Surabaya – Setidaknya itulah yang diteriakkan Komunitas Kretek di Kota Pahlawan. Kebijakan pemerintah menentukan Hari Anti Tembakau dianggap sebagai upaya ampuh untuk mematikan petani kretek di Indonesia.

Sejumlah muda-mudi Suroboyo yang tergabung dalam Komunitas Kretek, siang tadi turun ke jalan memenuhi kawasan Taman Apsari. Tepat di hadapan Gedung Negara Grahadi, mereka berteriak memunculkan fakta-fakta bahwa impor tembakau justru kian meningkat.

“Hari anti tembakau sedunia yang jatuh pada 31 Mei ini tidak masuk akal. Produksi dan konsumsi rokok tidak mengalami penurunan. Justru, impor tembakau meningkat,” kata salah satu orator Komunitas Kretek, Kamis (31/5/2012).

Data yang berhasil terkumpul, lanjut dia, impor tembakau di tahun 2003 kala itu sebanyak 29.579 ton. Nyatanya di tahun 2008 lalu, impor tembakau naik lebih signifikan sekitar 250 persen menjadi 77.302 ton.

“Ini sebagai bukti negara kita tidak melindungi petani kretek kita. Mereka lebih memihak kepada perusahaan-perusahaan rokok besar,” teriak orator.

Selain itu, dua raksasa kretek asli Indonesia sudah dikuasai asing. Misalnya saja Sampoerna yang telah dicaplok Philip Morris sejak tahun 2005, Bentoel ditelan British American Tobacco di tahun 2009.

“Tidak hanya itu, ribuan pabrik kretek kelas kecil dan menengah semakin gulung tikar karena kenaikan cukai oleh desakkan WHO melalui Framework Convention on Tobacco Control (FCTC),” lanjut dia.

Menurut data yang berhasil dihimpun, di Jawa Timur pada tahun 2008 terdapat 2534 pabrik kretek. Namun, di akhir tahun 2011 lalu, hanya tersisa 1100 pabrik saja yang masih bisa bertahan.

“Pabrik kretek semakin dimatikan, akibatnya PHK massal tidak terelakkan,” tambahnya.

JAKARTA…Massa yang menamakan diri mereka Komunitas Kretek melakukan aksi menolak peringatan Hari Anti Tembakau Sedunia di Tugu Tani, Jakarta Pusat, Kamis.

“Hari Anti Tembakau Sedunia merupakan agenda perusahaan asing,” kata koordinator aksi Jibal Windiaz dalam orasinya.

Mereka menilai masuknya perusahaan rokok asing ke Indonesia untuk menguasai pasar tembakau yang ada di Indonesia.

“Kami tidak mau nasib petani tembakau dikuasai ditentukan perusahaan asing. Tembakau adalah berkah untuk Indonesia dan harus menjadi milik kita,” kata dia.

Persoalan rokok menurut Jibal bukan cuma permasalahan kesehatan tetapi nasib tujuh juta petani yang terancam masa depannya.

“Tembakau telah menghidupi jutaan buruh pabrik rokok yang ingin hidup makan dan menyekolahkan anaknya. Juga pedagang asongan yang hidup dari rokok,” tuntut mereka.

Aksi ini sempat membuat lalu lintas di bundara Tugu Tani tersendat dan beberapa polisi berusaha mengamankan jalannya aksi

Iklan