Sejak tahun 1998 rob sudah melanda Demak. Kerugian akibat rob dan abrasi di Kecamatan Sayung, Demak cukup besar. Nilai kerugian warga mencapai lebih Rp 300 miliar.

Kondisi itu dihitung sejak air mulai merambah daratan hingga menggenangi pemukiman, hitung-hitungan kasar kerugian mencapai ratusan miliar rupiah karena hantaman air laut selama bertahun-tahun, ujar Camat Sayung Arif Sudaryanto, kemarin.

Dia menjelaskan, banyak warganya yang kehilangan sumber mata pencaharian, termasuk terkikisnya ratusan hektar persawahan dan tambak karena ditelan air laut.

“Sejak rob mulai merambah daratan hingga menggenangi pemukiman beberapa desa yang letaknya menjorok ke laut menjadi korban pertama. Tak sampai empat tahun gejala rob dan abrasi muncul kawasan itu habis ditelan air pasang,” katanya.

Kawasan Desa Bedono adalah salah satu contoh, desa yang berbatasan langsung dengan garis pantai menjadi korban pertama. Puncaknya tahun 2005, warga pindah dengan cara bedhol desa.

Hantaman rob air laut mengharuskan warga meninggalkan pemukiman desa. Rob dan abrasi semakin tak terbendung menjadikan beberapa desa mulai merasakan dampaknya, antara lain Desa Sriwulan, Purwosari, Sidogemah hingga Timbulsloko adalah desa berikutnya yang menjadi incaran air pasang.

Lebih dari itu rob juga telah memasuki ke wilayah Desa Surodadi, Tugu, Gemulak, Sayung hingga Loireng. Desa Loireng berjarak sekitar tujuh kilometer dari pantai namun air laut mulai masuk menyerang penduduk setempat.

Penanganan Cepat

Sementara itu Kades Sriwulan Joko Sentot serta Kades Bedono Mualipin mengharapkan pemerintah segera melakukan penanganan yang cepat mengatasi rob. Sebab bencana air pasang tak bisa dianggap main-main.

Kurang lebih 10.000 jiwa di Desa Sriwulan selalu terkena dampak abrasi dan rob. Setiap hari mereka berteman dengan air ketika laut pasang. Sayangnya, belum juga ada penanganan tepat mengatasi derita warga.

Sentot menambahkan, salah satu upaya membendung gerak air laut adalah melanjutkan pembangunan talud di sebelah utara desa. Namun proyek itu sekarang terhenti terkendala dana dari pusat. Kelanjutan pembangunan talud ditunggu masyarakat untuk menghambat laju air laut.

Hal senada juga disampaikan Mualipin, penanganan rob dan abrasi harus terus diupayakan. Apabila tidak rob akan mengancam pemukiman penduduk. Sebab, ratusan warga Desa Bedono yang direlokasi sudah merasakan dampak rob dan abrasi.

Belum Tepat Sasaran

Menangapi keluhan warga, anggota DPRD Demak Rizkon Malik Fulaesuf mengatakan, penanganan rob dan abrasi terkesan belum tepat sasaran. Keluhan warga masih terus muncul, bahkan semakin meluas hingga ke beberapa desa.

Akibatnya, rob dan abrasi semakin mencemaskan masyarakat di beberapa desa termasuk wilayah Desa Loireng yang berjarak beberapa kilometer dari garis pantai. Untuk itu, Pemprov Jateng dan Pemerintah Pusat harus turun tangan dalam penyelesaian kebencanaan di Demak ini.

“Apabila tidak ditangani secepat mungkin, akan banyak desa yang akan tenggelam dibuat rob. Penanganan rob dan abrasi membutuhkan anggaran banyak, sekitar di atas Rp 70 miliar. Biaya yang tidak sedikit itu jelas membutuhkan bantuan APBN. Pemkab Demak jelas tak akan sanggup menanggulangi rob dan abrasi seorang diri,” ujar Rizkon.

Sementara itu, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak Joko Sari mengatakan, pihaknya saat ini masih menunggu perkembangan kelanjutan pembangunan talud penahanan ombak. Proyek yang berada di wilayah Desa Sriwulan itu sudah dikerjakan bertahun-tahun lalu namun belum kunjung rampung.

“Kami sudah mengajukan proposal ke Pemerintah Pusat untuk kelanjutan pembangunan talud. Saat ini BPBD masih menunggu kemungkinan proyek itu akan dilanjutkan,”