, saya beberapa teman dari Union Migrant (UNIMIG) dan anggota DPR Komisi IX Martri Agoeng dalam rangka mendapatkan masukan mengenai Revisi Undang-Undang No.39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI Luar Negeri minggu lalu mengunjungi Macau, setelah mengadakan beberapa kunjungan di shelter dan organisasi TKI di Hongkong, kami menyempatkan diri ke Macau. Macau merupakan salah satu wilayah SAR/Special Administration Region sama seperti Hongkong yang saat ini di bawah pemerintahan Cina, kalau Hongkong dibawah jajahan Inggris sedangkan Macau dibawah jajahan Portugis. Macau dikenal dengan wisata dan Kota Judi, dimana terdapat berbagai macam “Casino” yang biasanya digunakan oleh orang kaya untuk berjudi. Dari Hongkong kami menyeberang dengan menggunakan kapal Fery ke Macau, lebih kurang 1 jam perjalanan kami tiba di Macau dengan berbagai macam pernak pernik kota yang menarik wisatawan.

Kunjungan kami bukan untuk berwisata, jam menunjukan pukul 7 malam waktu Macau, didampingi Abdul Ghopur seorang Ustd yang malang melintang di Hongkong dan Macau, kami menaiki bis yang disediakan gratis ke pusat kota, Bis-bis tersebut ternyata milik berbagai Casino yang memberikan pelayanan bagi calon pengunjung, setelah menunggu beberapa jam, kami di jemput oleh 5 orang Buruh Migran Indonesia (BMI) yang dengan semangat menyambut kami, mereka perempuan Indonesia dengan jilbab rapi menyambut kami dengan salam dan penuh semangat, dengan sigap mereka merebut tas yang kami bawa untuk membantu membawakannya. Setelah berbincang, kami segera meluncur menggunakan taksi ke Markas Majelis Taklim Indonesia Macau (Matim) disana kami disambut dengan hidangan makan malam, ternyata BMI di Macau baru pulang kerja pada jam 8 malam, mereka tinggal diluar rumah majikan dan menyewa rumah yang dibiayai majikan. Di Matim kami berdialog mengenai permasalahan TKI di Macau, mereka mengeluhkan tidak adanya perlindungan bagi BMI di Macau yang jumlahnya mencapai 7000 orang, mereka menyuarakan suara hatinya mengenai perjuangan bertahan hidup di negeri orang. Gaji TKI di Macau lebih rendah dari TKI di Hongkong, mereka juga mengelukan pelayanan KJRI Hongkong yang kurang maksimal dalam pelayanan paspor. Di Macau tidak ada KJRI, namun setiap 2 kali seminggu pihak KJRI membuka pelayanan perpanjangan paspor, mereka mengeluhkan kinerja KJRI Hongkong, mereka baru membuka loket pelayanan jam 11 pagi, terus jam 1 siang istirahat, dan baru bukan lagi jam 3 siang sampai jam 5 sore, sementara TKI harus antri untuk mendapatkan pelayanan. Mereka mengeluhkan betapa lemahnya perlindungan, yang mereka harapkan bukan hanya pelayanan perpanjangan paspor namun konsultasi dan perlindungan mengenai kasus-kasus yang mereka alami, kenapa KJRI tidak mau memberikan pelayanan pengaduan kepada kami ? keluh mereka, bahkan kalau ada kasus akhirnya mereka meminta kepada LSM Philipina yang aktif membantu buruh migrant di Macau. Mereka juga mempertanyakan ada nya pungli dalam pengurusan KTKLN dan bahkan ada diantara mereka yang tidak diperbolehkan berangkat kembali ketika cuti ke Indonesia, namun setelah membayar uang ke petugas imigrasi baru diperbolehkan berangkat. Mereka mempertanyakan kenapa banyak diantara kawan-kawan mereka banyak yang tidak diperbolehkan lagi berangkat setelah cuti ? apakah pemerintah bisa menyediakan lapangan pekerjaan buat kami ? cetusnya. Seorang TKI bercerita untuk mendapatkan KTKLN ( Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri) dia harus membayar 1 juta rupiah di bandara karena terburu-buru dia akhirnya mengikuti saja tawaran calo tersebut. Mereka mengeluhkan waktu libur mereka hanya 2 minggu, untuk mendapatkan KTKLN mereka harus menyediakan waktu 2 hari karena mereka tinggal di perkampungan dan perjalanan ke kota sangat jauh sehingga waktu cuti mereka tidak maksimal.

10 bulan Potongan gaji

Setelah selesai dialog kami mengunjungi shelter IMWU dan ATKI sebuah organisasi BMI yang berpusat di Hongkong, jam menunjukan pukul 11.30 malam, dengan berjalan kaki dari shelter MATIM kami menemui 20 an BMI yang baru saja pulang kerja, mereka dengan semangat menyambut kami, mereka bercerita belum ada dalam sejarah anggota DPR dan Organisasi Buruh di Jakarta yang datang mau berdialog dengan mereka. Tempat yang terbatas dan antusias para pahlawan devisa membuat dialog semakin dinamis, BMI mulai dari bercerita, kalau di Matim masih seputar KTKLN dan KJRI, disini mereka membuat kisah yang memilukan, seorang BMI bercerita bahwa ia baru saja keluar dari penjara selama 2 hari karena menyediakan rumahnya untuk shelter untuk menampung TKI bermasalah, namun polisi Macau melepasnya karena dia dianggap hanya membantu BMI yang tidak tahu harus mengadu kemana karena di Macau tidak ada KJRI, BMI yang bermasalah dengan majikan tidak punya tempat untuk mendapatkan perlindungan. Mereka menceritakan rata-rata BMI yang bekerja di Macau di kenakan potongan hingga 10 bulan gaji, padahal kontrak awal hanya 1 tahun, dan kalau cocok baru diperpanjang, gaji mereka dipotong selama 10 bulan gaji, mereka harus bertahan hidup untuk bisa makan, karena mereka tingal di luar rumah majikan, akhirnya ada diantara mereka yang harus datang ke Casino tempat judi untuk sekedar mendapatkan makan dan minum gratis karena disana disediakan bagi para penjudi, ada diantara mereka yang harus bertahan hidup dengan berbagai macam cara. Diantara mereka menceritakan ada banyak WNI yang menjadi pekerja seks dan korban perdagangan manusia dan dijual ke tempat pelacuran di Macau. Namun setelah dilaporkan ke pihak KJRI di Hongkong tidak ada tindak lanjutnya. Mereka mempertanyakan kenapa pemerintah pusat tidak mau membuka kantor perwakilan (KJRI) di Macau, padahal mereka sangat memerlukan perlindungan dari pemerintah, selama ini mereka bertahan hidup dan hanya berharap belas kasihan dari agen, majikan dan pemerintah Macau tanpa adanya perlindungan dari pemerintah. Waktu menunjukan pukul 12.30 malam, kami harus berpamitan karena tiket Fery kami dari Macau jam 1 malam. Ada banyak kisah pilu mereka yang harus di dengar pemerintah,

Iklan